Terbaru

Contributors

Jangan Garang Menangkap Maling


Sebagai pemuda yang digariskan alam untuk menjadi bagian dari manusia-manusia kocak Madura, tentu saya bangga. Kekocakan orang Madura memang tidak diragukan lagi. Di mana-mana, biasanya, orang Madura selalu menjadi bahan tertawaan banyak orang. Hal ini yang saya alami sebagai orang Madura yang hidup di tanah Jogja. Di sini, tentu saya sebagai petugas penghapus bosan. Sebab di kota miniatur Indonesia ini, saya disebut-sebut sebagai teman paling kocak bin koplak. Di antara kawan-kawan dari Bandung, Palembang, Medan, Jakarta, Cilacap, Jogja, Banjarmasin, Lombok, NTT dan Papua, pasti orang Madura yang dituntut melawak pada forum tertentu.

Di mata kawan-kawan saya yang dari beragam daerah dan agama itu, masyarakat Madura telah dicap sebagai masyarakat paling lucu yang ditemui mereka. Tidak ada sentimen buruk untuk orang Madura. Betapa pun saya memperkenalkan kejadian-kejadian sadis di Madura. Eh, mereka malah semakin tertawa mendengar cerita-cerita tersebut.

Sebagaimana yang telah beredar di media sosial dan media-media pemberitaan, telah terjadi hukuman massa yang berujung meregang nyawa. Konon, yang meninggal adalah seorang  maling. Kejadiannya di Kec. Dungkek, Sumenep. Diduga maling itu tertangkap sekitar pukul 00.00 waktu setempat. Akibatnya, warga yang lucu-lucu pada merapat. Ribuan warga lucu memadati TKP. Pada saat penangkapan terduga maling, yang juga koplak itu, dengan lucunya sempat melakukan perlawanan dengan mengeluarkan senjata tajam. Karena kebanyakan melawak, pada akhirnya seperti yang terjadi saat ini. Maling koplak Madura meninggal diamuk massa.

Selepas kejadian, generasi-generasi pelawak potensial Madura yang turut menyaksikan pembunuhan massa itu, satu-satu menjepret tubuh terduga maling yang sudah tidak bernyawa. Kemudian mereka unggah ke akun-akun media sosial masing-masing dengan caption yang kocak parah. Akibatnya, beranda FB (Facebook) saya penuh dengan sileweran foto-foto orang setengah telanjang yang tangannya diikat ke pohon, kepalanya berdarah dan tubuhnya penuh luka menganga.

Gambar yang--kalau boleh menculik bahasa Cak Rozi di artikel sebelumnya--"Sadis", hampir membuat saya mau ikut mencaci maki dengan bahasa yang tak kalah lucu dengan caption gambar yang disebar kawan FB saya. Tetapi untung saya dapat hidayah hingga memilih memperlihatkannya terlebih dahulu kepada Hans Rudy Hegemur, salah satu kawan saya dari Fakfak, Papua Barat. Sayang, saya hanya dapat komentar tawa darinya. Padahal saya berharap dia berkomentar, "Wah, Madura ternyata orang-orangnya keras, ya?" Eh, malah tertawa dan bilang, "Lucu sekali orang Madura, mereka tidak kenal, ya, kalau Indonesia sudah punya hukum sendiri sejak 1945?" Rudy kemudian tertawa terpingkal-pingkal di depan saya.

Lalu, bagaimana cara menghentikan kelucuan-kelucuan di Madura yang kerap menimpa para maling ketika tertangkap? Tentu, ini adalah tugas penting pihak keamanan. Dalam hal ini adalah polisi dan pemerintahan yang menaungi seluruh masyarakat dan masyarakat itu sendiri. Misal, aparatur desa mendirikan Siskamling atau bisa juga menyewa keamanan dengan sistem kontrak. Toh, dana desa sekarang besar, bukan?

Sedang untuk pihak kepolisian jangan reaktif merespon usaha aparatur desa yang seandainya sudah mendirikan Siskamling dan segala macam itu. Polisi musti aktif dengan merespon baik inisiatif aparaur desa dalam mengamankan lingkungan dari para maling. Gampang, kok. Polisi tinggal membuat sebuah event dengan tema: "Menangkap Maling Dapat Uang". Pak Polisi tinggal menyediakan uang (sebagai hadiah), nyebar pamflet ke seluruh dusun dan cetak spanduk ukuran 4×3 dipasang di balai-balai desa ata di sepanjang jalan.

Dengan begitu, saya yakin akan banyak peserta yang ikut event kepolisian itu. Lucu? Memang. Karena untuk menghadapi situasi-situasi lucu, semisal seperti kejadian di Lapa Taman, Dungkek itu kita harus mencegahnya dengan yang lucu-lucu juga. Serius. Metode event ini pernah diterapkan di RT 32 RW 08, Desa Warungboto, Yogyakarta pada 2016 silam. Nah, barangkali dengan begini akan berkurang maling tertangkap yang musti mati dengan cara dipukul atau dibakar. Menangkap maling bisa ditukar hadiah di kepolisian. Tidak perang opini nyinyir di media sosial akibat foto sadis maling yang dihakimi massa. Serta akibat-akibat lain yang bisa menimpa banyak netizen, misal akibat psikologis bagi pengguna internet di bawah umur.

Spanduk tangkap maling berhadiah di Yogyakarta, (Istimewa/liputan6.com)

Sebab tidak harus garang menangkap maling. Setiap manusia memiliki hak yang sama. Dan hak paling utama manusia adalah hak untuk hidup. Salam.

(Wardi, penulis lepas kandas asal Tamidung, Sumenep. Saat ini mencari pengalaman di Yogyakarta.)

(sumber gambar utama: http://kriminalitas.com)