Terbaru

Contributors

Bagaimana Menggapai Keseimbangan Hidup?


Istilah keseimbangan hidup merupakan upaya melatih diri untuk tidak hanya mementingkan diri sendiri yang sifatnya sementara, sedangkan hubungan timbal balik dengan sekitarnya terbengkalai atau bahkan lebih miris justru tidak mengetahuinya. Contoh kecilnya dalam berinteraksi dengan sesama. Mengingat status manusia adalah insan yang keberadaannya butuh dan bergantung pada orang lain. Tetapi perlu digarisbawahi dari kata “butuh dan bergantung” bukan menjadikan manusia sebagai makhluk lemah, yang dalam setiap kebutuhannya selalu memerlukan uluran tangan orang lain. Di samping itu, keseimbangan hidup juga proses melatih kesiapan diri untuk bekal di kehidupan kekal kelak, yakni akhirat.

Keseimbangan hidup dalam setiap insan hanya terdapat dua bagian, yaitu bersifat internal dan eksternal. Sulit sekali untuk bisa menyeimbangkan kedua hal tersebut. Mengingat dalam kahidupan sehari-hari sering kali orang hanya berlomba-lomba dalam pencapaian duniawi saja. Contoh gamblang bisa kita jumpai dari orang-orang yang berlomba-lomba dalam hal style. Hidup yang pada dasarnya sederhana dibuat seelite mungkin untuk terus menyaingi orang di atasnya. Mereka barangkali sadar tetapi tidak menyadari bahwa di atas langit masih ada langit lagi. Menjadi kaum hedonis karena beranggapan bahwa hal demikian kehidupannya akan berada pada golongan sempurna.

Keseimbangan internal meliputi terpenuhinya hak-hak fisik, emosional, mental dan spiritual. Merawat dan menjaga kesehatan tubuh yang diamanahkan sang Pencipta adalah upaya terpenuhinya hak-hak dalam fisik. Haram hukumnya bagi seseorang jika mengubah sebagian atau keseluruhan anggota tubuh yang sudah Tuhan amanahkan. Hal ini banyak kita jumpai dalam kehidupan masyarakatan. Trend dunia Barat sudah mulai tertanam dalam jiwa masyarakat Indonesia yang notabene beragama Islam. 

Terpenuhinya hak dalam segi emosional adalah jiwa selalu bersih dan perasaan senantiasa berprasangka baik. Mengingat sifat manusia selalu salah maka sulit sekali untuk memiliki jiwa bersih. Maka dari itu beristighfar adalah salah satu upaya menghapusan dosa-dosa untuk mengembalikan jiwa menjadi lebih baik. Sedangkan ketidakmampuan dalam berperasangka baik adalah kuatnya dorongan rasa iri dari hal yang kita impikan justru tidak didapatkan. Padahal kita tidak tahu resiko dari impian tersebut jika tercapai. Bisa jadi justru hal tersebut bisa menjerumuskan pada hal yang tidak baik dikemudain hari.  

Pikiran jernih erat kaitannya dengan jiwa bersih. Hal ini termasuk pada terpenuhinya hak mental. Jika tubuh sudah sehat dan jiwa tidak terus menerus dalam lembah kejelekan, maka akan timbul pikiran jernih dan pandai menfilter setiap persoalan. Segala sesuatu akan diperhitungkan dengan sebaik mungkin guna menghindari banyak penyesalan di kemudian hari. Juga menghindari sikap terburu-buru yang pasti tidak akan memberikan nilai maksimal.

Terpenuhinya hak dari segi spiritual adalah hubungan dengan Tuhan. Sebagaimana seorang hamba yang tidak memiliki daya apa pun kecuali dengan pertolongan-Nya. Maka dengan mengingat, mengerjakan perintah dan menjauhi segala larangan-Nya adalah upaya mencari ketenangan dan keselamatan jiwa raga. Baik semasa di dunia terlebih di akhirat.

Sedangkan pada bagian terakhir adalah terpenuhinya hak yang bersifat eksternal. Hal ini berkaitan dengan lingkungan. Baik kepada masyarakat sekitar atau dalam menekuni bidang tertentu. Mempunyai tanggung jawab terhadap kelebihan yang dimilikinya agar manfaatnya juga bisa dirasakan orang lain, semisal peran dokter kepada pasien.

Albert Einstein mengatakan bahwasanya manusia tidak harus menjadi orang berhasil, tetapi berguna. Seringkali kita salah kaprah dalam menggunakan kata “berhasil dan berguna”. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa berhasil belum tentu berguna, tetapi berguna sudah pasti berhasil. Oleh karena itu belajar untuk memulai agar terbiasa dalam menyeimbangkan kehidupan sejak dini sangatlah urgen. Karena berubah memang pahit, tetapi akan menjadi lebih pahit lagi jika tidak ada usaha untuk merubah.

(Elok Andriani, Mahasiswi jurusan hospitality and tourism Yogyakarta)

___________
Sumber gambar: moeflich.wordpress.com