Terbaru

Contributors

Karena Lebaran tanpa Mercon Bagai Syahrini tanpa Make Up

klimg.com
Beberapa hari lalu kita dikejutkan oleh kabar tentang sejumlah rumah di Pamekasan yang remuk gara-gara letusan mercon. Tak hanya rumah, orangnya pun ikut remuk. Dua anak meninggal dan satu luka bakar serius.

Tentu saja merconnya bukan kelas mercon saya ketika dulu coba-coba menggemarinya walau saat dewasa gagal total karena saya cemen. Saat menyulut mercon, saya suka menyumbat telinga, meskipun merconnya mercon lete’. “Buat apa beli mercon kalau saat menyulut kamu sumbat kupingmu?” kata Ibu waktu itu. 85 persen dari pertanyaan itu sebetulnya adalah larangan, sementara 15 persennya adalah mengolok-olok kecemenanku.

Jika melihat dampaknya yang begitu besar, tampaknya mercon-mercon yang dibikin orang Pamekasan tersebut berpostur gempal. Kita tahu, apa pun yang gempal seringkali suka melahap apa saja. Teman saya yang bernama Paisun juga begitu.

Kabar-kabar mengerikan soal korban letusan mercon sebetulnya sudah sering kita dengar, terutama menjelang lebaran atau pas hari lebaran. Ada yang jari-jarinya putus, ada yang mukanya lebam-lebam, ada yang lengannya lepas, ada yang hatinya patah, eh, itu jomblo ding. Tapi, akan selalu ada berita-berita semacam itu di tahun-tahun berikutnya. Tak lelah-lelah. Apa pasal?

“Mun la lebur epade’remmaah? (kalau sudah gemar, mau digimanakan?),” kata salah seorang tamu undangan buka puasa bersama yang duduk di hadapan saya suatu ketika. “Mala badha sengoca’, bhangu’ tadha’a jhuko’na etembhang tadha’ mercona (malah ada yang bilang, lebih baik tidak ada lauk [daging sapi] ketimbang tidak ada mercon),” lanjutnya.

Begitulah kalau sudah cinta mati. Lebih baik tak makan yang enak-enak di hari raya asalkan bisa menyulut mercon. Meskipun kabar-kabar mengerikan itu berseliweran, orang-orang tetap bergembira dengan membakarnya, sahut-sahutan dengan mercon tetannga, berjalin-kelindan dengan gema takbir yang berkumandang dari masjid ke masjid. Apa boleh buat? Kata Man Dul Muin, cinta membutakan segalanya.

Petasan atau mercon seakan sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hari raya. Pada malam takbiran, akan selalu ada bunyi-bunyi letusan itu. Kadang-kadang motif orang membuatnya karena “nas-panasan”. Tetangganya bikin yang selebar batang pohon pinang, dia bikin yang selebar pohon kelapa. Tetangganya bikin yang seukuran bokong Syahrini, dia bikin yang seukuran bokong Kim Kadharsian. Begitulah, ingin selalu tampil lebih unggul. Dan yang seperti ini biasanya sulit disembuhkan.

Sampai kapan pun sepertinya petasan tidak akan pernah lenyap dari muka bumi ini, meskipun aparat sudah melarangnya. Pelarangan itu pun tampak tak efektif karena sulit sekali menggrebek pembuat mercon karena saking banyaknya dan di pelosok pula. Apalagi jika aturan itu hanya dibuat dengan semangat “hangat-hangat tahi ayam”. Akan lebih sulit memberantasnya.

Lebaran-lebaran di masa mendatang tampaknya akan tetap dihiasi oleh letusan-letusan mercon karena menurut Man Dul Muin lagi, lebaran tanpa mercon bagai Syahrini tanpa make up: dingin dan kaku. Nggak nyambung ya? Iya, memang.

(Rozi, mantan penggemar mercon)