Terbaru

Contributors

Melalui Buku, Saya Tak Pemalu



Di balik manfaat membaca buku, ternyata ada kedahsyatan lain yang sering saya rasakan ketika pertama kali bergelut dengan dunia perbukuan. Kedahsyatan membaca buku bukan sekadar pepesan kosong, karena saya pribadi merasakan langsung bagaimana pengaruh buku bagi kehidupan saya ketika masih tinggal di pesantren.

Ketekunan saya membaca telah mengantarkan saya pada kecintaan pada buku yang berlipat ganda sehingga secara tidak langsung memengaruhi cara berpikir, berperilaku, dan bertindak dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan masa depan saya. Menurut Indra Gunawan (2004:3), literatur buku berupa bacaan dapat memperluas wawasan dan pengetahuan sekaligus memberi kedalaman mengenai hakikat eksistensi kita sebagai manusia. Sejak itu, saya merasakan betul kedahsyatan buku yang bisa mengubah cara pandang dan paradigma berpikir saya.

Pertama kali saya masuk pesantren, saya adalah seorang yang pemalu. Namun melalui buku saya berani menerjang arus sekalipun. Melalui buku, saya jadi tak lagi menjadi lelaki pemalu yang kurang percaya diri dengan kemampuan yang saya miliki. Melalui buku pula saya sudah berani menuangkan ide dan gagasan saya dalam bentuk tulisan untuk dikirim ke beberapa koran yang menampung rubrik opini maupun esai.

Pengalaman saya waktu belajar di pesantren memang banyak memberi pelajaran berharga bagi keberlangsungan pendidikan saya sampai sekarang. Kalau untuk saat ini, saya terus terang semakin keranjingan untuk memburu buku-buku, baik agama, sosial, politik, budaya atau hal apa pun yang bermanfaat untuk dibaca. Setelah itu di sela sela waktu luang, saya mencoba menuliskan di atas catatan-catatan kecil atau juga langsung saya praktikkan di depan komputer.

Sampai kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jogja, kegemaran saya membaca dan menulis tidak pernah padam, bahkan semakin meningkat tajam. Banyak media yang menyediakan rubrik opini dan esai, membuat saya semakin rajin menulis setiap hari hingga menghasilkan beberapa tulisan yang nanti akan dikirim ke salah satu media nasional. Dengan modal menulis, saya bisa membiayai hidup saya sendiri tanpa bergantung pada kiriman orang tua di rumah.

Pengalaman saya sebagai orang yang senang membaca buku sempat mendapat cap sebagai “kutu buku” oleh teman sekitar saya, karena di saat saya kuliah, bepergian dengan teman, bahkan saat mengaji selalu saya selipkan sebuah buku untuk dibaca. Dengan begitu saya bisa membacanya di angkot, saat menunggu bus di halte ataupun saat saya jalan sendirian. Awalnya saya risih karena setiap kali jalan selalu diperhatikan orang, karena jarak kampus dan kos yang cuma 1 km, maka saya sering memanfaatkan untuk jalan kaki daripada berkendaraan. Jadi setiap kali di jalan saya selalu sempatkan membaca buku tetapi dengan fokus melihat jalan.

Seringkali saya bercermin untuk membandingkan diri saya, dari yang tidak begitu suka membaca buku, sampai sekarang keranjingan membaca buku, sepertinya ada yang tak lengkap bila waktu senggang tidak membaca. Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta pada buku. Dan saya yakin di luar sana merekapun merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan. Pengalaman saya di pesantren adalah sebagian kecil cerita saya mengenal buku, dan mungkin di luar sana pun mereka punya cerita unik lain seputar dahsyatnya membaca buku. Bagi saya, buku adalah bagian dari terapi sekaligus obat mujarab, karena bisa membuat saya rileks dan bisa menghilangkan stress.

Pengalaman saya menikmati kedahsyatan buku bukan sekadar bertujuan mencari sensasi semata, melainkan karena buku memang memberikan daya tarik (interest) tersendiri dalam perjalanan karir dan masa depan saya. Sejak saya menikmati kedahsyatan buku, saya sering merasakan perubahan mendasar dalam hidup saya, terutama berkaitan dengan perubahan tingkah laku saya yang semakin berani menuangkan gagasan-gagasan dalam bentuk tulisan.

Saya sangat bersyukur karena Tuhan memberikan bakat luar biasa dalam hidup saya berupa kegemaran membaca dan menulis sehingga menjadi satu aktivitas yang tidak pernah ditinggalkan setiap hari. Alangkah bahagianya, jika aktivitas menulis saya berjalan seiring dengan masa depan hidup saya kelak. Maka, saya akan menularkan bakat dan hobi saya itu kepada anak-anak saya agar juga merasakan kedahsyatan membaca dan menulis sebagai bagian dari kebutuhan hidup yang mesti dijalani.

(Mohammad Takdir Ilahi, donsen di Instika, Guluk-Guluk, Sumenep)