Terbaru

Contributors

Nomophobia, Penyakit tak Bisa Lepas dari Ponsel


Seberapa sering Anda memegang ponsel setiap harinya? Pernahkah Anda menghitung atau memperkirakannya? Jangan-jangan, memang tidak terhitung alias tidak pernah bisa lepas dari ponsel kesayangan Anda. Jika demikian yang terjadi, maka hati-hatilah, bisa jadi Anda adalah penderita nomophobia.

Nomophobia adalah akronim dari no mobile phone phobia. Dalam artikel yang dirilis Kompas.com, 20 Nopember 2012, disebutkan bahwa ada beberapa ciri orang yang masuk dalam kategori nomophobia. Ciri-ciri tersebut di antaranya, tidur bersama ponsel; merasa panik ketika bangun tidur ternyata tidak ada ponsel di dekatnya; membawa ponsel ke kamar mandi; memiliki dua ponsel atau lebih; dan uring-uringan ketika baterainya hampir habis. Mudahnya, nomophobia adalah “penyakit” tidak bisa hidup tanpa ponsel yang diderita manusia modern.

Belakangan, orang-orang semakin tidak bisa dilepaskan dari ponsel, setelah ponsel  berevolusi dari sekadar alat komunikasi menjadi alat untuk malakukan sejumlah hal, misalnya jual-beli. Hadirnya ponsel cerdas dan komplitnya aplikasi-aplikasi yang disematkan di dalamnya, telah membuat orang-orang semakin tergantung dan tak mau berpisah dengan ponsel. Ponsel cerdas belakangan sudah menjadi kebutuhan pokok orang-orang pada umumnya. Orang bisa saja menahan diri dari lapar sehari dua hari, tetapi tidak semua orang bisa bertahan dalam kondisi tidak punya “paket data” dalam sehari dua hari. Malah, tak sedikit di antaranya yang mendahulukan kebutuhan “pulsa” untuk paket data ketimbang kebutuhan lainnya. Apalagi bagi orang yang mengidap demam facebook atau media sosial lainnya. Ia bisa berjam-jam mematut diri di depan ponsel ataupun komputer yang tersambung dengan internet. Facebook dan media sosial lainnya telah menjadi candu yang membuat penggunanya ketagihan  untuk menggunakannya secara tak terkontrol.

Menggunakan ponsel cerdas sebagai sarana untuk memperoleh informasi yang cepat tentu saja baik. Namun, apabila tidak terkontrol  dengan baik, hingga membuat tidak bisa lepas dari ponsel, tentu saja jauh dari baik. Kondisi ini akan membuatnya lepas kontrol dan kehilangan kendali atas waktu yang dimiliki. Jika terus dibiarkan, maka ia berpotensi akan kehilangan produktivitas, pekerjaan-pekerjaan yang mestinya diselesaikan akan tertunda lebih lama lagi.

Untuk itu, diperlukan kecerdasan tersendiri untuk menggunakan ponsel cerdas. Ponsel cerdas harus diposisikan sebagai media untuk meningkatkan kreativitas dan produktivitas, bukan malah membelenggu aktivitas kita. Ponsel cerdas yang menawarkan kemudahan dan kecepatan perlu dimaksimalkan dalam melakukan efisiensi waktu agar kegiatan-kegiatan kita bisa berjalan dengan baik dan efektif. Jangan sampai ponselnya saja yang cerdas, sementara penggunanya mau saja dibodohi hingga menderita nomophobia. Naudzbillah. Karena nomophobia sudah masuk stadium 4, dalam ibadah pun masih teringat dan terikat kepada ponsel

(Zayyana Hariva, mahasiswa pascasarjana Instika, Guluk-Guluk, Sumenep)
________
Gambar: Instagram