Terbaru

Contributors

Kiai Mubarok dan Asta Misteriusnya


(Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul Kiai Mubarok dan Karomahnya)

Kiai Mubarok akhirnya wafat pada tahun 2002. Beliau wafat di rumah Pak Hisam, Desa Giring Kecamatan Manding. Rumah Pak Hisam memang merupakan tempat persinggahan Kiai Mubarok. Beliau dengan senang hati menjadikan rumahnya sebagai tempat bermalam bagi kiai Mubarok semasa hidupnya. Meski istri dan anaknya sempat tak suka, karena kerap dianggap mengganggu kegiatan keluarga, namun Pak Hisam tetap keukeuh melayani Kiai Mubarok dengan senang hati.

Kepada penulis, Pak Hisam menceritakan bahwa ia sangat khawatir apabila Kiai Mubarok sakit. Sebabnya tak lain karena takut Kiai Mubarok wafat di rumahnya dan kemudian dituntut oleh keluarga beliau. Namun, kenyataan berbicara lain: Kiai Mubarok benar-benar wafat di rumahnya.

Awalnya, ia ingin menguburkan jasad Kiai Mubarok di rumahnya. Namun, oleh Kiai Abdurrahman, pengasuh PP. Al-Bajigur Tenonan dan Kiai Kholil Ambunten, tidak diperbolehkan dan disarankan agar jenazahnya diantarkan ke Pesantren Karay, Ganding. Karena konon, beliau adalah saudara dekat dari Kiai Karay. Akhirnya, setelah disucikan dan disalatkan, Kiai Mubarok dibawa melalui Ambulan ke Karay, Ganding. Dalam perjalanan, kata Pak Hisam, rombongannya sempat dihentikan oleh orang tidak dikenal sebanyak 3 kali di tempat berbeda. Kesemuanya mengatakan bahwa Kiai Mubarok ingin dikuburkan di rumah Pak Hisam. Namun, pada akhirnya tetap dibawa ke Karay, Ganding, Sumenep.

Sesampainya di Karay, jenazah Kiai Mubarok dihaturkan kepada kiai. Namun, Alm. Kiai Hammad justru mengatakan bahwa Kiai Mubarok lebih senang dikuburkan di rumah Pak Hisam, Desa Giring. Namun, tiba-tiba ada rombongan dari Sampang yang mengaku sebagai keluarga Kiai Mubarok dan bermaksud untuk membawa jenazah ke Sampang. Awalnya, tidak dibolehkan, termasuk oleh Kiai Karay. Hanya saja, karena pihak Sampang memaksa pada akhirnya jenazah beliau dibawa dan dikuburkan di Sampang.

Sekalipun jenazahnya dikuburkan di Sampang, Pak Hisam tetap melaksanakan tahlilan setiap malam. Di malam ketiga setelah kewafatan beliau, Kiai Mubarok datang ke Pak Hisam membawa bungkusan. Kiai datang pada malam hari dan Pak Hisam menemuinya antara sadar dan tidak. Pada pagi harinya, bungkusan itu ternyata benar-benar ada di rumahnya.

Kejadian itu diceritakan kepada Kiai Abdurrahman Bajigur. Dan ternyata Kiai Bajigur juga mendapat isyarat ghaib bahwa Kiai Mubarok ingin dimakamkan di rumah Pak Hisam. Isyarat lain ternyata dilihat oleh masyarakat sekitar. Malam itu, katanya ada cahaya sangat terang (Madura: Landharu) yang hinggap di sekitar rumah Pak Hisam. Orang-orang meyakini bahwa itu adalah jasad Kiai Mubarok yang pindah ke rumah pak Hisam. Akhirnya, setelah nyabis ke beberapa kiai, diputuskan bahwa kiai Mubarok akan dibuatkan asta di depan rumah Pak Hisam. Hal ini dilakukan pada hari ketujuh dari kewafatannya. Adapun yang dikubur saat itu adalah bungkusan yang diberikan oleh kiai Mubarok pada malam ketiga kewafatannya.

Demikianlah yang terjadi dengan asta misteriusnya. Sebagian orang masih belum percaya bahwa asta Kiai Mubarok memang pindah sampai ada rombongan dari Sampang yang mengunjungi Pak Hisam. Rombongan tersebut meminta maaf kepada Pak Hisam atas tindakannya merebut jenazah Kiai Mubarok. Pada saat ditanya alasan minta maaf, rombongan dari Sampang itu mengatakan bahwa asta yang di Sampang sudang kosong melompong tiada isinya. Dan mereka meyakini bahwa Kiai Mubarok memang lebih senang dikuburkan di dekat Pak Hisam. Subhanallah.

Sampai hari ini, asta Kiai mubarok terletak di Desa Giring, Manding, Sumenep, di depan rumah Pak Hisam. Menurut Pak Hisam, setiap hari tidak pernah sepi dari peziarah. Peziarah tidak hanya datang dari daerah Sumenep, tapi juga dari Pamekasan, Sampang, Bangkalan, dan bahkan dari Jawa. Hal itu dibuktikan oleh Pak Hisam dengan menunjukkan buku tamu kepada saya.

Salah seorang pengunjung yang berasal dari Ambunten Sumenep menyatakan bahwa ia sering mengunjungi asta Kiai Mubarok. Entah kenapa, ia merasa cocok karena dengan sebab ziarah ke asta beliau, hajat dan keinginannya lebih mudah diterima oleh Allah Swt. Karenanya, ketika ia punya suatu hajat, ia memang tidak lupa untuk bertawassul dan berziarah ke asta beliau. Mungkin karena Kiai Mubarok memang waliullah.  Wallahu A’lam.

Catatan: Tulisan ini disarikan dari bincang-bincang bersama Pak Hisam. Mohon koreksinya apabila menemukan kesalahan. 

(Paisun,  alumni Instika, Guluk-Guluk, Sumenep)
________________
Gambar: Pixabay