Terbaru

Contributors

Menulis: Derita yang Indah (Bagian 1)

freepik.com

(Oleh: Dr. Abdul Wahid Hasan, dosen Instika dan penulis sejumlah buku)

hanya ada tiga cara untuk menjadi penulis, yaitu dengan menulis, menulis dan menulis 
(Kuntowijoyo)

apapun memang harus dituliskan. Bagaimana pun bentuknya. Dengan demikian Anda telah mengambil satu peran merekam kenyataan di selingkungan. Mestinya anak muda seperti itu. Berani menulis. Jangan takut tidak dibaca atau dibuang orang…yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti akan ada yang membacanya, dan bahkan menerbitkannya. 
(Pramoedya Ananta Toer)

Jika tema diskusi kita kali ini adalah “bagaimana menjadi penulis besar” dan mengudang saya untuk menjadi pembicara karena menganggap saya sebagai penulis “besar” maka itu amat keliru. Yang benar, saya adalah ‘penulis’ kurus. Kurus karena mungkin terlalu banyak berfikir, bagaimana menjadi penulis besar. Dan keinginan tersebut hingga hari ini belum juga tercapai, bahkan semakin kabur…

Jika dilihat dari sisi usia, saya termasuk orang yang terlambat punya keinginan menjadi penulis. Saya punya keinginan untuk menjadi penulis, ketika saya masuk di Stika, itupun dalam semester agak akhir.  Akan tetapi ternyata, untuk bisa menulis, otak saya harus diisi dengan “pengetahuan” yang cukup, tentang apa yang akan saya tulis. Sialnya, saat itu saya masih baru belajar “membaca” buku-buku “ilmiah”, dalam arti yang ditulis dengan huruf “latin”. Sebelum itu, saya masih beranggapan bahwa buku yang bertulis latin tidak bermutu, ditulis oleh orang yang tidak bersih, penuh kepentingan politik, penulisnya tidak ikhlas, dan lain-lain, hingga saya hanya senang membaca “kitab” yang bertuliskan huruf Arab. Entah setan apa yang merasuki pikiran saya, hingga saya punya pikiran seperti itu….

Mata saya baru terbuka, ketika saya mulai akrab dengan seorang teman, yang ternyata sudah banyak mengoleksi buku-buku ilmiah seperti Cakrawala Islam-nya Amin Rais, dan majalah seperti Ulumul Qur’an, Estafet, Amanah, dan lain-lain. Dari sinilah saya mulai membaca buku, dan mulai mengerti tentang “dunia lain”, yang tidak  saya rasakan sebelumnya.*

Akhirnya saya menemukan dua kata kunci untuk bisa menjadi penulis: membaca dan menulis! Akan tetapi saya agak bingung: mana yang harus didahulukan. Keduanya ternyata adalah seperti layaknya teka-teki klasik telur dan ayam: mana yang lebih dahulu. Menulis tanpa membaca: hambar! Membaca tanpa menulis: konyol! Apalagi tidak membaca dan tidak menulis, berarti: mayat! Karena orang yang berani untuk tidak menulis berarti dia siap untuk dilindas sejarah dan hilang dari peradaban. Sebesar dan seagung apa pun dia. Paling untung, kata-katanya menjadi “ucapan” yang beredar di masyarakat. Itupun dalam kurun waktu yang relatif ringkas. Kecuali dia memiliki murid atau teman dekat yang sanggup menuliskan percikan-percikan pemikrannya. Kita bisa membaca sejarah, bagaimana orang sebesar Sufyan at-Tsauri (yang sebenarnya adalah imam madzhab), “hilang” begitu saja dari peredaran sejarah? Jawaban yang paling dekat adalah: karena beliau tidak menulis. Sebaliknya, apa yang menyebabkan kita mengenal Al-Gazali, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Imam Syafi’i dan lain-lain? Jawabannya satu: karena beliau menulis. Adakah warisan yang lebih bernilai dibandingkan karya tulis? (bersambung)

_______________
Tulisan ini pernah disampaikan dalam acara dialog kepenulisan yang diselenggarakan oleh LPM STIKA, Kamis, tanggal 9 Desember 2004.

*Tetapi jam terbang membaca saya masih  sangat sedikit. Bahkan sangat sedikit. Saya sangat malu sekali ketika membaca sejarah perjuangan Ibnu Rusyd (Averroes) dalam mencari ilmu. Seluruh hidup beliau dihabiskan untuk merenung dan membaca (dan tentunya juga menulis). Hanya ada dua malam yang tidak beliau pergunakan untuk belajar: malam ketika ayahnya wafat dan malam pertama perkawinannya…