Terbaru

Contributors

Meneladani Pribadi Nonmuslim yang Islami


Akhir-akhir ini banyak sekali paham yang resisten dan anti terhadap kelompok agama tertentu. Para pengikutnya menjaga jarak dan enggan untuk hidup berdampingan dengan penganut agama di luar mereka. Anehnya lagi, mereka mengaku dan mengatasnamakan umat muslim. Padahal, tidak demikian Islam mengajarkan.

Saat kepulangannya dari studi di Harvard University, Prof. Dr. KH. Abdul A'la Basyir membawa oleh-oleh yang disampaikan kepada teman-teman mahasiswa angkatan saya. Waktu itu beliau menyampaikan materi kuliah di STIKA (sekarang Instika), kami semua mengikuti dengan seksama. Kira-kira begini kata beliau, "Saya melihat Islam di Amerika Serikat, tidak hanya di mall, kampus, jalan raya, perpustakaan dan bandara. Bahkan di gereja, saya melihat Islam berada di sana."

Saya baru mengerti, setelah beliau menjelaskan dengan gamblang. Bahwa perilaku islami dan nilai-nilai keislaman, ternyata justru banyak ditampilkan oleh mereka yang nonmuslim di negara-negara yang mana keberadaan Islam di sana hanya sebagai agama minoritas.

Artinya, Islam sebagai agama yang "ya'lu wa la yu'la alaih" bisa dibuktikan jika dapat menciptakan peradaban yang maju bagi para umatnya. Tetapi, jika umatnya hanya sebatas memeluk agama Islam, mustahil peradaban yang maju tersebut bisa kita persembahkan, karena sekali lagi kita hanya sebatas pemeluk, bukan pengamal ajaran agama Islam dengan menunjukkan nilai-nilai hakiki yang selama ini terlupakan dan terabaikan.

Islam sebagai agama hanya dimaknai sebatas kegiatan ibadah secara ritual, bukan diamalkan di tengah-tengah kehidupan bersosial, berkonomi, berbudaya, berbangsa dan bernegara secara fugsional serta aplikatif sesuai tuntutan peradaban kehidupan.

Seakan lupa, umat Islam di sekitar kita lebih dominan menjalankan agama secara vertikal, tapi mengabaikan agama sebagai media ibadah secara horizontal yang meniscayakan sebuah aktualisasi  berwujud pengamalan secara nyata dalam kehidupan sehar-hari.

Secara vertikal, kita adalah hamba yang senantiasa beribadah kepada Allah dengan ritual yang bersifat formal sebagaimana tertuang dalam rukun Islam. Yang dibutuhkan hanyalah penghayatan dan kekhusyukan sebagai bentuk usaha mendekatkan diri kepada Allah secara rohani.

Sedangkan secara horizontal, kita adalah makhluk sosial yang senantiasa harus menebarkan nilai-nilai ketuhanan karena kita adalah duta Allah di muka bumi yang memiliki tugas khalifatu allah fi al-ardl. Di sinilah eksistensi kita sebagai pengamal ajaran agama  diuji. Sejauhmana kita dapat meninggikan agama Islam tidak hanya di hadapan Allah, tetapi juga di muka bumi dan di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, termasuk di hadapan pemeluk agama lain sebagai perwujudan syiar agama dan dakwah bi al-hal. Hal itu tentunya melalui pengejawantahan nilai-nilai mulia yang ma'ruf dan islami.

Di negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam seperti Indonesia,  "al-nadhofatu min al-iman" kebanyakan hanya sebatas dijadikan slogan. Ukhuwah Islamiah, basyariyah, dan wathoniyah, hanya diceramahkan dan diseminarkan, tapi sayangnya tidak mampu dibumikan dalam bentuk ibadah amaliah secara nyata.

Justru, yang diam-diam menjiplak dan mampu mengamalkan nilai-nilai agama Islam adalah mereka di luar agama kita. Maka berbaur, hidup bersama, berdampingan atau bekerja sama dengan mereka, janganlah dipandang sebagai sesuatu yang dianggap tabu. Eksklusifisme hanya akan menciptakan sinisme yang berlebihan dan dapat berujung pada pertikaian.

