Terbaru

Contributors

Membaca Karier Politik Ahok


Oleh: Moh. Jufri Marzuki*

Bagaimana nasib politik Ahok selanjutnya setelah divonis dua tahun penjara oleh hakim pengadilan? Secara eksplisit, nyata sekali bahwa dia benar-benar telah berakhir. Fakta ini didukung oleh sederet alasan yang tak bisa dibantah oleh alibi apa pun; kasusnya adalah penistaan agama yang dianut oleh umat mayoritas. Gelombang aksi tuntutannya menyiratkan betapa banyak yang merasa terhina. Hukuman yang dia jalani menyisakan stigma negatif dan mematikan kariernya di panggung politik.

Pertanda kematian politik Ahok semakin tegas terlihat ketika kontestasi Pilgub DKI kemarin. Kesuksesan kinerjanya selama memimpin Jakarta, prestasinya yang dapat ditunjukkan dengan data Indeks Kepuasan Penduduk ternyata tidak mampu mendulang suara yang mengantarkannya pada puncak kemenangan, malah terpuruk dalam kekalahan.

Apakah secara politik takdirnya kini adalah sebuah kematian tanpa kebangkitan? Bagi pengamat politik yang mampu membaca dari sudut yang berbeda,  ternyata tidak. Sisi lemah kemanusiaannya yang tanpa sengaja melontarkan kesalahan saat bicara memang telah mengantarkannya ke balik jeruji penjara. Tapi siapa sangka, justru di sana dia sedang menerima anugerah politik yang begitu besar dan indah. Bahkan mungkin dia sendiri saat ini juga tidak merasa atau menyangka, apalagi menyadarinya.

Saat ini, sementara orang memandang Ahok apes dua kali. Ibarat orang yang gagal menanjak,  sudah menderita sakit akibat jatuh, malah ketiban tangga, lagi. Hasil hitungan nyata KPU Jakarta pada pemilihan Cagub-Cawagub telah memaksanya untuk menerima kekalahan, ditambah lagi masih harus mendekam di tahanan.  Tapi siapa sangka, justru inilah oksigen baru yang akan menghidupkan nyawa politik Ahok.

Mari sedikit kita masuki dunia intrik dalam berpolitik. Seorang politisi dapat meraih simpati jika mampu mendaki tangga-tangga politik. Dimulai dari bagaimana caranya agar diketahui, dikenal, baru kemudian menebar pesona cinta agar meraup simpati. Lalu, mengukur dampak elektoral agar dapat mengatur strategi sebelum tanggal kontestasi pemenangan nanti. 

Tanpa sadar, Ahok telah menaiki tangga-tangga itu. Pesonanya tidak hanya di dalam negeri, bahkan menebar hingga ke luar negeri. Seluruh dunia mengenal dia sebagai sosok yang tegas dan bersih namun harus jadi penghuni jeruji besi hanya karena kasus salah ucap, yang sama sekali jauh dari kesadaran dan kesengajaan diri. Meski begitu, tetap saja ada yang mencaci meski proses dan ketentuan hukum telah dia jalani, dipatuhi.

Fantastiknya lagi, berawal dari kasus salah ucapnya, kini dia malah menjadi simbol eksistensi kebhinnekaan, ikon perlawanan terhadap intoleransi dan rujukan setiap gerakan anti kekerasan atas nama agama dan sara, serta lambang gerakan bagi para pemburu keadilan dan gerakan demokrasi lainnya.

Kini nama Ahok semakin meroket dengan kecepatan dahsyat mengkilat. Rela menerima gelar narapidana sebagai bentuk pengorbanan agar spirit kebhinnekaan, perlindungan etnis minoritas, kesadaran pluralisme dan kulturalisme dapat tegak berdiri di atas bumi pertiwi.

Sungguh, ini biaya politik yang sangat murah. Fanatisme, militansi, dan arogansi para musuhnya hanya dibalas oleh Ahok dengan kedisiplinan dan kepatuhan saat menghadiri dan menjalani proses persidangan serta menerima vonis hukuman dengan berani, ikhlas, dan lapang dada. Bila masa hukuman dua tahun telah dijalani selama 2/3, maka ada kebijakan pembebasan bersyarat.  Lain lagi remisi dua kali yang bisa didapatkan, sehingga sekitar satu tahun bahkan setengah tahun lagi dia akan  keluar.

