Terbaru

Contributors

Memperjuangkan PMII dari Pinggir


Pelan namun pasti, kini PMII telah tercerabut dari akarnya. Ia bukan lagi organisasi pergerakan yang akrab dengan isu-isu pinggiran. Munculnya kecenderungan ini, karena PMII telah mengalami krisis ideologis. Satu kondisi di mana PMII mejadi gerakan elitis di hadapan kekuasaan. Yang mengakibatkan visi-visi ideologisnya terpasung dalam relasi “struktural”-nya yang cendurung sangat pragmatis di hadapan politik praktis. Kecenderungan pada relasi politik inilah ideologisasi PMII hanya selesai di meja-meja diskusi. Ideologi tersebut gagal berdenyut dan menemukan perwujudannya dalam kehidupan warga pergerakan.

Aswaja yang dulu diagung-agungkan dan menjadi ruh gerakan dengan sendirinya bergeser menjadi “baju” dan “celana” untuk kepentingan-kepentingan pribadi. Atas kondisi inilah, PMII menjadi “gerakan urban” dan sangat borjuistik. Yang melanggengkan egoisme dan hasrat pribadi, menipiskan solidaritas, memupuk kebanggaan atas kemewahan materiil di atas ketimpangan sosial.

Sehingga konsekuensinya, menciptakan kesenjangan antara gerakan ini, dengan basis kulturalnya yang dari dulu tertanam dalam PMII itu sendiri. Kita amati saja, bagaimana PMII saat ini secara kelembagaan telah mulai menjauhkan diri dari pesantren, nyaris anti masjid, bahkan sebagian ada yang sudah gengsi berbaur dengan penduduk-penduduk desa. Yang juga lebih ironis, posisi-posisi strategis secara struktural cenderung hanya dijadikan “panggung” untuk kepentingan mendekatkan diri pada kelompok-kelompok status-quo, seperti politisi dan para pengusaha, untuk kepentingan-kepentingan pribadi.

Pada keadaan inilah, kita memahami bahwa perjuangan ideologis secara struktural (baca: kelembagaan) tak memadai dan rentan mengalami kegagalan, karena ia memiliki hubungan dengan para elit-politik atau kekuasaan yang diam-diam dibangun untuk kepentingan yang sering mereka katakan: “belanja organisasi”, walaupun sebenarnya lebih banyak masuk ke kantong pribadi.

Relasi tersebut pelan-pelan menghegemoni dan membuat PMII bersujud di bawah sang politisi itu, sehingga sang politisi berhasil meredam gerakan-gerakan perlawanan yang harusnya dilakukan oleh PMII terhadap kasus-kasus di meja pemerintahan yang kebijakan-kebajiakannya nyaris tak pernah pro-masyarakat kecil. Di sinilah terjadi transaksi idealisme dalam tubuh PMII: keadaan di mana aksi demonstrasi dan pendampingan terhadap masyarakat dengan begitu gampang terbeli oleh lembaran uang yang dapat lenyap dalam sekejap mata.

Ya, saat ideologi bergeser ke ruang politik, maka yang diabaikan—dalam ideologi tersebut—adalah persoalan ide-ide progresifnya, nilai-nilainya, dan sejarahnya, sebagai faktor yang menggerakkan perlawanan itu.

Dalam situasi ini, penulis menemukan jalan yang mungkin lebih segar dan strategis dibandingkan gerakan struktural (kelembagaan), yang akan penulis sebut dalam tulisan ini sebagai “gerakan pinggiran”. Gerakan ini, adalah model penghayatan ideologis yang ingin kembali pada orientasi-orientasi kultural, bukan struktural, yang memungkinkan untuk dapat diterapkan pada wilayah, seperti: Komisariat dan Rayon, ketika kodisi di Cabang, PKC, bahkan PB, saat ini sudah tidak memungkinkan dalam misi ideologis tersebut.

Keinginan untuk kembali berada dalam jalur kultural ini, dapat dikatakan sebagai satu agenda pembaharuan dalam dialektika pemikiran dan gerakan di PMII. Yang berusaha meletakkan kembali PMII berada pada kosmologi masyarakat pinggiran, sebagai pijakan awal tempat dulu ia dilahirkan. Lewat strategi kultural ini, PMII berupaya membangun gerakan murni berdasarkan spirit belajar, idealisme, yang digerakkan melalui motivasi ideologis yang utuh.

Ya, gerakan pinggiran ini, akan menjadi negasi bagi gerakan struktural dalam kelembagaan PMII. Gerakan ini, mencoba menempuh jalan yang lebih “bersih” dan berusaha mendifinisakannya sebagai gerakan yang berorientasi pembebasan yang sumbernya digali dari persilangan antara ajaran-ajaran Aswaja, kearifan lokal, dan kritik sosial. Jika secara kelembagaan PMII bergerak melalui cairan-cairan dana para politisi, maka PMII dengan jalan kultural ini, berusaha menggerakkan diri dari solidaritas keorganisasian, dan penguatan basis intelektual yang berafiliasi langsung tanpa jarak dengan masyarakat-masyarakat pinggiran.

PMII dengan model  penghayatan ideologis seperti ini memang nampak kere, miskin, dan selalu tampil apa adanya, dibandingkan PMII struktural yang tentu hidupnya lebih mewah dan serba berkecukupan. Namun nilai plus dari PMII pinggiran ini, dengan relasi kulturalnya, ia berusaha memutus relasi terhadap kekuasaann yang tidak jarang menungganginya. Ia hidup merdeka, bebas, dan tetap saling menghormati;ibarat bibit unggul yang mengakarkan PMII dari “rezim politik” tertentu, “kepentingan pribadi” dan “pragmatisme”, menjadi organisasi yang lebih dewasa dan ikhlas bergumul  dengan masalah-masalah ekonomo-politik yang keras yang setiap saat dihadapi masyarakat. Ia, sebagai bibit unggul (baca: PMII kultural) tumbuh di lahan mana pun: tandus, kering, apalagi subur dan makmur. Wallahu a’lam...

(Moh. Roychan Fajar, aktivis PMII Sumenep, Madura)
___________
Gambar: jitunews.com