Terbaru

Contributors

Kiai Mubarok dan Karomahnya


Namanya Kiai Mubarok. Semasa masih hidup, tak ada yang tahu tentang identitas beliau secara lengkap: asal usul, silsilah, famili, dan sebagainya. Kabar masyhur menyebutkan bahwa beliau adalah keturunan kiai besar dan juga seorang waliullah. Kenapa disebut waliullah? Tak ada yang bisa memberikan jawaban pasti. Hanya saja, konon, pada saat-saat tertentu, beliau menampakkan karomah-karomah tertentu. Misalnya, meski tubuhnya tambun dan bahkan cenderung berat, beliau bisa meringankan badan seringan kapas saat membonceng kepada orang yang disukainya. Masyarakat juga percaya bahwa jika ada orang yang menolak ajakannya untuk mengunjungi suatu tempat, maka orang yang bersangkutan akan mendapatkan kesialan tertentu, entah dalam hal apa.

Seingat saya, Kiai Mubarok tidak pernah bicara. Namun, orang terdekatnya, bisa memahami apa yang diinginkannya. Kiai Mubarok gemar minta diantar ke tempat-tempat tertentu, khususnya kepada masyarakat yang sedang mengadakan gawe. Beliau selalu tahu di daerah mana sedang mengadakan acara tersebut. Masyarakat yang didatangi Kiai Mubarok kadang gembira, kadang pula sedih, karena khawatir kedatangannya justru mengabarkan hal-hal yang tak diinginkan.

Di antara keanehan yang pernah saya catat tentang Kiai Mubarok adalah yang terjadi di tetangga desa saya, yakni desa Gadding Kecamatan Manding. Tersebutlah seorang wanita hamil bernama Hawa. Di masa kehamilannya, entah kenapa, ia sangat membenci Kiai Mubarok. Bahkan, bertemu dengan beliau, ia ingin muntah-muntah. Karena khawatir mendapatkan tulah dari beliau, familinya meminta ‘air’ dari Kiai Mubarok. Air itu diminum, namun setelahnya, Hawa muntah-muntah. Kiai Mubarok memberikan isyarat, bahwa anaknya akan lahir dengan mudah. Benar saja, anaknya bisa lahir dengan mudah dan selamat. Namun, di sinilah keanehannya: anak yang lahir dari rahim Hawa ini secara fisik sama dengan Kiai Mubarok. Anak yang kemudian diberi nama Shofi ini memang benar-benar mirip dengan beliau dan dianggap merupakan titisan dari beliau. Sayangnya, Shofi akhirnya meninggal dunia, menyusul Kiai Mubarok beberapa tahun kemudian.

Cerita tentang keanehan lainnya datang dari kakak ipar sepupu saya sendiri. Suatu kali, di malam nishfu Sya’ban, ia dihadang oleh Kiai Mubarok di daerah Paltuting, pertigaan menuju Kecamatan Dasuk dan Batuputih. Kakak saya diminta untuk mengantar Kiai Mubarok ke tempat yang tidak diketahuinya. Kiai Mubarok hanya menunjuk arah, ke mana ia akan menuju. Kakak saya sempat khawatir karena bensin sepedanya hampir habis. Ia pamit kepada Kiai Mubarok untuk membeli bensin, namun tidak dibolehkan. Dan ternyata,  setelah berkeliling Manding-Sumenep-Bangkal-Baban, yang kira-kira menempuh jarak ± 60 km, bensinnya tidak pernah habis. Malah, ia bisa pulang ke rumah tanpa menambah bensin lagi.

Satu cerita lagi tentang Kiai Mubarok. Di desa saya, ada orang yang memaki dan mencela Kiai Mubarok. Menyebut Kiai Mubarok sebagai kiai bohongan, “bukan kiai sebenarnya”. Dan apa yang terjadi? Orang tersebut kecelakaan dan mendapat luka berat serta patah tulang. Sampai sekarang, yang bersangkutan tidak bisa berjalan normal.

Tak ada yang menjamin bahwa cerita tersebut adalah benar seratus persen. Akan tetapi, saya percaya bahwa beliau memang mempunyai keistimewaan tertentu yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang istimewa. Beliau adalah sosok misterius. Semesterius dirinya yang tidak pernah ada yang tahu datangnya dari mana.
(Paisun, alumni Instika, Guluk-Guluk, Sumenep)
___________
Gambar: Pixabay