Terbaru

Contributors

Hari Raya untuk Para Jomblo

donisetyawan.com
Pada lebaran kali ini, Sinta Dewi tidak pulang ke kampung halaman. Ia memilih menikmati Jakarta yang sepi dan lengang. Mahasiswi Sekolah Tinggi Filsafat Islam Mulla Shadra asal Bengkulu tersebut sebenarnya ingin mudik seperti yang lain. Tinggal di Jakarta dalam suasana lebaran bukanlah hal yang menyenangkan. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ia ingin sungkem ke bapak dan ibunya di kampung, silaturahim ke rumah sanak saudara, bercengkrama dengan teman sejawat, serta menikmati alam desa yang segar dan menyenangkan. Sayangnya, kerinduan kepada kampung halaman dan hal-hal yang terkandung di dalamnya (heheh) harus dipendam dalam-dalam. Pasalnya, ia tidak kuat menghadapi serangan bertubi-tubi dari karib-kerabat, sanak-famili, dan teman sejawat yang selalu menembakkan pertanyaan maut untuk para jomblo: kapan nikah?

Awalnya pertanyaan tersebut tak pernah dihiraukan. Alasan masih melanjutkan studi tetap relevan dijadikan tameng untuk menangkis serangan. Namun pada akhirnya, sebagai wanita yang memiliki perasaan, ia tidak kuat menahan serangan. Ambruk dalam nestapa kejombloan. Derasnya pertanyaan memojokkan tersebut seolah-olah menegaskan bahwa jomblo adalah aib keluarga: tanda ketaklakuan, isyarat akan menjadi perawan tua. Puncaknya adalah lebaran ini: ia memilih tidak mudik demi menghindar horor pertanyaan kapan nikah.

Sinta Dewi tidak sendiri. Ada banyak kaum jomblo yang mengalami nasib seperti Sinta Dewi. Horor pertanyaan kapan nikah selalu diterima saat momen pertemuan keluarga atau reuni sesama teman sekolah, di musim lebaran. Pertanyaan terebut mengalir saja, seolah tanpa efek apa-apa. Padahal, bagi yang menjadi sasaran pertanyaan, pertanyaan tersebut serupa duri yang menusuk dari berbagai penjuru. Itu pun durinya beracun. Racunnya lebih keras dari sianida. Karenanya, sakit yang dirasakan terasa menyanyat, menyengat dan seperti tersayat. Sakitnya tuh di sana sini brooo…

Karenanya, bagi para jomblo, lebaran tak selalu identik dengan kegembiraan. Ia juga bisa mendatangkan kesedihan. Sedih bukan karena ditinggal Ramadan, tetapi karena belum menemukan semacam Muhammad Ramadan (untuk jomblowati) atau Nia Ramadani (khusus jomblowan) untuk menjadi pendamping di hari lebaran. Tak usah sedih, Bro, Sis. Karena kalian tidak sendiri. Ada banyak orang yang bernasib sama: menjadi jomblo karatan dari lebaran ke lebaran, meski usia sudah matang dan S2 menjadi pelampiasan menunda pernikahan. Ups....  

Sebenarnya tidak ada yang perlu dirisaukan oleh para jomblo. Percayalah, jomblo bukan aib keluarga. Jomblo adalah pilihan yang menyenangkan. Menurut Mayda, jomblo itu merdeka, free (tapi kalau kelamaan bisa freehatin, he). Mau silaturrahim ke manapun tidak ada yang memaksa. Beda dengan yang sudah tunangan. Harus main ke rumah mertua lah, sanak saudara lah. Pokonya tidak merdeka.

Lagi pula, memiliki pasangan bukanlah ajang pameran. Cukuplah pakaian, perhiasan, dan kendaraan yang dipamerkan di hari lebaran. Pasangan? Jangan lah. Karena sebenar-benarnya pasangan bukanlah ia yang bisa memukau banyak orang, tapi yang bisa membuatmu bahagia selamanya dalam berbagai kesempatan.
Untuk itu mblo, tak usah terburu-buru mengakhiri masa jomblo. Apalagi hanya karena terdesak oleh lebaran. Menikah itu bukan kewajiban tapi kenikmatan. Menjadi jomblo adalah pilihan, meski kadang menyakitkan. Lebih baik jomblo (pura-pura) bahagia, dari pada menikah tapi hidupnya sengsara.

Selamat Idulfitri 1438 H.

(Paisun, mantan jomblo yang sering dibully)