Terbaru

Contributors

Lebaran di Balik Tuneeca


tuneeca.com

Five days ago… dan hari raya masih tetap hangat. Sehangat mentari di pagi hari, jiahhaha… nyinyir sekali, banyak status berseliweran di sosmed mengaku cinta Ramadan.  Ramadan baru sampai separuh, eh, semuanya sibuk keburu lebaran. Dari mempersiapkan kue, baju, sampai pada hitungan jomblo mana saja yang akan dibuli. Situ sehat? Sudah menikah masih suka ngurus jomblo. Lama-lama tak ajuin ke Pak Ridwan Kamil biar sekalian  dikasi surat tugas. (Jomblo ngeluarin unek unek, haha)

Sebagai perempuan yang lahir di desa, saya mengaku sangat ketinggalan soal fashion. Bukan tak suka, apalagi mengaku tak butuh. No, I am not Rabiah al-Adawiyah, yang tidak ingin dilirik cowok-cowok ganteng.  Saya manusia biasa yang berharap seberuntung Raisha. Bwahhh. Well, kembali ke laptop. Jika saya melakukan penelitian mengenai siapa yang paling ribet di momen hari raya, jawabanya adalah perempuan. Lha iya, gak cuma persoalan baju barunya, tapi belinya di pasar mana? Kalau belinya cuma di Pasar Candi (pasar desa, red) bukan di kota, alamat mendapatkan cibiran dan klaim bajunya pasti jelek. Ini bukan saya yang ngomong lho, tapi kenyataan di lingkungan saya.

Untuk membuktikan hal menggelikan di atas, saya mau bercerita pertengkaran di facebook hanya gara-gara  gamis merek Tuneeca yang menjadi fashion paling populer bagi golongan mereka (catat: bagi golongan mereka). Perseteruan ini juga masih hangat dibahas sampai saat ini oleh teman-teman tongkrongan kami. Beberapa hari menjelang hari raya, wall facebook saya dipenuhi dengan iklan penjual online baju terbaru dan ter-ngehit,  penjual online toples, penjual online sarung BHS dan sejenisnya. Yang paling bikin ngenes adalah di sana juga ada  pertengkaran peminat dan buyer gamis merek Tuneeca.

Bagaimana tidak menggelikan, ketika si A membeli salah satu koleksi Tuneeca lalu si B juga membelinya dengan model sekaligus warna yang sama kemudian si A segera memuntahkan rasa sebalnya di facebook karena merasa disaingi. Terjadilah perang komentar yang sengit dan (sungguh) memalukan. Apalagi kalau sampai orang kaya semacam mantu Aburizal Bakrie juga ikut membacanya. Adduh, kalau takut sama kenapa beli Tuneeca, minimalnya ngorder ke Dian Pelangi, Mbak Broo. Bila  bernasib sama dengan saya (duit di kantong tak sampai hati), ya, sudah gak usah merasa menjadi orang satu-satunya yang (gak) mampu beli Tuneeca. Hahaha...

Setelah ikut menyimak status di atas, di situ saya merasa bersyukur memiliki hati yang tidak menjadikan fashion sebagai hal yang paling utama dari hal lainnya yang bisa membuat perempuan terlihat menarik.  Saya hanya percaya “high quality women” nggak pakek galau-galauan di media sosial untuk memancing komentar nyinyir dan menggelikan.  Sungguh saya merasa malu dengan jam tangan  Bu Sri Mulyani, jam tangan yang mungkin butuh puluhan buah untuk setara dengan harga gamis Tuneeca, tetapi beliau anteng anteng saja.

(Mayda, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.)