Terbaru

Contributors

Mata Air yang Terancam Hilang


Dalam undang-undang dasar negara kita, sebenarnya sudah jelas bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Namun pada praktiknya, kenyataan di lapangan tak semanis bunyi undang-undang dasar. Pemodal di negara kita dapat menguasai bumi, air, dan kekayaan yang terkandung di bumi untuk kepentingan mereka sendiri, demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-sebesarnya. Contoh kecil dalam hal ini adalah penguasaan pemodal terhadap sumber mata air.

Air merupakan kebutuhan pokok hidup manusia. Kehidupan tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya ketersediaan air yang cukup. Boleh saja seseorang tidak memiliki sesuap apa pun untuk dimakan, namun selagi masih ada air, mereka masih bisa bertahan 2-3 bulan, tergantung kebugaran tubuhnya. Sebaliknya, penelitian menunjukkan bahwa manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa air lebih lama dari 100 jam. Tentu saja, hal ini masih dipengaruhi oleh cuaca, kesehatan dan kebugaran, serta lingkungan di mana ia tinggal.

Sumber mata air pada mulanya adalah milik semua orang. Semua berhak untuk memanfaatkaan air untuk keperluan hidup mereka: minum, mandi, mencuci dan memasak. Namun belakangan, air tak lagi dimiliki semua orang. Air semakin mahal karena dikuasai oleh pemodal. Mereka menguasai sumber mata air besar dan mengeksploitasi air tanah dalam jumlah besar untuk dijual dalam bentuk kemasan. Belakangan, merek air kemasan semakin menjamur dan membanjiri kehidupan kita. Air minum dalam kemasan kemudian menjadi gaya hidup baru masyarakat kota hingga desa. 

Eksploitasi besar-besaran terhadap sumber mata air dan juga air tanah menyebabkan pengurangan debit air dalam jumlah yang signifikan. Amang Fathurrahman, dari Universitas Yudharta Pasuruan menyatakan bahwa Pasuruan yang diapit oleh Gunung Arjuna dan Gunung Tengger memiliki potensi sumber air yang luar biasa. Karenanya, Pasuruan kemudian menjadi “surga” bagi perusahaan AMDK yang memproduksi produk terkenal seperti Aqua, Club, Le Minerale, Cleo, dan lainnya. Namun, eksploitasi terhadap sumber mata air dan air tanah di Pasuruan sudah mulai dirasakan dampaknya saat ini.  Amang Fathurrahman, mengutip Gunawan Wibisono, Hidrolog dari Universitas Merdeka (Unmer) Malang menyatakan bahwa dari hasil penelitiannya debit mata air Umbulan Kabupaten Pasuruan sudah berkurang jauh sejak 30 tahun terakhir. Wibisono mengungkapkan pada tahun 90-an, debit air di Umbulan masih 6000 liter/detik, namun pada tahun 2017 ini hanya pada kisaran 3.200 liter/detik. Wibisono mengungkapkan faktor dominan penurunan debit air Umbulan karena kerusakan lingkungan dan pemanfaatan air tanah yang berlebihan.

Ironisnya, eksploitasi besar-besaran juga menyebabkan masyarakat sekitar justru tidak mendapatkan air yang cukup. Dalam esai yang ditulis oleh Bagus Suryo dengan judul “Mati Dahaga di Tengah Telaga”, sebagaimana dikutip Amang Fathurrahman, digambarkan tentang perjuangan masyarakat Desa Karangjati Lumbang Pasuruan, salah satu desa yang dekat dengan mata air Umbulan, yang setiap hari harus mengantri untuk mendapatkan air bersih. Di desa dengan mayoritas etnis Madura tersebut harus rela mendapat jatah dua jurigen air per Kepala Keluarga (KK) agar pemerataan air dapat dirasakan oleh semua warga. Kondisi serupa juga dirasakan di beberapa desa yang lainnya di beberapa kecamatan di Kabupaten Pasuruan, diantaranya: kecamatan Lumbang, Pasrepan, Lekok, Nguling, Rejoso, Kejayan, Winongan, Puspo dan Gempol. Tentu saja, hal ini merupakan ironi di tengah melimpahnya sumber air di Pasuruan. Yang banyak menikmati justru para pemodal, karena mereka menjual air yang seharusnya milik masyarakat, sementara masyarakat hanya mendapatkan “ampas”-nya berupa CSR perusahaan yang tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar.

Pengalaman Pasuruan seharusnya menjadi alarm terhadap daerah-daerah lain di Indonesia, khususnya  Madura. Saat ini, perusahaan-perusahaan AMDK juga bertebaran di Madura, baik yang berskala lokal maupun perusahaan nasional yang membuat pabrik di Madura, seperti perusahaan AMDK merk Club atau Viand di Sumenep. Dalam waktu dekat, bukan tidak mungkin sumber-sumber mata air besar di  Sumenep menjadi incaran untuk juga dieksploitasi oleh perusahan-perusahaan AMDK.

Dalam hal ini, pemerintah diharapkan memiliki keberpihakan terhadapa rakyat kecil, yakni dengan membatasi berdirinya perusahaan-perusahaan tersebut agar kejadian seperti di Pasuruan tidak terulang di Madura. Yang tak kalah penting adalah membatasi pertambangan yang cukup mengkhawatirkan di beberapa kawasan di Sumenep. Di mana pertambangan, baik minyak bumi, bahan galian dan seterusnya telah merusak alam sekitar dengan signifikan. Dalam skala kecil namun masif, kita bisa melihat galian batu gamping di pedesaan oleh masyarakat dengan peralatan tradisional telah membuat bukit yang pada mulanya asri menjadi gundul. Belum lagi penambangan yang menggunakan alat-alat berat yang skala kerusakannya lebih besar ketimbang yang menggunakan alat tradisional tersebut.

Untuk saat ini, kita masih belum merasakan kesulitan air, baik untuk minum, memasak, mandi dan mencuci. Sumber mata air masih relatif banyak ditemukan di mana-mana, terkecuali memang di daerah tertentu seperti Prancak, Batuputih, Giliraja dan lainnya, yang memang daerah sulit sumber air. Namun, dalam beberapa puluh tahun ke depan, bukan tidak mungkin, air yang melimpah ini akan terus berkurang dan bahkan bisa habis manakala kita tidak mau merawat dan menggunakannya sebatas yang kita perlukan, dan ketika ekosistem rusak karena ketamakan manusia. Tentu saja kita tidak ingin anak cucu kita kelak bersuci dengan tayamum dan harga air lebih mahal dari pada sepasang Sapi Sono’. Wallahu A’lam.

(Paisun, pemerhati lingkungan)

___________
Sumber gambar: http://marketeers.com