Terbaru

Contributors

Betapa Anunya Alay Bombay di Medsos


Dulu, teman-teman cewek saya terlihat biasa curhat ke diary mengenai hal apa saja yang ada di pikirannya. Mereka biasa menumpahkan segala unek-uneknya, bertengkar dengan siapa, marah pada siapa dan menyimpan perasaan untuk siapa. Kemudian mereka akan membacanya sendiri dan merahasiakan dari siapapun. Saya yang usilnya setara dengan Marsha (and the bear) biasa mencuri baca diary mereka yang kemudian membuat mereka marah besar. Karena bagi mereka hal itu yang sangat pribadi, rahasia, dan  memalukan bila diketahui orang lain.

Kini medsos menjadi diary massal dan mujurnya saya tidak termasuk golongan kaum pengisi diary massal tersebut. Hello… saya mah curhatnya sama Allah (bagi pembaca VOILA.ID yang mau muntah saya sediakan tas kresek). Semuanya merasa penting diceritakan ke medsos. Adapun di antaranya, soal hubungan asmara, oteweh-oteweh, koleksi baju dan banyak hal gak penting lainnya. Semisal, “Hatiku sekelam malam ini. Sudah tak ada yang bisa mengerti. Meski itu kamu. Jangan harap kamu bisa memulihkan hatiku yang retak ini."  Tak usah sok jantan sama pasanganmu. Seolah-olah sanggup hidup tanpa mereka. Toh, nanti minta dikelonin juga. Bwahaha 

Hal kampret lainya, status plus lengkap dengan kamera jahatnya semisal “Otewe kota sek”, “Ngennes makan bakso sendiri”, atau “Baju tuneeca yang aku pesan kok kurang mahal, ya?” Oke, itu sah. Tapi mengapa ketika membaca status-status sejenis di atas, reflek ingatan saya kembali kepada dosen saya yang satu bulan bisa sampai lima kali bolak balik luar negeri. Tetapi beliau memilih diam tidak meng-upload apa pun, sampai saya menunggu postingan foto gaulnya di bawah guguran bunga sakura. Betapa kerennya pikir saya.

Saya juga tidak tahu mengapa dulu saya dari saking penasarannya sampai nekat mencuri buku diary mereka untuk mengetahui isinya. Sekarang boro-boro mau baca seabreg curhatan di medsos, sudah tahu postingan orang yang biasa nongol di wall saya seketika itu juga saya melewatinya.  Kalau lagi baiknya, langsung melewati tanpa  ngomel apa pun. Tapi pembaca VOILA.ID yang budiman, kalian tidak perlu seperti saya. Mengertilah bahwa mungkin mereka tidak punya teman di dunia nyata yang dekat dan bisa dipercaya.  Sehingga jalan satu-satunya adalah dengan curhat di medsos. Atau mungkin dengan sering curhat di medsos dapat mendatangkan banyak like dan beberapa komentar yang meramaikan  dari pengguna lainnya sehingga hal itu dipercaya sebagai obat mujarab untuk menghilangkan kekesalan dan duka lara mereka. Karenanya, curhat menjadi sangat bermanfaat bagi mereka walau membuat (hampir) muntah orang yang eneg membacanya.  Selamat curhat…

(Imam Santoz, karyawan di fakultas kehidupan)
_________
Gambar: Pixabay