Terbaru

Contributors

Budaya Baca-Tulis dan Mitos Masyarakat Madura


Bagi masyarakat Madura,  plasenta (tamoni; Madura) diyakini memiliki hubungan batin yang kuat dengan si bayi. Mereka menganggap plasenta ibarat kembaran bayi yang lahir mati (tentu tidak perlu ditahlili, hehehe) sekaligus teman di alam bawah sadar. Maka, ketika melihat bayi tertawa sendiri saat tidur dalam usia belum genap 40 hari, orang Madura mengganggap ia sedang bergurau dengan plasentanya.

Tentu ini lepas dari pengetahuan mereka tentang jasa plasenta selama pertumbuhan janin dalam rahim. Jangan heran, begitu bayi lahir, disambut sukacita oleh orangtua dan kerabat, plasenta juga diperlakukan cukup istimewa. Tidak lantas dibungkus lalu dihanyutkan ke sungai. Tidak demikian! Akan tetapi, orang Madura mengubur plasenta di halaman atau samping rumahnya.

Sebelum dipendam, plasenta dicuci dan disucikan, lalu dimasukkan ke dalam belanga. Lantas, ditaburi berbagai macam rempah yang sudah bersih dan dikupas kulitnya.

Ups! “Jangan banyak-banyak memasukkan merica, nanti anaknya jadi bandel!” Lha, itu peringatan orang tua untuk ayah-ibu muda yang hendak memendam plasenta. Katanya, jika terlalu banyak memasukkan merica ke wadah plasenta, si bayi akan jadi orang yang susah diatur. What?

Setelah rempah-rempah dimasukkan, lalu dilengkapi dengan tulisan “anacaraka”. Tulisan “anacaraka” diletakkan dalam wadah plasenta dengan harapan agar kelak si bayi tumbuh menjadi orang pintar. Cerdas. Pintar membaca dan menulis. Lalu, belanga ditutup rapat, dipendam dalam tanah, dikurungi, dan diberi lampu di atas timbunannya selama 40 hari tanpa mati.

Ow, ini sudah jelas. Masyarakat Madura sudah mengamanahkan baca-tulis untuk keturunannya sejak masih bayi melalui sambungan batin dengan plasenta. Bahkan jauh sebelum bayi lahir hal tersebut sudah dilakukan. Terbukti, saat selamatan kandungan tujuh bulan atau empat bulan yang disebut pelet kandung, calon orangtua diminta menyiapkan dua buah nyior pote (kelapa yang kulit sabutnya berwarna kuning pucat dan berukuran lebih kecil dari kelapa biasa). Satu buah diletakkan di pangkuan si ibu hamil bersama ayam pandhara’ (perawan) ketika dimandikan air kembang di tengah-tengah halaman. Satu buah lagi ditulisi basmalah, syahadataini dan huruf hijaiyah pada permukaan kulitnya, lalu diletakkan di atas lemari, di kamar si calon ibu.

Barangkali, apa yang dilakukan masyarakat Madura kita anggap budaya berbau mitos. Akan tetapi, paling tidak, mereka memiliki harapan dan doa kuat bersamaan dengan hal itu. Mereka seolah berpesan; “Menulislah! Menulislah! Menulislah! Bacalah! Bacalah! Bacalah!”. Itulah amanah yang mereka tegaskan.

So? Apakah kita mau dianggap pengkhianat amanah dengan berhenti menulis dan membaca? Oh, tidak! Teruslah menulis! Nggak apa-apa sekadar menulis status fesbuk asal bermanfaat bagi pembacanya, daripada hanya selpong (selfie) tanpa jelas tujuannya. Jangan berhenti membaca! Dengan membaca, kita telah menyingkap tirai dunia.

(Muna Masyari, cerpenis Madura. Salah satu karyanya termuat dalam buku kumpulan cerpen terbaik Kompas 2016)
__________
Gambar: Pixabay