Terbaru

Contributors

Jomblo Garis Keras, Bersatulah!


Sudah lama jomblo dalam laman ini jadi bahan olokan, sebagaimana sudah lama pula sebagai jomblo saya ingin menulis balasan. Karena jomblo bukanlah kesialan. Status jomblo bersamaan pula dengan takdir Tuhan.

Memang, jomblo aktivis yang seangkatan dengan saya mulai berguguran. Paling cepat adalah gerak dari Kak Irul dan Kak Kiki. Baru beberapa minggu kenal, baru beberapa minggu tunangan, kabarnya akan menikah pada tanggal 8 Juli 2017 di Jember.

Memang jodoh itu rahasia. Serahasia alam kubur yang tak bisa dirasakan sebelum benar-benar telah meninggal. Tiba-tiba yang hanya dalam beberapa hari kenal, lalu jatuh cinta, tiba-tiba sudah mengikatnya dengan tali pernikahan.

Ada pula yang berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun menjalin hubungan, berakhir dengan kata putus dan tak pernah terikat dalam pernikahan. Sahabat saya, namanya Nasrul, 8 tahun pacaran, malah tak menikah dengan alasan klasik: tak ada kecocokan. Eh, waktu 8 tahun lu ngapain aja kalo memang nggak cocok? Bila digunakan kredit motor sudah lunas tuh. Bila kuliah dengan serius sudah bisa lulus S2. Baru pas detik-detik penting untuk ke jenjang pernikahan, tiba-tiba terhempas dengan sebab yang “sederhana”.

Sahabat saya yang lain, namanya Jay, sekarang jadi Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur, juga masih jomblo dengan alasan yang diplomatis: "Saya ini sulit memilih." Sisi lebihnya dari sahabat saya ini adalah rasa percaya dirinya yang tinggi. Dengan wajah di bawah garis ganteng, ia memilih menjadi ketua IJNU (Ikatan Jomblo Nahdlatul Ulama) garis keras.

Jomblo aktivis yang saya kenal adalah mereka yang tak mampu membagi waktunya dengan perempuan. Apalagi dengan ikatan pernikahan. Banyak jomblo yang gugur dengan ikatan pernikahan, gugur pula perjuangannya di medan gerakan.

Bukan apa-apa, pikirannya sudah berubah. Bagi laki laki, jika belum punya anak, mikir belanja istri, baju istri dan buka baju istri. Kalau sudah punya anak, mikir popok, bedak, sabun, susu anak dan rebutan susu dengan anak.

Sementara secara psikologis kata Dr. Suryani, dosen psikologi saya di pascasarjana, kemampuan manusia itu secara psikologis tak bisa lebih dari jumlah jari di satu tangan. Lebih dari lima hal dipikirkan dalam sekali waktu, akan terancam tidak fokus dan ada yang terbengkalai. Syukur-syukur tidak stroke.

Untuk Kak Kiki dan Kak Arul, menikah bukan akhir dari berhenti berjalan di jalur gerakan. Tak perlu ada yang berubah. Sampai kita lupa bahwa kita sedang berjuang.

Bagi yang masih jomblo, tak perlu merasa hina dan kalah. Karena jika perasaan ini dibiarkan akan menyebabkan frustrasi, syok, ngawur dan galau berkepanjangan. Aksi-aksi terorisme yang terjadi belakangan itu adalah bagian dari orang-orang yang galau, merasa kalah dan termarginalkan.

Hanya saja, jomblo yang usianya sudah melampaui usia nabi saat menikah, dapat digolongkan sebagai jomblo garis keras. Jomblo yang sudah kelewat umur ini, baiknya tetap produktif. Sebagaimana yang dilakukan oleh Djemi Radji, salah seorang sahabat dan Gusdurian Gorontalo yang menyatukan kaum jomblo di Gorontalo dalam gerkan bersama bertajuk: Jomblo Melawan Korupsi. Tentu ini bernilai positif.

Jangan biarkan ada jomblo yang masih "nganggur". Ini bahaya. Beban psikologis ditambah dengan bullyan di medsos akan mengancamnya secara psikologis sebagai kaum yang kalah. Orang yang selalu dianggap kalah akan melakukan cara-cara kekerasan untuk melawan. Ini bahaya. Untuk itu, Mas Jay sebagai ketua IJNU perlu segera memberikan instruksi: "Wahai jomblo garis keras, bersatulah... kita lawan korupsi, radikalisme, narkoba yang merusak kebhinekaan kita..."

Warkop Gibol, Margorejo, Surabaya.

(Ach. Taufiqil Aziz, jomblo yang aktivis atau aktivis yang jomblo. Sedang menempuh S2 di UINSA)
__________
Gambar: Pixabay