Terbaru

Contributors

Bahagianya Nikah di Hari Lebaran

Tribunnews.com

Ini cerita soal waktu yang saya tunggu-tunggu telah tiba. Sejak saya membaca novel-novel islami yang menceritakan kehidupan sebuah percintaan dalam pernikahan, yang membuat saya kebelet nikah, akhirnya akan saya rasakan juga mulai saat ini. Bagaimana kisah dalam Ketika Cinta Bertasbih yang menggugah birahi saya selama ini untuk mencari istri dengan pakaian syar'i, akhirnya tercapai juga.

Saat itu, saya memang punya angan-angan untuk menikahi putri seorang kiai ternama di Sumenep. Bahkan siang dan malam saya selalu ceritakan kebaikan-kebaikan perempuan itu kepada Ibu dan Bapak. Meski agak lama menunggu respon baik dari orang tua agar saya dinikahkan dengannya, akhirnya tercapai juga di hari raya ini. Dan tidak sia-sia lama waktu menunggu yang saya luangkan untuk perempuan idaman. Saya bahagia tiada tara.

Meski begitu, dalam bertahan melawan hawa nafsu agar tidak merusak kesucian hubungan saya dengan putri sang kiai ternama itu, yang saya lakukan dengan ketulusan LDR (Long Distance Religion), sangat sarat cobaan-cobaan. Dari cobaan film-film harmonis sebuah keluarga muda, film percintan Korea, hingga postingan akun-akun instagram yang menampilkan THR (Tunangan Hari Raya) setiap hari. Jujur, sebagai lelaki biasa, saya kesulitan menahan keinginan menikah, jika terus-terusan diserang dengan kalimat-kalimat puitis yang menganjurkan menikah.

Sebagai orang Madura, yang dikenal luas dengan praktik-praktik nikah mudanya, saya salah satu dari sekian orang yang belum Tuhan anugerahi pasangan untuk melaju ke jenjang pelaminan. Menikah muda memang banyak terjadi di Madura. Bahkan, bukan sekadar nikah muda, tunangan belia pun marak di daerah-daerah tertentu.

Banyak terjadi di sekitar tetangga saya, bayi sudah ditunangkan dengan sesama bayinya. Mereka jadi korban atas niat berlebihan orang tua mereka. Lumrah terjadinya pertunangan masa bayi itu karena si orang tua punya niat dengan kawan karibnya yang sama sedang hamil. "Nanti anakku kalau perempuan, dan anakmu jika laki-laki, kita tunangkan, ya?" Sudah. Selesai urusan pertunangan.

Berangkat dari situlah pertunangan ala orang Madura tidak bisa disamakan dengan tradisi pertunangan ala Jakarta atau Sunda. Kalau di sana pertunangan hanya berjarak paling mentok lima bulan ke acara pernikahan, di Madura bisa bertahun-tahun. Bahkan dari lahir sampai bergelar S2. Jangan heran dengan waktu yang cukup lama itu. Sebab orang Madura adalah tipe-tipe manusia setia pada pasangannya. Sulit batal walau tunangan bertahun-tahun lamanya.

Kesetiaan orang Madura dengan pasangannya itu, bisa dilihat bagaimana banyak pertumpahan darah yang terjadi akibat dari (berlebihan) kecemburuan. Faktor penyebabnya kebanyakan karena persoalan perempuan (baca: istri). Lelaki Madura akan memperlihatkan kekerasannya jika istrinya diganggu orang lain.

Dari itu saya bersyukur jadi orang Madura. Karena bisa kecipratan label setia dari banyak orang. Sebagaimana kesetiaan yang selama ini saya dambakan memiliki kekasih dengan pakaian syar'i, yang saat ini sudah saya petik buahnya. Saya menikah dengan diiringi gema takbir dari seluruh penjuru negeri.

Acara pernikahan yang saya gelar memang tidak terlalu istimewa. Selain karena waktunya begitu mendadak, karena bulan yang bagus untuk acara pernikahan, dan yang lebih menyakitkan adalah saya tidak punya uang untuk menggelar acara pernikahan yang megah. Saya hanya menikah di Kantor Urusan Agama Kecamatan Batang-Batang. Tidak mampu mengundang pembaca dan kru Voila.id sebenarnya adalah penyesalan yang akan berkepanjangan saya tanggung.

Namun, untuk memperluas yang menyaksikan acara pernikahan saya, saya melakukan siaran langsung melalui akun Facebook dan Instagram. Dari siaran langsung yang saya buat, saya menyaksikan banyak respon dari teman-teman dan mantan yang kecewa berat karena saya sudah menikah. Hati mantan saya pasti remuk saat itu juga, melihat saya memegang buku nikah berdua dengan istri saya yang sah. Tak lupa senyum yang rekah di wajah kami berdua. Berseri-seri.

Hingga akhirnya saya dan kekasih saya, sepulang dari KUA, harus berbasah-basah kehujanan. Lalu saya terbangun. Dan berbicara dengan jam dinding yang menyinggung saat saya sadar bahwa bapak menyiram air ke muka saya akibat terlambat salat subuh. Saya sadar, ternyata semua hanya bermimpi. Bunga-bunga kebahagiaan menikah di hari lebaran itu tidak pernah ada.

Minal aidin wal faizin, Taretan!

(Wardi, penulis lepas asal Sumenep yang saat ini tinggal di Yogyakarta)