Harusnya, kita kagum pada mereka yang mampu membuktikan ketinggian agama Islam dengan cara mengamalkan nilai-nilai substansi yang terpendam di dalamnya, meski terkadang sebenarnya mereka sendiri tidak pernah menyadarinya. Setidaknya, mari kita belajar pada mereka yang secara eksplisit telah mampu mengejawantahkan perilaku, sikap, sifat, karakter dan wajah keislaman yang sebenarnya, dibanding kita sendiri yang identitas islamnya selama ini ternyata hanya tertulis di KTP. Sehingga, di mana-mana sarana publik kita tetap kotor, tidak tertib, dan tidak bersih. Pertikaian atas nama agama dan sara juga sering terjadi di negara kita yang mayoritas muslim ini. Bahkan sesama muslim pun saling menghujat dengan ujaran kebencian.

Seperti yang sempat saya baca kemarin, tidak berlebihan kiranya jika sebuah media online berani memuat sebuah tulisan yang berjudul; "Adakah Gubernur yang Seislami Ahok?", karena memang begitulah faktanya. Meski dia dari kalangan etnis Cina dan beragama Katolik, namun mampu menampilkan gaya kepemimpinan, sikap, karakter dan cara pandang yang mewakili wajah agama Islam.

Pantas saja, empat belas abad yang lalu Nabi memerintahkan kita belajar meski jauhnya hingga ke negeri Cina. Diakui atau tidak, ajaran dan nilai-nilai Islam ternyata diamalkan di sana, meski mereka bukan pemeluk agama kita.

Akhirnya, kita hanya bisa iri, tidak terima dan bertindak secara frontal melihat setiap lini kehidupan sosial, politik, ekonomi dan bisnis di negeri berpenduduk mayoritas muslim ini, ternyata banyak dimenangkan dan dikuasai umat agama selain Islam.

Inilah fenomena keterasingan dalam beragama. Kekhusyukan umat dalam beragama, tidak mengantarkannya untuk mampu menangkap pesan-pesan agama tersebut secara substansi yang terkadang berupa simbol-simbol yang perlu diterjemahkan dalam bentuk aksi di ruang kehidupan nyata.

Islam yang bermuatan ajaran universal akhirnya dilirik oleh pemeluk agama lain sebagai sebuah nilai moral-mental yang relevan dalam membangun peradaban dan kemajuan dalam kehidupan, terutama di negaranya sendiri.

Pada gilirannya, kita menemukan mental dan kepribadian yang islami dalam diri penganut Nasrani dan agama lain, seperti kejujuran, kerja keras, ulet, kesabaran, ketangguhan, keberanian menyuarakan kebenaran, semangat persaudaraan dan mampu mengesampingkan sifat tamak, rakus serta serakah dengan disiplin dan etos kerja yang tinggi.

Contoh konkritnya adalah bekam. Sebagai cara pengobatan Islami yang diajarkan dan diwariskan oleh Nabi, ternyata belakangan ini bekam malah banyak dikembangkan oleh negara Cina. Ketika nyantri  di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep, saya pernah mengikuti pelatihan kesehatan dengan tema Thibbun Nabawi (Pengobatan ala Nabi). Hadir pula waktu itu di tengah-tengah acara, Syaikhona al-Kirom KH. Hanif Hasan (salah satu Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah) karena kebetulan sang tutor adalah teman beliau ketika nyantri di Gontor.

Di akhir acara, beliau mengaku kecewa dan menyayangkan, karena alat bekam yang dibawa oleh tutor dan sudah dimodifikasi lebih modern oleh pabrik itu ternyata bertuliskan "MADE IN CHINA", bukan "MADE IN INDONESIA" yang penduduknya mayoritas muslim. Wallahu a'lam.

(Jufri Marsuki, penulis adalah pegiat Gerakan Anti Diskriminasi Etnis, tinggal di Nyalaran, Pamekasan.)
___________
Gambar: Pixabay