Terbaru

Contributors

Merayakan Lebaran di Era Digital

perguruandiniyyah.com
Zaman digital adalah istilah yang tepat menggambarkan kondisi sekarang, zaman saat teknologi menguasai dunia. Manusia pun tidak segan-segan lagi memanfaatkan teknologi dalam kehidupan kesehariannya. Dengan menawarkan kecepatan dan ketepatan, teknologi mampu mencuri hati manusia untuk menggunakannya.

Hari ini terbukti konsep Global Village-nya McLuhan benar-benar terjadi. Bahkan, umat manusia di manapun sudah tak bisa lepas dari teknologi, utamanya setelah kehadiran smartphone atau gadget. Sejak kehadiran gadget, manusia mulai kehilangan kontak dunia sekitarnya, hingga lalu antisosial. Manusia yang awalnya didapuk sebagai makhluk sosial, kini sudah menjadi makhluk individual.

Di Indonesia, saya melihat fenomena kegandrungan masyarakat terhadap teknologi semacam smartphone atau gadget makin tak terbendung. Maka tak heran jika beberapa nilai-nilai sosial yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia semacam gotong royong dan tolong menolong mulai menghilang. Semangat silaturrahim pun kian hari makin pudar.

Lebaran di Era Digital
Hal ini juga berimbas pada perayaan lebaran. Lebaran kali ini, saya prediksi, akan menjadi “unik”. “Unik” karena orang-orang akan lebih suka merayakan lebaran di medsos saja, daripada silaturrahim ke rumah-rumah tetangga dan kerabatnya. Semangat silaturrahim yang dibawa oleh kehadiran lebaran, seperti kurang bermakna tatkala teknologi yang menjadi raja.

Dengan kecanggihan teknologi, untuk merayakan lebaran, kita tidak perlu ke luar rumah lagi, tak perlu banyak biaya, tak banyak makan waktu, tak usah kepanasan dan kehujanan. Dijamin aman. Sebab, semua itu sudah dianggap cukup hanya dengan mengaktifkan internet, jelajahi medsos, lalu minta maaflah dari sana. Beres. Bahkan, jika punya grup, semacam grup di WA, itu lebih membantu. Cukup kirim pesan maaf, yang ditujukan kepada semua. Satu untuk semua. Selesai.

Atau, jika masih kurang, sekarang juga banyak aplikasi yang menawarkan video call, seperti Imo atau WA. Asalkan paketan internetnya memadai, tinggal telepon, bisa tatap muka, kan lebih simpel. Sama kok dengan berkunjung, kalau hanya untuk bertatap muka. Ah, sungguh simpel. Gampang. Beres.

Maka dari itu, saya sempat berpikir, para saudara-saudari setanah air yang dilahirkan di Madura, yang hidup di perantauan, entah di Arab Saudi, Malaysia, Kalimantan, Jakarta, Jogjakarta, Surabaya, dan di tempat-tempat lainnya tidak kunjung pulang kampung, karena telah terbantu oleh teknologi. Mereka (mungkin) lebih rela menukar kebahagiaan bertemu keluarga dengan kesuksesan di tanah rantau. Mungkin.

Tapi sudahlah, mereka punya pandangan masing-masing. Yang pasti, lebaran nanti, sebagai menantu yang baik, saya akan berkunjung ke rumah mertua, untuk bertemu sang pujaan hati. Kalau yang ini, tak cukup hanya dengan bantuan teknologi. Eits, saya lupa, Selamat Idulfitri 1438 H., mohon maaf lahir batin. Wassalam.

(Abd. Muqsith, mantan Editor di lubangsa.org Tinggal di Gapura.)