Terbaru

Contributors

Politik Akrobatik di Pilkada Pamekasan


Nyaris stres. Itulah yang saya rasakan saat kali pertama menjadi wartawan politik di Kabupaten Pamekasan. Lima tahun silam. Para kandidatnya tak ubahnya pria yang baru puber dan kebelet menikah. Jika berita yang muncul dirasa tidak menjatuhkan lawan politik, mereka beserta tim-timnya seperti cacing kepanasan.

Kala itu, perusahaan media tempat saya bekerja terikat kontrak dengan dua pasangan calon bupati dan wakil bupati. Semula tim-timnya menghendaki saya menjadi corong mereka untuk menjatuhkan lawan politik. Setelah lobi-lebi alot dan panjang, akhirnya disepakati garis kontrak publikasi yang lebih menitiktekankan pada pencitraan diri, tanpa harus menggembosi citra lawan politik.

Kini saya tak lagi bertugas di lapangan. Tugas sebagai General Manager yang menaungi Biro Surabaya dan empat kabuapten di Madura, membuat saya tak sesering dulu bersentuhan dengan pelaku politik daerah. Tapi kenangan dan pengalaman menjadi wartawan politik selama bertahun-tahun di Kabupaten Pamekasan, sembari membaca sepak terjang para politisi, membuat saya mau bernostalgia dalam pusaran politik terkini di tulisan ringan ini.

Menjelang dan saat pelaksanaannya, pemilihan kepala daerah (pilkada) di Kabupaten Pamekasan nyaris selalu menghadirkan aura “seksi”. Betul-betul menyita perhatian publik. Khalayak ramai membincangnya tanpa jemu. Media massa pun terlihat tak pernah kehabisan bahan untuk mengurainya dalam sudut pandang pemberitaan tak bertepi.

Pilkada 4 tahun yang lalu, misalnya. Sebelum KPU menetapkan terdapat tiga pasangan calon, terlebih dahulu diwarnai dengan pencoretan pasangan Achmad Syafii-Khalil Asy’ari (Asri). Kubu pasangan Kholilurrahman-Masduki (Kompak) yang jadi lawan utama pasangan Asri, langsung berada di atas angin.

Hebatnya, kubu pasangan Asri tidak patah arang. Usai dicoret, mereka langsung membentuk tim guna memerkarakan keputusan KPU lewat jalur hukum politik. Genderang perang kian ditabuh kencang.

Pada peperangan tahap pertama usai pencoretan, jalur hukum yang ditempuh tim pendukung pasangan Asri berbuah manis. Asri berhasil melenggang. Pasangan Kompak tampak kewalahan. Itu mengingat keberhasilan mereka memerkarakan pencoretan pasangan Asri, juga berujung pada pemecatan lima komisioner KPU yang sebelumnya ditengarai tidak netral; condong kepada pasangan Kompak.

Luka pasangan Kompak kian menganga. Itu seiring kekalahan telak yang menimpa mereka pada peperangan berikutnya. Pasangan Asri melenggang dan sukses menjalani pelantikan di pendopo. Para pendukung Kompak pun runtuh hingga ke tataran birokrasi; para pejabat negara yang mendukung pasangan Asri mampu menggeser posisi strategis yang sebelumnya diduduki pendukung Kompak. Sementara mereka yang tidak berada di posisi birokrasi, mendapat kucuran kue proyek pemerintahan Asri.

Apa yang membuat pasangan Asri mampu menumbangkan pasangan Kompak yang kala itu berstatus petahana? Jawabannya tentu banyak. Salah satunya ialah kepiawaian pasangan Asri beserta timnya dalam mengolah isu pencoretan sebagai bukti nyata penzaliman yang dilakukan pasangan Kompak. Massa fanatik pasangan Kompak memang sulit goyah, tapi massa yang ‘mengambang’, suaranya langsung disapu bersih oleh pasangan Asri.