Berbeda dengan lawan politiknya, berapa banyak sumber daya dan gerakan yang telah dibiayai?  Namun Ahok hanya membalasnya dengan kedisiplinan dan tepat waktu menjalani persidangan. Fanatisme serta kerahan massa lawan politiknya yang mengatasnamakan agama dan membawa simbol perjuangan hakiki  hanya berbuah ketenaran bagi Ahok.

Biarlah dia menjalani hari-harinya di dalam lapas, tanpa ada ujaran kebencian. Jika dia menulis buku di penjara, pasti sebagian besar masyarakat, politisi, akademisi serta aktivis pejuang kemanusiaan,  keadilan, persamaan hak dan demokrasi akan menunggu terbitannya yang kemungkinan akan “best seller”.

Upaya mematikan karier politik Ahok justru membuatnya saat ini panen raya simpati dan dukungan kaum nasionalis dan pluralis dari seantero negeri ini. Prediksi saya, dia akan jadi pemenang dalam perjalanan karier politik selanjutnya. Sesama teman politisinya tentunya akan banyak yang iri secara positif, karena hanya mereka yang lebih mengerti fenomena ini sebab memiliki insting dan sensor politik yang lebih peka.

Sepintas, Ahok saat ini sangatlah lemah. Tetapi ibarat pemain bulu tangkis, dia mampu memanfaatkan kelebihan dan kekuatan lawan dengan meladeni setiap arah “shuttlekock” menyerangnya. Akhirnya, rival mainnya harus kalah karena kesalahan memilih gaya adu strategi dan taktik yang dibalas hanya dengan keberanian melayani gaya permainan lawan secara jantan, berani, dan ksatria.

Di sisi lain, musuh-musuh politik Ahok terjebak dalam kasus di luar kesadaran mereka,  karena terlalu ngotot memaksakan secara berlebihan dengan segala macam cara terhadap kasus Ahok agar diadili.  Padahal, cara-cara mereka juga bertentangan dengan aturan dalam pasal-pasal hukum kita. Yang berbeda adalah, mereka tidak seksatria Ahok; datang ke penegak hukum, siap diperiksa dan diadili. Bahkan ada yang kabur ke luar negeri dengan segala alasan pembenar yang tidak ada kaitannya dengan proses penegakan hukum, seperti 'mubahalah' dan semacamnya.

Kartu politik Ahok pun semakin kuat dan hidup.  Sedangkan musuh politiknya semakin terpuruk. Demikianlah politik, selalu menciptakan kejutan-kejutan baru yang “unpredictable”. Karena dalam politik selain ada kalkulasi nyata, ada juga kalkulasi terpendam, yaitu kata hati nurani rakyat yang tak terbaca dan sulit diterka karena memang tak terlihat. Seperti yang dilontarkan Gus Dur saat diwawancara sebuah stasiun TV; bahwa justru yang tak terlihat itu yang penting, bahkan menentukan.

Semua mungkin tidak menyangka, bahwa karier politik Ahok akan sefenomenal ini. Tak terkecuali teman politik Ahok seperti Gede Pasek yang pernah bersama-sama di Komisi II DPR RI, juga pernah menyatakan keheranan dan kekaguman perjalanan karier politik Ahok yang begitu mengejutkan dan di luar prediksi.

Paling tidak, untuk memperkaya wawasan politik, mari dengan cermat kita belajar dari perjalanan politik seorang tokoh bernama Ahok. Diakui atau tidak, kisah perjuangannya dalam membangun negeri ini begitu dahsyat, fenomenal, meskipun sebenarnya juga kontroversial. Kelak, musuh politiknya akan tahu bahwa saat ini dia tidak sedang sial, tapi meniti tangga politik yang mereka ciptakan sendiri dan akan mengantarkannya pada posisi yang lebih tinggi.

*Penulis adalah pegiat Gerakan Anti Diskriminasi. Tinggal di Nyalaran, Blumbungan, Pamekasan.

(sumber gambar: http://3teddies2bears.com)