Terbaru

Contributors

Menikah, Seberapa Penting? Sebuah Pleidoi bagi Kaum Jomblo


Zamannya "pernikahan dini" sudah tidak lazim. Itu kuno. Agnes, pemain sinetron "Pernikahan Dini", gagal menikah dini. Hingga tidak dini lagi seperti sekarang, dia belum menikah juga. Pernikahan dini itu bagus kalau difilemkan, bukan dipraktikkan.

Buku Fauzhil Adzim yang juga membicarakan hal serupa, "Indahnya Pernikahan Dini", sudah dilupakan orang. Bahkan kurang kredibel sebab anak Pipiet Senja yang menikah dini, Haekal Siregar, yang pada zamannya dijadikan maskot pasangan muda, sudah lama bercerai. Jadi pernikahan dini tidak identik dengan sakinah. Bisa-bisa jadi musibah.

Sebab itu, menikah tidak harus terburu-buru, harus dipikir ulang. Tidak boleh sembarangan. Sebab salah dikit, kerugiaannya kolosal dan tidak bisa balik modal. Begini kalkulasinya: tunangan butuh modal dari lamaran hingga uang jajan pulsa dan aksesori hari besar dan lebaran. Makin lama tunangan, modal makin banyak keluar. Lalu menikah, modalnya lebih besar lagi. Lalu setelah 2 tahun bercerai. Anak masih kecil. Silahkan hitung berapa materi yang terbuang dan segmen emosional yang terbakar.

Maka saat itu kita tidak bisa mengembalikan modal yang kadung kita keluarkan, terutama keperawanan dan keperjakaan, dua modal penting yang banyak dilirik oleh "para investor".

Oh ya, Pak Fauzhil Adzim sering menakuti-nakuti dalam bukunya bahwa orang yang membujang dianggap tercela  dan yang paling tercela adalah bujangan yang meninggal dunia. Beliau menyebutnya itu hadis. Ini sangat populer. Namun sayang ahli hadis menyebut hadis tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan validitasnya. 

Disamping itu, jika membujang adalah tercela menurut Nabi, banyak ahli hadis yang justru tidak menikah. Bacalah kitab al-Ulama' Al-'Uzzab. Di situ tertera puluhan ulama legendaris yang hingga akhir hayatnya tetap jomblo. Di antaranya Jalaluddin al-Suyuti dan Ibnu Taimiyah.

Jika tidak memiliki rencana matang sebaiknya mengikuti al-Ulama' al-'Uzzab tersebut. Lebih aman. Apakah tidak khawatir tidak dianggap umat Rasul sebagaimana hadis yang sering dibacakan pembawa acara pernikahan bahwa barang siapa yang tidak senang dengan sunnahku (menikah) falaisa minni? Itu yang tidak dianggap jika tidak senang menikah. Siapa yang tidak senang menikah? Semua senang, berkali-kali pun is oke. Antara tidak siap menikah dengan tidak senang itu beda kasus. 

Bahkan jika tidak siap menikah bisa-bisa dijatuhi vonis makruh hingga haram. Soalnya kalau tidak siap, lalu dipaksa atau terpaksa menikah, yang dirugikan itu banyak kalangan: dari pasangan hidup, mertua, orang tua sendiri hingga masyarakat yang sudah payah bikin terop dan angkat lincak pelaminan.

Ingat, menikah bukan semata urusan aktualisasi libido. Jika hanya itu masalahnya, solusinya mudah. Berpuasalah, kata Nabi. Tundukkan pandangan, kata al-Quran. Banyak berolahraga, kata Dokter Boyke. Menikah itu lebih kepada urusan membina diri, istri anak dalam masalah agama, pendidikan, ekonomi dan juga managemen organisasi. Jika salah satu saja macet, pusing. Sebab itu, pasangan hidup – kata al-Quran -  bisa jadi musuh. Azwajukum 'aduwul lakum.

Maka, jika tidak siap menikah, kita hanya akan menambah musuh hidup, bukan teman hidup. Malangnya, musuh itu kita harus temani dalam satu atap setiap hari. Jika tidak kuat-kuat betul, bisa cerai. Ingat resiko cerai di atas! Gawat, kan?

Jangan sekali-kali menikah karena malu lantaran teman sudah menikah duluan. Jika itu masalahnya, solusinya juga mudah. Bergabunglah dengan orang-orang yang juga jomblo, bentuk komunitas, bikin panti jomblo, kalau perlu lakukan advokasi tentang signifikansi jomblo lengkap dengan hak-hak hidupnya sehingga yang membuli orang jomblo masuk kategori pelanggaran HAM. Bisa dibayangkan jika komunitas ini besar dan melebar di bawah payung legalitas hukum, maka komunitas buram ini akan memiliki eksistensi di negeri ini.

Saya sendiri, terus terang, sangat mendukung kaula muda yang terus menjomblo karena alasan karir, pendidikan dan finansial. Mereka adalah manusia ideal yang merampungkan lahan sebelum menanam. Tidak seperti saya, yang baru menikah dan menyesal mengapa tidak menikah sejak dulu.

(Habibullah, Guru di Annuqayah)


________
Sumber gambar: infoyunik.com