Terbaru

Contributors

Empat Tipe Manusia Merayakan Lebaran

Merdeka.com

Bagi saya, kemeriahan lebaran sangat terasa tatkala alunan takbir bersahutan. Bakda Maghrib sampai setelah shalat Id. Setelah itu, terasa biasa saja. Tentu saja, setiap orang berbeda pengalaman dan kebahagiaannya dalam merayakan lebaran. Menurut saya, terdapat empat tipe orang dengan kebahagiaan berlebaran yang berbeda. Yah, itu menurut saya sesuai pengamatan selama kurang lebih 18 tahunan berlebaran (mulai saya bayi, hehehe).

Pertama, tipe orang yang sudah lanjut usia, katakanlah mereka yang sudah memiliki anak cucu cicit. Karena mereka telah lama dan sering sekali berlebaran, jadi mereka merasa biasa-biasa saja. Mereka telah kurang perduli terhadap baju baru, penampilan modis dan segala tetek-bengeknya. Mereka hanya sibuk menyiapkan sajian untuk para tamu yang akan berkunjung. Bagi mereka, lebaran akan membahagiakan dan agak sedikit menyusahkan. Membahagiakan, karena lebaran adalah momen berkumpulnya keluarga besar: anak-mantu, cucu-cicit, ponakan, dan sanak famili lainnya. Tidak ada kebahagiaan paling besar selain kebersamaan dengan anak cucu tersayang. Karena keberadaan mereka merasa dihargai dan diperdulikan dengan dikunjungi oleh yang lebih muda. Nah, tapi di balik itu semua, di lubuk hati terdalam, mereka ternyata resah juga, lho. Kenapa? Karena pada saat sanak keluarga berkunjung, mereka harus memberikan sesuatu pada sanak keluarganya yang masih kecil. Biasanya sih, yang diberikan adalah uang. He, tapi jangan bilang ke siapa-siapa. Ini rahasia kita sebagai penulis dan pembaca.

Kedua, tipe orang yang sudah berkeluarga. Usia mereka berada pada posisi matang. Mereka mempunyai anak dan masih belum punya cucu dan apalagi cicit. Saya rasa, tipe inilah yang paling ribet menghadapi lebaran. Baju baru untuk lebaran, harus ada, apalagi untuk anak-anaknya. Yah, kalau ada lebihnya baru deh para orang tua yang beli. Mereka juga harus menyiapkan hidangan lebaran, mulai dari hidangan berat seperti nasi dan  hidangan ringan berupa cemilan. Kenapa saya bilang rumit? Karena selain itu, mereka juga harus menyiapkan bingkisan untuk dijadikan oleh-oleh pada sanak kerabat yang akan mereka kunjungi. Hem, benar-benar memusingkan, apalagi bagi yang modalnya pas-pasan. Biasanya sih oleh-oleh yang mereka bawa adalah kue, sembako, atau nasi yang lengkap dengan lauk-pauk tentunya.

Nah, dari kedua tipe ini terjadilah simbiosis mutualisme, keduanya saling memberi keuntungan. Tipe kedua membawakan oleh-oleh pada kerabat dan orang tua saat berkunjung. Sedangkan para orang tua atau yang dikunjungi tersebut akan memberikan uang pada anak mereka saat hendak pulang. Kedua tipe ini sama-sama memberi alias bersedekah. Namun sejatinya, andaikata mereka tidak saling memberi, yang berkunjung tidak membawa oleh-oleh dan yang dikunjungi tidak memberikan apa-apa, mereka tetap akan merasa sangat bahagia. Karena nilai silaturrahim yang dilakukan jauh lebih berharga dari segalanya. Apalagi jika hanya dibandingkan dengan barang material. Tentu tak akan sebanding dan setara.

Ketiga, tipe orang yang telah bertunangan. Hemat saya, puncak kebahagiaan lebaran berada pada orang pemilik tipe ini. Karena pasangan ini telah mendapat legalitas dari masyarakat setempat untuk berboncengan (tapi tetap dosa lho ya, hehehe). Jadi gini, setelah shalat id, si laki-laki datang ke rumah si perempuan guna berkunjung sekaligus menjemputnya untuk berkunjung ke kerabat si laki-laki. Prosesi kunjung-mengunjungi ini bisa menghabiskan waktu seharian. Bergantung pada seberapa banyak kerabat, seberapa jauh lokasinya, dan, he, cukup tidaknya oleh-oleh yang dibawa pihak perempuan.Tentu pasangan ini sangat berbahagia. Sebab, momen lebaran ini merupakan kesempatan emas bagi keduanya untuk saling mengenal lebih dekat dan lebih jauh lagi. Kalau boleh berkata, momen yang paling berkesan di hati bukanlah saat kunjungan, melainkan tatkala boncengan (ini katanya lho ya, hehe).

Jadi, jangan ditanya soal persiapan menjelang lebaran. Masing-masing dari mereka akan berusaha untuk tampil sempurna. Selain untuk menarik perhatian pasangan, tentunya, juga untuk meluluhkan hati orangtua. Nah, meskipun yang berperan adalah tipe orang ketiga, bukan berarti tidak ada campur tangan pihak ketiga. Bahkan, di balik kesuksesan prosesi boncengan sampai kunjungan pasangan ini, terdapat peran penting dari kedua orang tua masing-masing. Pada pihak perempuan, sosok orang tua bertugas untuk mempersiapkan oleh-oleh untuk diberikan ke sanak kerabat pihak laki-laki. Sedangkan pada pihak laki-laki, orang tua bertugas untuk menyiapkan ‘sesuatu’ untuk dibawa pulang oleh si perempuan. Nah, lagi-lagi kita menemukan adanya kerjasama yang baik satu sama lain.

Tipe keempat adalah tipe calon idaman para mertua, alias jomblo-jomblo keren (joker, hehe). Persiapannya nggak banyak-banyak amat sih. Tapi kalau soal baju lebaran, jangan ditanya. Mereka juga ingin tampil sempurna, tentu bukan untuk menyenangkan mertua, tapi mengetuk hati calon mertua agar menjodohkan anaknya dengan para joker ini. Saat yang tepat untuk caper biasanya pas shalat id, karena  saat itulah orang-orang berkumpul semuanya untuk berlebaran sama-sama. Selepas shalat id? Ya, kembalilah seperti hari-hari biasa: dari nonton film atau saling berkunjung sesama joker. Atau, paling banter, ya, nulis catatan seperti yang saya lakukan ini. hehehe. Salam Joker.

(Uzlifatul Laily, mahasiswi Ushuluddin INSTIKA)