Terbaru

Contributors

Berhentilah Menyebar Gambar Maling yang Dibunuh Itu


Dua hari belakangan beranda facebook saya dipenuhi gambar-gambar penangkapan maling oleh warga Desa Lapa Taman, Dungkek, Sumenep. Maling yang berasal dari Desa Taman Sare tersebut dihakimi massa karena masuk ke rumah seorang warga pada dini hari.

Gambar-gambar yang berseliweran itu sungguh membuat bulu kuduk berdiri. Maling itu tewas di tangan massa, setelah mengalami berbagai siksaan dengan tangan diikat ke atas pohon. Darah mengucur dari luka-luka yang menganga di tubuhnya. Tubuh itu tertunduk lunglai.

Melihat sepintas gambar-gambar tersebut, hanya ada satu kata yang terlintas dalam pikiran saya: ngeri!

Bukan kali ini saja saya menjumpai sadisme semacam itu diunggah orang ke media sosial. Saya kadang berpikir, apa motivasi orang melakukan itu? Apakah mereka merasa hebat dengan mengabarkannya kepada dunia, bahwa merekalah orang pertama yang mengetahui informasi itu? Apakah meraka tidak pernah berpikir tentang efek yang ditinggalkannya?

Gambar-gambar sadis semacam itu dalam dunia jurnalistik sangat dilarang karena memiliki banyak efek negatif. Dalam bermedia sosial, efek itu pun akan sangat terasa, yaitu:

Pertama, gambar tersebut merupakan aib bagi keluarga si maling. Coba bayangkan jika hal itu terjadi pada mereka yang menyebarkannya. Bagaimana perasaan saudara, istri, anak, orang tua, dan kaum kerabatnya. Pasti sangat terpukul. Meskipun kita sangat geram terhadap perbuatan si maling, bukan alasan menyebarkan gambar-gambarnya di media sosial. Apalagi jika maling tersebut sudah tewas. Tak mungkin dia mencuri lagi.

Kedua, gambar-gambar tersebut akan membuat trauma. Kaum kerabat si maling bisa menyimpan trauma bertahun-tahun jika gambar-gambar itu masih bertahan di internet, meskipun mereka tak ada sangkut-pautnya dengan kejahatan si maling. Mereka bisa membukanya kapan saja. Jejak digital kadang memang sangat kejam karena sesuatu yang heboh bisa menyebar cepat dan bertahan lama.

Trauma ini juga bukan semata-mata bagi keluarga korban, melainkan juga pengguna facebook yang lain. Mereka semua tidak mungkin sama beraninya dengan penyebar gambar sadis itu. Bisa jadi di antara mereka ada yang mengalami trauma terhadap hal-hal yang sangat sadis semacam itu. Hal ini akan membuat mereka sangat terganggu.

Ketiga, menyebarkan gambar-gambar sadis hanya akan membuat nilai kemanusiaan kita terlihat rendah. Orang yang berpikir panjang dan punya rasa kemanusiaan tidak mungkin menyebarkan gambar-gambar semacam itu karena memang nyaris tak ada manfaatnya, kecuali serbuan komentar dari pengguna media sosial lainnya. Dan biasanya inilah yang menjadi latar mereka melakukan itu karena postingan yang mendapat respon banyak akan membuat pengunggahnya merasa keren.

Keempat, menyebarkan gambar-gambar sadis melanggar pedoman komunitas media sosial. Semua media sosial populer seperti facebook, twitter, dan instagram melarang penggunanya mengunggah konten berbau kekerasan. Jika diketahui, konten-konten semacam itu akan segera dihapus.

Cuma, mereka belum punya fitur yang cukup canggih untuk mendeteksi gambar-gambar semacam itu secara cepat. Facebook, misalnya, masih membutuhkan laporan dari penggunanya untuk bisa menghapus gambar-gambar tersebut. Mereka baru menghapus setelah melalui pengecekan yang membutuhkan waktu beberapa hari.

Namun, meskipun lambat, sebaiknya kita tetap melaporkannya agar kemunculan gambar-gambar semacam itu tidak menjadi kebiasaan. Semakin banyak orang yang melaporkan, kian besar kemungkinan gambar-gambar itu akan dihapus.

Tak ada lain motivasi melaporkannya, kecuali kita ingin kedamaian di media sosial. Bukankah kedamaian itu lebih nyaman ketimbang kehebohan yang tidak perlu? Apalagi sekarang bulan Ramadan. Jadi, berhentilah mengunggah gambar maling yang dibunuh secara sadis itu.

(Rozi, warganet dan warga Sumenep)