Politik Akrobatik

Daya tarik pilkada Pamekasan tahun silam, tampaknya bakal kalah pada pilkada yang bakal bergulir tahun depan. Meskipun terdapat tiga pasangan calon, kala itu yang menyedot perhatian publik hanya dua pasangan: Asri dan Kompak. Berbeda dengan jelang pilkada terkini. Figur politik mulai bertumpahan. Sebagian masih melakukan gerakan bawah tanah, tapi sebagian lagi sudah terang-terangan mau bertarung dan klaim-klaiman partai pendukung. Serangan politik pun mulai diluncurkan.

Mencermati kondisi tersebut, kita bisa menyebutnya sebagai politik akrobatik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, akrobat diartikan sebagai kemahiran dalam melakukan berbagai ketangkasan (seperti berjalan di atas tali, naik sepeda beroda satu, menerbangkan pesawat udara).

Akrobatik dalam wikipedia.org, dimaknai sebagai penampilan luar biasa yang melibatkan keseimbangan, ketangkasan, dan koordinasi motorik. Hal ini dapat ditemukan pada banyak seni pertunjukan, acara olahraga, dan seni bela diri.

Kenapa memakai istilah politik akrobatik? Sebab kita mencermati di Pilkada Pamekasan, para politisi menampilkan sikap yang tak lazim. Mereka cepat berubah. Partai Gerindra Pamekasan, misalnya. Jauh hari sebelumnya, partai yang dinakhodai Agus Sujarwadi tersebut tampak condong kepada KH Kholilurrahman yang mantap mau nyalon lagi. Namun, kini malah menyatakan mau maju sendiri dan tidak akan mendukung Kiai Kholil.

Partai Amanat Nasional (PAN) pun begitu. Jika sebelumnya tampak selalu mesra dengan Gerindra, kini malah berseberangan jauh. Usut punya usut, PAN dikabarkan mulai semangat melakukan pendekatan secara instensif ke Kiai Kholil. Tapi kabar itu hanya bergulir sebulanan. Beberapa minggu terakhir ini, PAN tampak mengikuti manuver politik Gerindra; ketuanya berkoar-koar ingin maju sebagai calon bupati.

Ketua Partai Golkar, Pimpinan PBB, Nakhoda PKS pun tak kalah berisiknya. Mereka memang belum mendeklrasikan diri untuk nyalon dalam pilkada mendatang. Namun, mereka suka melempar isu ingin nyalon lewat jumpa pers dengan para wartawan. Kota Gerbang Salam pun dibuat gaduh oleh politik akrobatik yang dibangun secara kolektif.

Saat partai-partai gurem mengumbar isu ketua-ketuanya bakal nyalon, partai penguasa semacam Demokrat dan PPP malah terlihat masih adem ayem. Para ketuanya pun tak ada yang melakukan jumpa pers. Namun, tentu gerilya politik tetap mereka asah sedemikian rupa.

Partai Besar yang Merana
 
PPP dan Demokrat sedang sama-sama dilematis. PPP yang notebene sejak dulu dikenal partai raksasa dan kini punya sembilan kursi di DPRD, sejauh ini terlihat seperti macan ompong. Mampunya mengaum, tapi gusinya langsung tergores dan berdarah saat mengunyah daging empuk. Buktinya, hingga kini tak mampu mencetak kader yang siap tempur sebagai calon bupati. Bisanya hanya calon wakil bupati. Wakil? Ah, sungguh disayangkan!

Yang dibanggakan PPP sejauh ini adalah perkataan Bupati Achmad Syafii: “Meski sudah tak berbaju PPP dan sudah Demokrat, hati saya tetap condong ke PPP”. Betapa hebatnya satu orang ini, berhasil membuat partai terbesar dibuat kelepek-kelepek hanya dengan pernyataan semacam itu. Setidaknya kita bisa cermati melempemnya Syafii membantu PPP bisa mengorbitkan kader ke M1.

Sampai saat ini, PPP masih terlihat sesak napas. Untuk menentukan calon wakil bupati saja masih pusing tujuh keliling. Tarik ulur dengan Bupati Syafii tak kunjung bertepi. Khalil Asy’ari yang kini wakil bupati dan kader terbaik PPP, punya kans besar untuk mendulang suara. Tapi, Ketua DPRD Pamekasan Halili Yasin yang merupakan adik kandung Syafii, menjadi batu sandungannya. Tampaknya Syafii menginginkan Halili sebagai calon wakil bupati di tengah popularitas Khalil Asy’ari yang tinggi.

