Terbaru

Contributors

Setelah Kurir, Kapan Bandarnya, Ndan?

http://sampit.prokal.co

Belakangan saya salut-salut gimana gitu terhadap kinerja kepolisian di Sumenep, kabupaten tempat saya lahir dan dibesarkan. Ibarat singa, korp bhayangkara itu sudah menunjukkan taringnya. Coba saja lihat, ketika sedang melakukan razia kelengkapan kendaraan bermotor, tak sedikit pengendara lari terbirit-birit menghindari mereka.

Tidak. Bukan soal fobia pengendara kepada polisi lalu lintas yang ingin disampaikan. Tapi sebagai masyarakat baik-baik, saya ingin memberi dukungan moril kepada Pak Polisi dalam melawan narkoba di Sumenep. Tujuanya sederhana, agar lebih semangat--meminjam istilah beken Pak Presiden Jokowi--"menggebuk" mereka yang terlibat barang haram itu supaya jera, kemudian tobat, dan setelah mati masuk surga. Amin.

Dalam beberapa bulan terakhir, saya merasa senang ketika membaca berita yang berseleweran di media, baik online, cetak, maupun elektronik, tentang keberhasilan polisi melakukan penangkapan terhadap pengedar, kurir maupun pemakai narkoba, hampir tiap hari. Bagi saya, kinerja seperti itu patut untuk diapresiasi. Apalagi jika bisa segera menyelesaikan kasus dugaan tindak pidana korupsi pada renovasi Pasar Pragaan yang telah bergulir sejak 2014 sialam, misalnya.

Dari saking senangnya, terkadang dalam hati mengumpat: "Syukur deh mereka ditangkap. Agar tak bertambah banyak daftar tindak kriminal." Sebab, menurut Pak Kapolres Sumenep AKBP H. Joseph Ananta Pinora, ada kalanya suatu tindak kriminal, sebut saja curanmor atau curwan, berjalin kelindan dengan maraknya peredaran narkoba.

Meskipun, di waktu tidak bersamaan saya terkadang juga merasa kasihan saat mendengar kabar orang ditangkap polisi karena terlibat narkoba. Lebih-lebih jika statusnya masih jomblo. Karena akan semakin susah baginya mendapatkan pasangan hidup. Kalaupun ada perempuan atau laki-laki mau menerimanya, selama orangtua si penerima masih waras pasti akan berpikir berkali-kali untuk merestui.

Maka dari itu, jika masih berstatus jumblo, jangan main-main dengan narkoba. Biar tak kualat. Apalagi kalau sudah tidak jomblo, misalnya berstatus kepala keluarga. Jangan juga deh! Kasihan anak dan bininya di rumah yang butuh nafkah lahir batin. Jangan buat mereka seperti orang tak ikut makan ikan, tapi harus membuang tulang dan menerima amisnya. Intinya, jomblo tak jomblo, hindari narkoba.

Terakhir kali saya mendengar informasi polisi melakukan penangkapan terkait narkoba pada Senin lalu, 12 Juni 2017. Penangkapan kali ini cukup mencengangkan. Pasalnya yang tertangkap seorang anak masih bau kencur. Meski baru lulus MTs, pria berusia 16 tahun itu sudah berani menjadi kurir. Miris, kan?

Atas perbuatannya, polisi menjerat si bocah dengan pasal 114 ayat (1) subsidar pasal 112 ayat (1), subsidar pasal 127 ayat (1) UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancamannya cukup "mengerikan" bagi anak seusianya; hukuman minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun.

Dengan berada di balik jeruji besi, tentu harapan bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi harus ditunda untuk sementara waktu, bahkan bisa-bisa tak terwujud. Itu kalau dia punya harapan dan cita-cita. Kalau tidak, ya tak apa-apa.

Sebagai masyarakat, saya berharap ke depan aparat kepolisian lebih galak lagi bertarung melawan narkoba. Kalau bisa jangan hanya mereka yang memiliki narkoba sekian gram yang ditangkap. Sebab saya yakin, di balik pengedar yang tertangkap, pasti ada bandar sedang ketakutan. Sayangnya, pemberitaan mengenai polisi Sumenep berhasil membekuk bandar narkoba, sejauh ini belum cukup ramai terdengar.

Jika dibandingkan dengan kejahatan lain, bagi saya selaku orang desa, narkoba sama mencemaskannya dengan maraknya maling yang tak pernah jera. Mereka tetap saja mencuri saat keadaan lagi sepi. Padahal sudah ada kawan seprofesinya meregang nyawa diamuk massa seperti terjadi tempo hari.

Narkoba dan maling memiliki beberapa persamaan. Pertama, sama-sama tak ada habisnya. Kata orang, gugur satu tumbuh seribu. Narkoba dan maling sepertinya tak bisa dimusnahkan. Entah, karena apa, saya sendiri kurang tahu. Mungkin masih menunggu kiamat.

Persamaan kedua, sama-sama tak memilih korban. Mulai abang becak, petani, buruh, pelajar, bahkan pejabat sekalipun ada yang jadi korban narkoba. Begitu juga maling, korbannya mulai dari yang kaya, pura-pura kaya, miskin, pura-pura miskin, sampai yang tak kaya dan tak miskin sekalipun.

Persamaan ketiga, yang paling pasti sampai sekarang narkoba dan maling sama-sama ada di Sumenep. Sehingga keduanya harus sama-sama diperangi oleh kita. Terutama oleh Pak Polisi selaku aparat penegak hukum yang tugas pokonya memang menjaga ketertiban, keamanan serta kenyamanan masyarakat.

Kalau perlu, tiap kali meringkus maling, baik maling motor, maling sapi, atau maling jemuran sekalipun, polisi langsung melakukan tes urine kepadanya. Siapa tahu yang bersangkutan mencuri karena butuh uang untuk membeli narkoba. Bagaimana, Ndan?

(Fathol Alif , masyarakat)