Terbaru

Contributors

Menulis: Derita yang Indah (Bagian 2)



(Oleh: Dr. Abdul Wahid Hasan, dosen Instika dan penulis sejumlah buku)


Untuk membaca tulisan sebelumnya, klik di sini

Tak ada kata “bakat” dalam menulis. Yang ada adalah “mau apa tidak”! Jika tidak, maka tidak tetapi jika mau, pasti bisa. Sebab tak ada yang mustahil bagi dia yang mencoba. Selanjutnya, tergantung, seberapa besar kemauan kita. Menciptakan kemauan dalam diri tergantung pada apa yang menjadi motivasi: materi, kedudukan, pristise, nama besar, atauh bahkan seorang perempuan. Terserah! Yang penting adalah hal-hal yang bisa menyebabkan kita menjadi “mau” menulis. Jangan pernah membicarakan tentang “ikhlas”, ibadah atau hal-hal lain yang masih sangat abstrak. Karena tanpa diharapkan pun, itu akan hadir dengan sendirinya. Lihatlah bagaimana al-Gazali menulis buku Tahafut al-Falasifah dengan tujuan meraih nama besar, popularitas, prestise dan “pembantaian” terhadap para filsuf yang ada ketika itu?* 

Akan tetapi, ternyata tidak semua orang mau menulis. Karena pilihan menjadi penulis, cukup pahit, terutama di negeri ini, yang meskipun sudah merdeka sejak kurang lebih 60 tahun yang silam,  masih saja belum tahu bagaimana menghargai sebuah karya tulis secara arif. Negeri ini masih lebih suka menghargai artis yang berpantat gede, semlohe, dan bisa membangkitkan birahi. Negeri ini lebih suka menghargai paranormal yang suka meramal nasib, memberitahukan hari baik untuk pernikahan, memulai buat rumah, memulai berdagang, bahkan untuk memberangkatkan anaknya ke pesantren dan persoalan-persolan kecil lainnya yang tidak prinsip. Sementara seorang intelektual yang menulis makalah, memaparkannya di hadapan peserta yang kritis, dan harus menjawab pertanyaan mereka, hanya dihargai 25 ribu hingga 70 ribu.

Sanggupkah kita menjadi seperti Pramoedya Ananta Toer, yang karena memilih untuk menjadi “penulis”, beliau harus berhadapan secara frontal dengan Orde Kolonial, Orde Karno ataupun Orde Harto, hingga berkali-kali beliau mendapat hadiah penjara. Belum lagi mahligai rumah tangganya yang berantakan karena isterinya tidak tahan dengan fondasi ekonomi yang, menurutnya,  tidak jelas, hingga beliau diusir dari rumah sebanyak empat kali dan akhirnya digugat cerai oleh isterinya.

Derita semacam ini harus dijalani oleh seorang penulis. Makanya, Nur Khalik Ridwan menganjurkan, jika dengan menulis yang dicari semata-mata beruapa uang, maka lebih baik Anda tidak usah menulis. Karena, sekali lagi, negeri ini masih belum bangga terhadap penghuninya yang bisa menulis. Adakah orang di ngeri ini yang kaya karena menulis? Gus Dur, Nor Khalis, Emha, Hatta, Goenawan Muhammad, belum pernah mendapatkan banyak uang karena honor tulisan yang mereka tulis. Apalagi hanya seorang Abdul Wahid!

Ternyata untuk menjadi penulis besar butuh pengorbanan yang besar, keinginan yang kuat, semangat yang tinggi dan berani melawan resiko, bahkan harus banyak mengeluarkan duit untuk membeli buku, majalah, surat kabar, termasuk nye-scan cover buku, ke warnet, nelpon redaksi, dan lain-lain. Tetapi ternyata, di sinilah justeru letak keindahannya. Saya senantiasa merasa puas ketika sudah berkorban, demi sesuatu yang menurut saya amat luhur. Apalagi jika tulisan tersebut dimuat di media: surat kabar, majalah, buletin dan lain-lain (belum lagi jika itu merupakan yang pertama kali). Saya seperti mengalami orgasme yang luar biasa, dalam tiga dimensi sekaligus: intelektual, emosional dan spiritual. Saya tidak tahu pasti, masih adakah yang lebih indah daripada menulis.

Anda pasti kenal Kuntowijoyo. Saat ini beliau sudah tidak bisa berbicara dan mengalami kelumpuhan motorik tubuh. Untuk mengetik, beliau hanya bisa menggunakan dua telunjuknya: kiri dan kanan. Beliau sangat telaten dan begitu sabar mencari dan menekan huruf-huruf di keyboard komputer, satu persatu, pelan, dan pelan sekali. Satu pragraf, bisa menghabiskan waktu berjam-jam, demi untuk mengeluarkan sedikit demi sedikit tumpukan gagasan yang menusuk-menusuk kepala dan menyayat-nyayat jaringan sarafnya. Apa yang beliau cari? Motivasi apa yang membakar beliau? Bagaimana dengan kita yang sehat dan bugar ini? Sudah berapa halaman yang kita ketik setiap hari? Lima, enam, sembilan, sepuluh, atau…satu, setengah dan…tidak sama sekali? Dan sedikitlah dari hamba-Ku yang betul-betul bersyukur.

Ya Allah, ampuni hamba-Mu!
___________
*Lebih jauh lihat dalam “pengantar” buku Tahafut al-Falasifah-nya Gazali, yang ditulis oleh Dr Sulaiman Dunya.