Terbaru

Contributors

Jomblo Kelas 'Japstyle'


Oleh: Mayda*

Saya tidak sedang membincang tetang status diri sendiri atau membincang statusmu. Ini hanya tulisan ringan yang serasi sekali bila disandingkan dengan kesendirianmu yang hanya mendapatkan ucapan selamat berbuka puasa dari sirup Marjan. Bukan cuma kamu, saya pun begitu. Bahkan di bulan Ramadan pun saya sering di-bully hanya karena status jomblo. Padahal, saya sendiri tak sedikit pun merasa nyinyir, ngennes dan apalah istilah paling sedih. Kamu tahu, jomblo itu asyik, sendiri, gaya, merdeka, up to me, dan yang paling penting  jomblo itu selalu terlihat elegan. Suatu kali, teman kelas saya pernah bilang, “Secantik apa pun perempuan, kalau sudah punya cowok rasanya cantiknya hilang seketika.”  Bahhhh... hahaha.

“Pikiran galau itu serupa antibiotik, kian diasup kian meminta dosis lebih. Begitupun baper,"(HR Edi Mulyono)” Yang umum di permukaan, jomblo adalah makhluk yang mudah sekali terserang penyakit baper. Dia tidak bisa ke bioskop sendiri, tidak bisa ke pantai sendiri, tidak bisa ke taman kota sendiri. Jika dibiarkan, maka akan ada banyak “andaikan” di pikirannya. Sebab  di zaman sekarang, jomblo berteman dekat dengan android. Kemungkinan, per lima menit dia akan cek bbm, WhatsApp dan aplikasi lainnya. Secara bersamaan dia akan melihat beberapa teman dumay-nya memposting foto romanstis bersama pasangannya. Di sinilah jomblo akan jumpalitan menahan serangan ganas bapernya. Tetapi tenanglah, Mbloh, tenangkan dirimu. Silahkan baper tapi jangan lama-lama. Sadarlah, tidak semua yang nampak indah di permukaan nampak indah pula di kenyataan. Percayalah, di balik kobaran cinta mereka  ada banyak hal berkecamuk secara bersamaan. Selain cinta, di hatinya juga dipenuhi, kecemburuan, kerinduan, kecurigaan, dan banyak hal yang meresahkan. Insya Allah hatimu masih merdeka kan, Mbloh?

Untuk meningkatkan kualitasmu, ada banyak hal yang bisa kau lakukan dengan kesendirianmu. Kau bisa bebas bermain, berteman, berdiskusi dengan siapa pun tanpa diganggu bunyi bbm dari pacarmu hanya untuk mengintrogasi, kau sedang di mana, bersama siapa, lagi apa, dan hal-hal tak penting lainnya. Jangan risau hanya karena kau kelahiran tahun 91 dan sekarang kau belum menikah. Jika saatmu sudah tiba, dan takdirmu sudah ditetapkan tak ada kekuatan apa pun yang mampu menolak. Melakukan apa yang harus kau lakukan dengan baik, serupa memperbaiki diri itu sungguh pilihan yang tepat. Tidak usah terburu-buru, pernikahan sungguh bukan lomba adu cepat. Lebih baik lambat daripada kau gagal di tengah perjalanan.

Jangan risau hanya karena truk gandeng, dan kau masih sendiri. Sungguh jangan. Truk memang bergandengan tetapi ia akan selalu memiliki muatan yang berat. Rawan bahaya. Dan kau tidak usah berpikir dua kali ketika disodori pilihan, truk gandeng atau mobil SLK? Lebih baik tidak bisa diboncengi seperti motor “Japstyle” tetapi ia nampak elegan, daripada Supra X yang selalu mogok di tengah jalan. Saya memang tidak mengajakmu untuk terus menjomblo, tetapi silahkan dipikir lebih dalam. Sebab cinta dan pilihan hidup bersama itu perjalanan yang panjang.

*Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

(sumber gambar: tribunnews.com)