Terbaru

Contributors

Merdeka Kata (Hidup Bebas dari Plagiarisme)


Merdeka adalah terbebasnya dari intimidasi orang lain. Terbebasnya dari pengaruh luar. Sebenarnya akan banyak definisi merdeka jika disambung dengan kata lain. Bicara masalah merdeka akan panjang ceritanya. Akan tetapi, Anda pembaca, tenang saja karena tulisan ini hanyalah tulisan ringan tentang sebuah kemerdekaan. Jadi, silahkan Anda tetap duduk manis dan nikmatilah kopi Anda sambil membaca tulisan ini, jikalau sedang ngopi.

Pengertian di atas, sebutlah, hanya sekadar hipotesa dari saya pribadi. Sedangkan kata merdeka menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri, 2 tidak terkena atau lepas dari tuntutan, 3 tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa: ki bebas merdeka (dapat berbuat sekehendak hatinya).

Indonesia merdeka berarti Indonesia terbebas dari bangsa lain. Indonesia bebas menentukan jalan pemerintahan sendiri, tak ada lagi intervensi dari Portugis, Inggris, Jepang atau Belanda. Indonesia merdeka secara de jure dan de facto.

Saya tidak mau bicara lebih lanjut tentang Indonesia merdeka, biarlah, dia sudah menjadi tugas Soekarno dahulu kala dan para pejuang lainnya. Saya sekarang ingin membahas kemerdekaan rakyat generasi setelah Soekarno, terutama dalam kemerdekaan mereka terhadap diri sendiri. Dahulu kala, Soekarno mengatakan bahwa melawan bangsa sendiri lebih sulit daripada melawan penjajah dan saya bilang sekarang bahwa melawan diri sendiri juga jauh lebih sulit. Siapa lagi kalau bukan aku dan ke-aku-an. Ah, kok pembicaraan kita agak ngelantur yah!

Sebenarnya yang lebih pas saya ingin membahas tentang kemerdekaan kata. Merdeka kata yang saya maksud adalah seseorang yang bebas memilih kata-katanya sendiri, bukan melakukan penjiplakan terhadap kata-kata orang lain atau plagiat, apalagi menjiplak full service (copy, lalu paste), sebagaimana dilakukan oleh segilintir orang, mulai dari penulis kelas kakap hingga penulis kelas teri. Akan tetapi, pantaskah disebut penulis jika masih menjiplak karya orang lain? Saya rasa kurang pantas.

Plagiat dalam KBBI adalah pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dan sebagainya) sendiri, misalnya menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri; jiplakan.

Plagiator menurut A. S. Laksana di rubrik Ruang Putih, Jawa Pos, sama halnya dengan bayi. Bayi mempunyai kecenderungan untuk terus meniru, baik dari sikap dan bicaranya sehingga bayi dijadikan perumpamaan dalam metode pembelajaran Trial and Error. Suatu ketika saya melihat adik saya membacakan puisi yang diklaim sebagai karanganya:

Korban Kata

satu kata
dua perubahan
aku dan kamu

sebenarnya bukan hanya aku dan kamu
yang menjadi korban kata
karena kata cinta
banyak orang rela menderita
karena kata benci
banyak orang berani mati

karena kata-kata
luka, duka, derita, cinta
memadu dalam rasa

butuh satu kata untuk merdeka
"Lawan" kata Widji Tukul
butuh satu kata untuk mewakili derita
"Jalang" kata Chairil Anwar

butuh satu kata untuk perubahan
apa katamu?

Saya kenal puisi itu, saya yakin bukan karya adik saya tetapi karya orang lain. Adik saya ngeklaim saja itu.

Saya pikir-pikir dan merenungkan isi puisi itu, terutama pada baris terakhir yang terang-terangan menantang. Sampai di sini A. S. Laksana masih benar dengan pendapatnya bahwa plagiator seperti seorang bayi, namun ketika saya pikir-pikir lagi lebih mendalam, ada yang terasa aneh. Bayi wajar meniru karena masih belum tahu apa-apa, masih baru melihat dunia dan seisinya, lho, kalau sudah tua dan mampu berpikir, bagaimana? Sudah lama lagi hidupnya di dunia. Saya kira jauh lebih parah daripada seorang bayi. Saya semakin heran, untuk apa hidup lama-lama di muka bumi jika pola pikirnya seperti bayi, atau tak pernah berpikir! Apalagi bagi penulis-penulis besar yang telah terbukti melakukan plagiat yang sangat melukai harkat dan martabat bangsa itu. Sebut saja SGA yang tulisannya, cerpen, dimuat di Kompas, 09 Oktober 2010, berjudul "Dodolitdodolitbret" merupakan plagiat dari "Three Hermits" Karya Leo Tolstoy, tahun 1886. Lagi, seorang dosen berinisial BW Universitas Katolik Parahyangan, Jawa Barat, melakukan plagiat dengan judul "RI's defense Transformasion" di The Jakarta Post, 14 Juni 2009 yang merupakan hasil plagiat atas karya Richard A. Bitzinger "Defense Transformasion and The Asia Fasific; Implication for Regional Millitaries" dalam Asia Pasific Center for The Security Studies Volume 3, No. 07, Oktober 2004. Padahal sudah ada undang-undang Permendiknas No. 17/2010 Pasal 12 ayat 3 yang melarang plagiarisme.

Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan: "Kita harus sudah adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan."

Mulailah dari sekarang untuk berlaku bijak pada diri sendiri dan katakan "Say no to Plagiarism," bukan hanya narkoba yang harus punya slogan semisal itu, tetapi perilaku plagiat juga. Sekolah-sekolah dan kampus-kampus harus menghindari praktik plagiat. Makalah atau paper atau lainnya harus bersih dari plagiarisme. Selama masih punya akal, kita punya kesempatan untuk berpikir.

Akhirnya semoga tulisan ini bermanfaat, sehingga kita dijauhkan dari menjiplak kata-kata orang lain. Silahkan dilanjut minum kopinya. Wassalam. Wallahu a'alam.

(Moh. Tamimi, mahasiwa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), Guluk-guluk, Sumenep.)

___________
Gambar:webdevolutions.blob.core.windows.net/