Terbaru

Contributors

Matrawi, Fajar Baru Pejuang Tanah di Sumenep


Oleh: Moh Roychan Fajar*

Malam itu, H. Matrawi, penduduk Andulang, Gapura, tampil di salah satu “panggung rakyat” bernama "kompolan Tera’ Bulan", yang waktu itu sedang mentas di pulau Giliyang, Dungkek, Sumenep, titik oksigen terbaik dunia. Ia menyampaikan komitmennya untuk mempertahankan tanahnya dari rongrongan investor, sekalipun pada umumnya masyarakat di desanya sudah luluh dan menjual tanah yang dimiliki.

H. Matrawi berjanji untuk tetap menolak keinginan sejumlah pihak lokal atau asing yang ingin memboyong tanahnya, walaupun nyawa menjadi taruhannya. Mendengar statemen itu, semua pengunjung bersorak, seolah merayakan kemenangan, idealisme, dan konsistensi sebagai penduduk asli pribumi, yang memiliki tanggung jawab menjaga bumi di mana tempat ia berpijak.

Ya, orang seperti H. Matrawi ini, memang langka. Sosok seperti dirinya kini memang tak gampang kita temui. Yang membuat penulis salut, ia adalah penduduk biasa, bukan tokoh masyarakat, atau kiai, ustadz, dan seterusnya. Tapi perjuangannya, tak bisa kita remehkan dalam menghadapi investor yang menggunakan segala cara untuk merebut tanah rakyat.

Apalagi mengingat kini banyak tokoh agama atau bahkan kiai yang hanya pandai berbicara, dan menggeluti perdebatan-perdebatan “elitis” yang kadang tak berkorelasi dengan kondisi riil keumatan. Kebanyakan dari mereka bangga dengan baju  nahdliyin-nya, sementara ia meninggalkan pusat eksistensi kaum nahdliyin itu sendiri, yaitu: masyarakat desa yang tinggal di wilayah-wilayah pinggiran.

Kita memang sedang mengalami krisis tokoh yang benar-benar cinta tanah air secara tulus dan ikhlas. Dalam artian, mencintai bumi ini, dengan tidak sekedar menganggapnya sebagai ruang geografis yang mati, tapi juga menyadarinya sebagai ruang historis yang hidup. Bahwa di tengah itu, ada suara yang dibungkam. Kemanusiaan yang dinafikan. Dan subyektivitas yang dikubur.

Memang terasa miris saat ada salah satu dari kiai kampung, di salah satu desa, malah mengajak penduduk sekitar untuk bersama-sama menjual tanah ke tangan investor. Kita akan sepakat, tokoh agama semacam ini, telah gagal menjadi simpul persoalan di tengah kehidupan sosial. Ia secara tak sadar melepas tanggung jawabnya yang oleh para leluhur dan masyarakat luas dipercaya sebagai muara, penerjemah, penafsir, dogma-dogma pembebasan agama terhadap kehidupan rakyat.

Untung, kita masih punya penduduk pribumi yang cukup kuat—meskipun di sebagian tempat juga ada yang lemah. Di saat para tokoh agama, politisi, aktivis sudah nyaris kehilangan jati diri dan idealisme, maka “penduduk” semacam ini dapat menjadi “tokoh baru” yang kita temukan dalam masalah darurat agraria ini. Yang dapat kita lihat memang tak banyak, karena nama mereka tidak pernah masuk dalam sejarah resmi para ulama dan tokoh-tokoh terkenal. Tapi perjuangannya, minimal untuk dirinya sendiri, cukup menjadi bukti bahwa inilah yang ingin penulis sebut sebagai babak baru tentang kebangkitan pribumi.

Kebangkitan pribumi adalah gairah lama yang muncul kembali setelah sekian waktu terkubur oleh tradisi panjang pembungkaman mereka dalam jaringan produksi pengetahuan global untuk berbicara dan menyampaikan suaranya. Kebangkitan pribumi ini, berusaha mendefinisikan kembali subyektivitas mereka di tepi kekuasaan negara yang memiliki hubungan rumit dengan ideologi kapitalisme global, yang kini memberangus kedaulatan rakyat-rakyat pinggiran. Kekuatan inilah yang diharapkan semakin menguat di tengah tiadanya keberpihakan dari pemangku kebijakan terhadap tanah rakyat. Kita patut berharap akan lahirnya Matrawi-Matrawi baru yang tetap teguh membela tanah kelahirannya, agar kelak anak cucunya tidak menjadi babu di daerahnya sendiri. Wallahua’lam...

*Mantan Ketua LPM Instika

(sumber gambar:veganbloghk.wordpress.com)