Terbaru

Contributors

Mudik dan Festival Kekenesan Saat Lebaran

liputan6.com

Sebenarnya saya malas membahas tetek-bengek mudik di tengah masyarakat yang makin njelimet ini. Agenda-agenda untuk berkumpul dengan sanak keluarga, jujur, makin ternodai dengan tren-tren mode busana modern, merek gadget mahal, Tunjangan Hari Raya (THR) yang diartikan kebablasan dan rekreasi-rekreasi tak penting yang mengurangi sakralitas mudik.

Momentum hari raya adalah momen yang tepat untuk memasarkan tren mode busana yang membuat bengkak telinga mendengarnya, mata melongo sampai mulut berliuran. Perangkap iklan yang merasuk ke otak-otak para ukhty semakin tak terelakkan. Upgrade fashion yang kaya akan bahasa asing pun bertebaran di toko-toko baju. Baik yang online maupun offline. Misal istilah fuchsia, bright, violet scarlet, soft peach dan blablablanya. Semua adalah bahasa-bahasa yang membuat saya bertambah pusing dan isi dompet yang kurang makin mengering. Entah dengan kalian.

Tercabutnya masyarakat dari akar kebudayaannya salah satu penyebabnya adalah dengan tuntutan kebutuhan hidup akan teknologi. Sebut saja gadget. Yang akhir-akhir ini muncul dengan ragam merk maha canggih. Isu-isu menakutkan tidak akan siapnya masyarakat menampik virus globalisasi yang disebar secara bebas melalui media sosial--yang salah satu cara penggunaannya melalui gadget--menuntut banyak tokoh masyarakat, budayawan bahkan golongan kiai untuk turut menjadi salah satu pengguna gadget. Terus dikembangkannya teknologi, pun semakin tidak terelakkan menjadi kebutuhan pokok masyarakat industri.

Pada perayaan kemenangan (baca: Idul Fitri) banyak dari lapisan masyarakat menjadi bagian dari pemasaran pengusaha gadget. Dari saling adu kecanggihan kualitas lensa kamera hingga pada jumlah follower akun-akun media sosial. Mengunggah kegiatan yang privasi ke media sosial adalah bagian paling wajib yang selalu dinanti-nanti momennya. Idul Fitri adalah saat yang tepat di mana para pengguna gadget diperbudak oleh perusahaan-perusahaan teknologi itu. Jangan marah, termasuk saya, kok.

Selain itu, sebagaimana dilansir oleh liputan6.com bahwa Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) memproyeksikan 15,3 juta pemudik yang diestimasi berstatus pekerja akan membawa remittance ke kampung halamannya sebesar Rp 63,6 triliun. Hal itu dengan memperhitungkan adanya THR dan tingkat upah minimum provinsi. Maka, dengan segala tetek bengek mudik di tengah arus globalisasi, orang Republik Indonesia butuh minimal Rp 4,3 juta. Perputaran uang selama mudik 2017 diperkirakan Rp 205,8 triliun untuk perhelatan temporer selama dua pekan.

Lha, kan. Betapa ribetnya mudik di tengah fenomena masyarakat industri. Kita akan saling memasarkan bungkus tubuh kita. Yang lama di kota akan membawa ilmu baru kepada yang di desa. Dengan seperangkat gengsi paling jumbo kita akan memasang wajah nyinyir kepada kualitas peradaban kampung kalahiran. Seakan kita manusia yang mampu melihat dunia dengan segala peralatan hidup kita yang serba modern bin mahal.

Maka, jangan sampai hal demikian sampai kepada masyarakat Madura. Yang masih kental dengan kesantrian serta kebudayaannya. Kita mesti menjadikan mudik sebagai  ikhtiar spiritual insan muslim sebelum akhirnya kita pulang ke kampung halaman yang hakiki. Dan mudik akan  menjadi penting apabila persoalannya tak lepas dari landasan agama, yakni untuk berbakti kepada orang tua, menjaga ikatan silaturrahmi dengan sanak keluarga.

Lebih-lebih, mudik harus menjadi perayaan penting kembalinya manusia kepada fitrah. Fenomena mudik yang telah mengakar sebagai  tradisi, mesti terhindar dari sikap berlebihan menyambut hari kemenangan, menjadi jembatan maaf bagi orang-orang yang selama ini berseteru hanya karena berbeda pilihan politik. Ingatlah, dari Sumenep hingga Bangkalan kita masih menyenandungkan lagu Tandu' Majeng yang sama. Pun syahadat kita juga sama sebagai sesama muslim.

Selamat mudik, Taretan tor para Bala sadhaja.

(Wardi, penulis lepas kandas asal Tamidung Sumenep)