Terbaru

Contributors

Hai Jomblo, Ayo (Jangan) Nikah!


Lebaran tahun ini saya punya bacaan baru, sebuah laman yang bernama Voila. Meski baru kenal, membaca beberapa tulisan yang pernah dimuat membuat saya memutuskan untuk terus ‘berteman’. Jujur saja, tulisan-tulisannya ringan tapi berbobot, sederhana namun kaya makna. Dari sinilah saya kemudian tertarik untuk mencoba berkirim tulisan.

Beberapa minggu ini, sehubungan masih dalam momen hari raya, ada banyak tulisan yang membahas tentang lebaran. Dari sekadar suka-cita hingga hikmah yang terkandung di dalamnya, termasuk juga mengenai nasib para jomblo. Kalau dipikir-pikir, pada dua bulan mulia ini (Ramadan dan Syawal) tak ubahnya menjadi bulan yang paling apes bagi kaum jomblo. Ada banyak momen romantis yang amat ditunggu-tunggu mereka yang sudah punya tunangan.

Bagi mereka yang menjalin hubungan jarak jauh alias LDR (Long Distance Relationship), Ramadan dan Lebaran akan membuat mereka sering bertemu dan atau berkomunikasi (ini berlaku utamanya untuk para santri, hehe). Bagi yang sudah bertunangan, ada tradisi ater bhuka di mana tunangan saling berkunjung ke rumah masing-masing pasangan dengan membawa hidangan buka puasa dan baju baru.

Belum lagi kalau sudah lebaran, sepasang kekasih itu akan semakin lengket dengan dalih silaturrahmi ataupun rekreasi ke tempat wisata. Beda halnya dengan bulan Syawal, si jomblo akan tambah ‘ngenes’ menyaksikan teman-temannya akan segera melepas masa lajang. Sebab dalam hitungan orang-orang tua, bulan ini sangat baik untuk melangsungkan pernikahan. Pada dua bulan ini, para jomblo seakan jatuh tertimpa tangga. Selain meratapi kesendiriannya, pertanyaan ‘kapan nikah' akan lebih sering muncul di pendengaran. 

Menjomblo memang sebuah beban berat. Suara-suara ejekan, gurauan, hingga kekhawatiran selalu datang menghampiri telinga. Bila beruntung, ada juga beberapa orang yang bersimpati menawarkan gadis-gadis atau perjaka-perjaka kenalannya. Butuh telinga super tebal dan hati ekstra luas agar bisa bertahan dari serangan-serangan seperti itu. Sebab bila tidak, bukan tidak mungkin si jomblo akan merasa malu, frustasi, atau bahkan bunuh diri. Namun sebegitu menderitakah nasib golongan manusia yang satu ini?

Sebenarnya, menjomblo bukanlah sesuatu yang hina. Tidak memiliki pasangan terkadang malah menjadi peluang seseorang untuk mencapai kesuksesannya. Bahkan jomblo bisa menjadi inspirasi tersendiri dalam meraih sukses. Tonton saja film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, setelah gagal dengan Hayati, Zainudin malah menjadi seorang penulis hebat. Atau komika Raditya Dika yang justru menjadikan kejombloan dirinya sebagai bahan stand-up komedinya. Sementara ada pula yang karirnya justru macet setelah melangsungkan pernikahan.

Bila ada yang mengatakan bahwa menikah adalah perintah agama, maka perlu diketahui bahwa ada banyak ulama yang justru tidak pernah menikah selama hidupnya. Imam Nawawi, Ibnu Jarir at-Thabari, dan Ibnu Taimiyah termasuk di antaranya. Bahkan dalam kitab Kifayatul Atqiya’, sangat dianjurkan untuk meninggalkan perempuan atau istri yang sekiranya dapat membuat kita lalai beribadah kepada Allah.

Meski begitu, hidup berkeluarga dalam balutan asmara dan kasih sayang adalah fitrah manusia. Karena pada dasarnya, semua manusia tak ingin hidup dalam kejombloan. Tak ada yang tak pernah memiliki perasan cinta kepada lawan jenis selagi masih normal dan bukan LGBT. Menikah juga bahkan dihukumi sunah dalam Islam guna menggenapi separuh agama  seorang mukmin.  Apalagi nabi juga pernah bersabda bahwa orang yang tidak mengikuti sunnahnya (tidak menikah) maka ia bukan termasuk golongan beliau.

Dalam menikah, terdapat banyak pahala yang bisa diperoleh oleh suami atau istri. Seorang suami akan mendapat pahala dengan memberi nafkah kepada istri. Begitu pula hanya dengan melayani suami secara baik, seorang istri akan meraih berlipat-lipat ganjaran dari Allah. Bahkan, berhubungan intim antara keduanya pun pahalanya akan menyamai dengan jihad membunuh ratusan orang kafir. Suatu hal yang mustahil diraih oleh seorang yang hidup menjomblo.

Meski begitu, bagi saya, jomblo tetap adalah makhluk yang “paling mulia” dan “disayang Allah”. Mengapa demikian? Seorang jomblo mesti terus bersabar dalam menghadapi pertanyaan ‘kapan nikah’. Belum lagi bila ada teman yang berkeluarga, ia harus bersabar setidaknya atas dua hal; sabar karena telah didahului sahabatnya dan atau  melihat seorang yang ia dambakan telah bersanding dengan orang lain. Bukankah Allah selalu bersama orang yang sabar? Walau terkadang, di situlah saya (baca: jomblo) merasa sedih.

(Ach. Khalilurrahman, mahasiswa semester akhir Fakultas Syariah Instika, Guluk-Guluk.)
____________
Gambar: Pixabay