Terbaru

Contributors

Resiko Menikahi Orang yang Pernah Pacaran


Sebagai orang yang sudah menikah dan sudah punya dua anak, alhamdulilah saya kadang diminta pendapat tentang hal yang berkaitan dengan rumah tangga. Baik dari memilih tunangan hingga memilih untuk bercerai. Bahwa kemudian pendapat saya tidak manjur, itu takdir.

Minggu kemarin saya dimintai pendapat oleh orang saleh, calon magister, pintar dan sosok yang hatinya bersambung dengan masjid. Pemuda jenis ini disinggung oleh Nabi sebagai salah satu dari tujuh golongan yang mendapat naungan spesial kelak di padang mahsyar. Ketika pemuda saleh itu mengutarakan maksudnya untuk melamar seorang wanita, saya merasa wanita itu sangat beruntung. Saya juga penasaran seperti siapa wanita yang beruntung itu. Dia memperlihatkan fotonya yang ada di akun medsos si wanita.

“Pak, saya sudah mengutarakan maksud saya untuk melamar dia. Dia masih belum menjawab. Apa yang harus saya lakukan, Pak?”

“Memberikan harapan kepada wanita adalah hal yang sangat besar. Saya yakin kamu tidak akan mempermainkan perasaan wanita tersebut. Sesuka apa pun wanita itu kepadamu, pasti dia tidak akan menjawab langsung bahwa dia menerima permintaanmu. Dia butuh kepastian lebih. Dia butuh kepastian yang bisa membuat dia terjamin bahwa dia tidak akan kecewa. Dia wanita. Sekali hatinya terbuka, sangat takut terluka. Maka teruslah kamu memberikan kepastian, sapa dia, tetap berkomunikasi karena tanda orang yang betul-betul suka adalah suka menyapa.”

Wanita itu masih tetangganya. Keduanya sudah lama kenal. Lalu dia bercerita bahwa wanita itu pernah berpacaran dengan sahabatnya sendiri. Putus. Foto mantan pacarnya masih ada di folder foto di medsosnya. Ya, Allah...

“Kenapa kamu bisa yakin bahwa dia pas buat kamu?” Saya bertanya.

“Saya lihat dia wanita salehah”

“Wanita berpacaran itu salehah?”

“Pacarannya dulu. Sekarang sudah tidak lagi, Pak?”

“Foto mantannya masih belum dia hapus, kan?”

Pemuda saleh ini diam. Saya sebenarnya ingin diam saja membiarkan dia meneruskan keyakinannya untuk melamar si wanita. Saya memang diam. Namun pemuda itu menanyakan pandangan saya tentang menikah dengan wanita yang pernah berpacaran.

“Setiap orang pasti punya masa lalu. Setiap orang bisa berubah. Setiap orang pasti melakukan kesalahan. Wanita yang pernah berpacaran adalah wanita yang pernah melakukan kesalahan, sangat mungkin berubah demi menghapus masa lalunya. Itu sangat mungkin terjadi. Masalahnya ada pada kamu. Siapkah kamu menerima resiko menikah dengan orang yang pernah pacaran?”

“Resiko apa itu, Pak?”

“Resiko terungkapnya kesalahan yang pernah dia perbuat yang belum kamu ketahui. Misalnya, teman-temannya bercerita bahwa dia pernah begini-begitu dengan mantan pacarnya. Atau ada foto yang begini-begitu dia dengan mantan pacarnya. Ini resiko yang harus kamu tanggung. Ini sangat mungkin terjadi. