Terbaru

Contributors

Menulislah Walau Cewek Tak Kunjung Suka


Setiap manusia dilahirkan unik, unik bentuknya maupun unik potensi yang dimilikinya. Suka tidak suka, setuju tidak setuju, memang begitu adanya. Sedikit mengutip salah satu alasan perbedaan itu seperti yang tertulis dalam kalam-Nya,  “Sebab di balik penciptaan yang berbeda itu ada tanda kebesaran Allah bagi orang yang mengetahui” (QS. Ar-Rum: 22). Bahasa mudahnya, berbeda bukan hal yang sangat mistis, apalagi sampai masuk level horor seperti tayangan Dunia La*n (maaf, disensor untuk tidak menyebutkan merek).

Salah satu dari sekian banyak potensi itu yakni menulis. Ya, semua orang bisa menulis dan semua orang punya kompetensi untuk melakukan aktivitas menulis. Namun, dengan segenap kekurangannya, hanya secuil manusia di muka bumi ini yang rela mengabdikan dirinya menjadi kuli tinta. Bukankah buku sudah begitu banyak membanjiri toko-toko buku di seantero jagad raya ini? Betul, tak salah jika ada yang berkata begitu. Namun, bagi saya sendiri masih lebih banyak kepingan-kepingan kartu GSM bekas pakai anak muda zaman sekarang yang mesti gonta-ganti setiap habis paketan.

Banyak hal yang membuat aktivitas menulis kurang diminati. Setidaknya ada lima hal yang saya catat (meski saya yakin ini tidak akan mampu menggantikan posisi Pancasila yang sama-sama berjumlah lima). Pertama, menulis butuh konsistensi tingkat dewa. Penulis besar layaknya pelaut yang tak lahir dari ombak kecil. Ia akan menjadi besar jika mampu menjaga semangat dan konsistensi menulis. Sejalan dengan ini, Pepih Nugraha berkata, “Tak ada sekolah menulis, yang ada hanya orang berbagi pengalaman tentang menulis.” Gubrak, begitulah penulis mengasah tulisannya, ia mesti dan harus plus wajib senantiasa menulis dan menulis. Hal ini semakin diperkuat dengan dawuh Kuntowijoyo, “Kunci menulis ada tiga: menulis, menulis, dan menulis.” Meski ada Hadis Nabi yang menyebutkan pekerjaan paling disukai adalah yang sedikit tapi terus menerus (dawam), namun masih sedikit orang yang mau memilih garis hidup sebagai penulis, barangkali poin konsisten menjadi tembok penghalangnya.

Kedua, menulis tidak menjamin keren. Anak muda sekarang mengejar yang namanya keren dan trendi. Tas bermerek, baju bermerek, sampai barang dalam pun kalau bisa tetap harus bermerek. Biar trendi dan nge-hits, itu mungkin alasannya. Lalu, apa yang bisa dibanggakan dari seorang penulis? Mending kalau penulis besar yang sudah tenar dan keliling dunia dengan workshop-nya, ini masih amatiran dan tulisannya belum pernah lolos dari sortiran redaktur media. Paling banter nampang di catatan FB dan blog pribadi, itu pun mengandalkan paketan teman yang kebetulan sedang tidak dipakai. Sudah begitu, postingan tersebut hanya menghasilkan jempol dan tanggapan, kalau ada. Komentar di FB juga tak pernah menghasilkan pundi-pundi koin emas atau perak. Sehingga lebih asyik menjadi karyawan perusahaan yang jelas gajinya dan bisa untuk modal bergaya, mungkin itu dalam benak mereka.

Ketiga, tak semua cewek suka penulis. Lagi-lagi saya harus bicara tentang zaman sekarang. Wanita masa kini sudah tidak zamannya melihat pria hanya dari keilmuannya. Apalagi harga kebutuhan yang semakin menanjak dan harga gengsi semakin tak terjangkau rakyat jelata. Tentu wanita glamor dengan pakaian serba mewah dan aksesoris mentereng sulit melirik penulis yang hanya berpenghasilan pas-pasan. Menunggu tulisan dimuat, menunggu email balasan dari redaktur, dan menunggu rekening ada yang mengisi sukarela. Belum lagi ditambah kesibukan penulis yang memungkinkan wanita diduakan bahkan ditigakan oleh buku dan laptop. Semakin menambah dongkol wanita yang lebih sering menanti perhatian ketimbang memberinya.    Keempat, menulis butuh modal besar. Siapa bilang menulis hanya bermodalkan jari dan laptop? Jauh lebih mahal dari itu adalah wawasan yang harus terus diasah dengan membuka lembaran buku secara berkala. Ya, membaca adalah aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dari penulis. Jika ingin tulisannya hidup dan nyata, ditambah lagi ingin terus berkembang, jangan berhenti dan lelah membaca. Membaca tak harus buku, membaca bisa dengan meneliti situasi sekitar, dan boleh juga membaca buku. Aktivitas ini tak lebih menyenangkan dari memelototi android sehari suntuk. Namun, jika sudah menjadi kegemaran, membaca akan terasa nikmat. Bahkan jika sehari saja tidak membaca terasa ada yang kurang dalam hidupnya.

Kelima, menulis butuh kesabaran. Betapa sering kata sabar disandingkan dengan Tuhan. Orang sabar disayang Tuhan, begitu ungkapan mayoritas orang. Padahal, sabar ini ujiannya tak terduga, bisa jadi setiap hari, dan mendadak. Apalagi bagi penulis yang rutin menulis setiap hari, dari ide yang mandek, email tak kunjung dibalas, dan segudang kendala lain yang turut menguji kesabaran penulis. Jika hanya mengejar materi mungkin penulis awal dan awam akan berhenti kemudian memutuskan banting setir, namun tidak bagi yang benar-benar kuat keinginannya. Dan sabar ini bukan sebuah ilmu teori, ia mesti dipraktikkan.

Setelah membaca kelima hal di atas saya yakin pembaca budiman semakin tidak tertarik untuk menulis, meski sebagian penulis telah membuktikan kelima hal di atas bisa dilalui asal punya tekad besar dan bulat sebulat tahu bulat yang digoreng dadakan. Bagi saya, seseorang menulis tidak hanya tentang materi, gengsi, dan calon istri. Menulis mampu membuat kita berlari jauh kencang ke depan melampaui masa sekarang dengan berangan-angan dalam terobosan opini yang disusun. Mampu kembali ke masa lalu dengan menulis sejarah. Bahkan menulis bisa menciptakan dunia sendiri tanpa perlu dimengerti orang lain apa maksud tulisan kita. Betapa banyak penyair yang tulisannya kerap kali tidak dapat dipahami secara utuh, namun ia tetap bisa dinikmati.

So, menulislah walau anda akan terpuruk dalam kejombloan, meski tak kunjung ada si dia yang mendekat. Tumpahkan segala kepedihan hidup lengkap dengan kesenangannya melalui oretan pena. Buka mata lebar dan berkatalah, “Aku Menulis maka Aku Ditulis (entah bersama dia atau sendiri).”

(Moh. Mizan Asrori, kuli tinta. Berdomisili di Surabaya.)


_________
Gambar: Pixabay