Terbaru

Contributors

Don’t Ask: Kamu Kuliah di Mana?



Pada umumnya siswa atau siswi yang duduk di kelas akhir tingkat SLTA berkeinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Tak terkecuali saya pada dua tahun silam. Biasanya banyak pertimbangan terlebih dahulu, baik yang bersifat intern ataupun ekstern. Hal tersebut biasanya menjadi pemicu kurang percaya diri. Salah satu contoh faktor intern adalah mengumpulkan sebanyak mungkin informasi kampus-kampus “keren" dan jurusan paling sesuai dengan kemampuannya. Sedangkan contoh faktor ekstern (yang pernah saya alami) larangan dari orang tua karena tidak ada saudara yang bisa memantau: takut ini, takut itu, dan takut seabrek lainnya. Bisa dimaklumi, apalagi anak perempuan lulusan pesantren.

Mayoritas calon mahasiswa mengincar perguruan tinggi negeri. Hal tersebut karena biaya pendidikan di perguruan tinggi negeri tidak sebanyak di perguruan tinggi swasta. Tetapi menembus kampus negeri bukan perkara mudah. Di samping peminatnya sangat banyak, pun kuota per fakultas dibatasi. Di Yogyakarta misalnya, terdapat sekitar empat kampus negeri. Bayangkan saja misalnya di satu kampus negeri yang mencoba menempuh tes mandiri peminatnya sebanyak 7000-an orang dan yang diterima hanya di bawah seribu mahasiswa. Dimentok-mentokin lah dari empat kampus tersebut menerima sekitar empat ribu mahasiswa per tahunnya. Sudah berapa banyak yang tidak diterima di kampus negeri? Sekitar dua puluh empat ribu mahasiswa yang mau tidak mau harus melanjutkan ke kampus swasta, mencoba lagi tahun mendatang atau pulang dan memilih berusaha lain. Kejam memang, tapi ini fakta. Melihat gambaran seperti ini sudah jelas sangat mengerikan sekali.

Kalau melihat enak tidaknya menempuh pendidikan tinggi di kampus swasta atau negeri memang lebih enak di kampus negeri, jika hanya dilihat dari segi biaya yang diperlukan. Tetapi untuk kualitas jelas kembali pada tiap individu. Materi yang diterima mahasiswa baik di kampus negeri maupun swasta jelas mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Sarat mutlak cakap tidaknya seseorang bukan dilihat dari mana ia menempuh pendidikan, tetapi mampu tidak ia membawa nama baik almamaternya. Tidak ada jaminan apa pun bahwa mahasiswa lulusan negeri atau swasta akan mendapatkan masa depan cerah. Mengingat banyak sekali orang salah kaprah menilai tingginya pendidikan bisa mempengaruhi pekerjaan yang diminati dan dilamarnya nanti. Bagi saya pribadi, tinggi tidaknya pendidikan bukan menjadi acuan utama akan mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi dan bergengsi. Bekerja karena kita mau dan tahu, bukan di bawah tekanan.

(Elok Andriani, alumnus FLP Latee II Annuqayah.)
_______________
Gambar: Pixabay