Demokrat pun tampak demam panggung. Partai berlambang Mercy ini sejatinya punya kader yang lumayan bagus, yaitu Ismail yang kini menjabat Ketua Komisi I DPRD Pamekasan. Sayangnya, kualitas pria kepercayaan Gubernur Jawa Timur Soekarwo tersebut, dibayang-bayangi kuasa Bupati Syafii di tubuh Partai Demokrat. Akhirnya, Demokrat nunggu AKS (Apa Kata Syafii).

Di tengah kondisi partai politik yang merana, pandangan kita bisa tertuju pada calon yang sejatinya bukan kader partai politik. Tapi, cukup berambisi dengan menebar baliho-baliho yang menjajah sawah-sawah. Sebut saja Taufadi yang dikenal telinga kirinya politisi sepuh Said Abdullah.

Saat deklarasi dan gambarnya mengganggu pemandangan pinggir-pinggir jalan, nama Taufadi langsung melejit. Tretan Taufadi dengan slogannya Bersih Tentram Aman (Berteman). Namun dalam perkembangannya, namanya meredup. Mungkin karena balihonya rusak sehingga tak lagi ditakuti burung-burung yang selalu menguntit gabah di sawah-sawah.

“Taufadi itu orang Sumenep. Dia tak serius nyalon. Dia hanya mau cari tretan (saudara) ke Pamekasan. Makanya bernama Tretan Taufadi,” ujar salah seorang teman.

Terlepas dari itu, kalau dilihat dari perspektif ilmu politik, pemilih di Kota Gerbang Salam dapat dipetakan pada dua kelompok. Yaitu, massa fanatik dan massa mengambang. Massa fanatik ini sulit diutak-atik. Mereka akan berjuang mati-matian untuk memenangkan calon yang didukung.

Beda halnya dengan massa yang statusnya mengambang. Kelompok pemilih inilah yang cukup membantu dalam mendulang suara. Calon mana yang piawai dalam melakukan pendekatan emosional dan finansial pada massa mengambang ini, bersiap-siaplah menjadi pemenang. 

Sebagai calon pemilih, tentu kita tak perlu menaruh harapan besar kepada para politisi. Jalani biasa-biasa saja. Biar tak menyesal di kemudian hari. Sebab, figur-figur yang muncul ke permukaan adalah wajah lama yang diperbaharui. Memang ada yang benar-benar berwajah baru, tetapi wajah lama tetap menyetirnya.

Para politisi di Madura, termasuk di Pamekasan, masih jauh dari kepantasan. Hal ini tampak berlaku dalam skala nasional. Bisa dicermati sendiri ketika mereka sudah menduduki kursi kekuasaan, janji-janji manis semasa kampanye berujung pahit.

Hal itu tampak sekali dalam pemerintahan Asri yang kini mencengkeram Kabupaten Pamekasan. Gaya kepemimpinan Asri yang sok merakyat, rupanya tidak ditopang dengan kebijakan yang membumi: pelayanan kesehatan memilukan, perkembangan pendidikan stagnan, kesejahteraan masyarakat tergerus, stabilitas keamanan menguap, dan ragam kepincangan kebijakan lainnya.

Kendati demikian, kita tak akan pernah berhenti berharap. Andai para calon nantinya adalah figur buruk, setidaknya bisa dipilih yang terbaik dari yang terburuk. Semoga kita tidak lagi memilih kucing dalam karung.
Oya, bagaimana dengan Kiai Kholilurrahman dan Badrut Tamam? Saya punya cerita khusus terkait dua polisi separtai tapi tak ubahnya tikus dan kucing ini. Ceritanya kapan-kapan saja. Bicara politik bikin lapar. Mari dinner dulu...

(Hairul Anam, bakal calon Kepala Desa yang gagal di Kabupaten Pamekasan)
______________
Gambar: Tribunnews.com