Terbaru

Contributors

Nikah dan Mikir


Dalam bulan ini akan banyak undangan pernikahan. Saya sendiri sudah mendapatkan beberapa undangan. Saya sendiri sudah menikah. Namun, baru sekarang saya tergerak untuk merenungi apa sebenarnya menikah itu dalam pandangan al-Quran.

Ternyata, menikah itu salah satu dari tanda kekuasaan Allah. Orang yang menikah ini sebenarnya sedang mengejawantahkan kebesaran Allah. Sebagai tanda kebesaran Allah, tentu dalam pernikahan terdapat banyak hal hebat yang harus dipikirkan. Hal demikian merujuk pada ayat 21 surat ar-Rum yang sering dibaca dalam acara pernikahan.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antara kamu mawaddah dan rahmat. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Apa saja kehebatan yang ada dalam pernikahan berdasarkan ayat di atas yang harus dipikirkan?

Pertama, kecendrungan terhadap sesama manusia yang berbeda jenis. Tidak ada manusia yang mau menikah dengan sapi. Adalah tidak normal pria yang menikah dengan sesama pria. Pria adalah lambang kekuatan dan wanita adalah simbol kelembutan. Ketika keduanya bersatu, sungguh aduh. Pria punya hal yang tidak dimiliki wanita sekaligus wanita sangat mendambakannya, begitu juga sebaliknya. Ketika kedua kebutuhan ini saling menyatu, aduh sungguh.

Kedua, penyatuan wanita dan pria dalam bingkai pernikahan akan melahirkan ketenangan. Sakinah. Sakinah ini, kata sebagian ulama tafsir berdasarkan bentuk kalimatnya, membutuhkan perjuangan yang berkelanjutan. Ada usaha di dalamnya. Perjuangan tiada henti. "Setiap ketenangan berawal dari kegelisahan. Suami yang awalnya gelisah karena berusaha mencari nafkah keluarga, akan merasakan ketenangan ketika dia berada di pangkuan istrinya", kata Syekh Mutawalli al-Sya'rawi.

Sebab itu, suami, dengan kekuatannya harus bekerja secara optimal untuk mendapatkan sakinah, dan istri, dengan kelembutannya, harus belajar melayani sang suami saat gelisah dan lelah sehabis bekerja.
Tiga, mawaddah wa rahmat. Tanpa adanya ini, suami tidak akan semangat bekerja dan istri tidak akan berusaha untuk melayani suaminya  dengan bagus.

Mawaddah adalah perasaan yang terus dinamis antara suami dan istri demi kelanggengan keluarga mereka. Itu kata Syekh Mutawalli. Mawaddah adalah kecendrungan terhadap keindahan fisik pasangan. Itu kata Dr. Isyraqun Najah. Mawaddah adalah potensi yang dimiliki oleh setiap manusia dalam bingkai pernikahan. Itu kata Prof. Dr. Quraish Shihab. Ada yang mendefinisikan mawaddah dengan jima'.

Semua kecendrungan yang disebutkan di atas sudah Allah instal dalam diri manusia. Perasaan suka, rasa tanggung jawab, keinginan untuk bersetubuh dengan kelengkapan supporting system-nya sudah Allah sediakan dengan sempurna. Menariknya, semua terasa indah.

Hanya saja, mawaddah memiliki masa kadaluarsa. Kapan kadaluarsanya? Atau lebih jelasnya kita konkritkan dengan beberapa pertanyaan-pertanyaan berikut:

Berapa lama pasutri akan terus mempertahankan komitmennya  sebelum merasakan putus asa? Berapa lama keindahan fisik pasangannya bertahan sebagai hal yang menawan? Berapa lama jima'  dengan pasangan bertahan sebagai kenikmatan sebelum kemudian hambar?

Jelas tidak ada yang bisa memastikan. Namun Prof. Qurash Shihab dalam bukunya Pengantin al-Quran menguraikan bahwa ada 5 pergeseran dalam mawaddah yang dimulai dari fase keindahan bulan madu, kepahitan mengetahui kejelekan pasangan yag sebelumnya tidak diketahui, masa adaptasi dan integrasi.

Yang paling berat adalah pasca bulan madu, ketika keaslian diri pasangan sudah nampak seutuhnya. Adakah pasangan bisa saling menerima kekuarangan pasanganya, bisa beradaptasi dengannya dan bisa mengintegrasikan kekurangan pasangan dengan kelebihan yang dimilikinya?

Mawaddah itu potensi, kata Prof. Quraish Shihab, yang tidak sekaligus dimiliki ketika orang menikah. Potensi itu perlu digali dan diberdayakan. Untuk bisa menggali perlu ilmu. Perlu mikir.

Setelah mawaddah diperoleh dengan maksimal, maka rahmat akan juga diperoleh. Akan terbentuk dalam jiwa pasutri perasaan kasih sayang yang sangat mendalam yang tidak di dasarkan kepada apa yang ada pada fisik pasangannya.

Rahmat adalah buah kebaikan yang telah suami atau istri tanam untuk pasangannya. Ini semacam balas budi. Ini sejenis koleksi memori yang menyenangkan yang terkenang abadi. Atau secara fisik, kenangan indah itu berupa anak sebagai produk kongkrit mawaddah mereka.

Ketika rahmat sudah ada di dada, suami sulit akan menyakiti istrinya karena dia terkenang pengorbanan sang istri kepadanya. Sulit menelantarkannya karena ingat kepada anak mereka berdua. Sulit mereka bercerai karena ada ikatan memori indah atau anak yang membuat keudanya menahan dari dari bertindak egois sesuai dengan nafsunya.

Lalu bagaimana jika tidak ada kasih-sayang karena pasutri kurang maksimal untuk saling berkorban atau keduanya belum dikaruniai anak?

Adakah sumber rahmat lain yang bisa didulang oleh pasutri untuk melanggengkan pernikahan mereka selain adanya anak atau investasi pengorbanan mereka sebelumnya?

Mikir!

(Habibullah, guru di Annuqayah)
_________
Gambar: media.ihram.asia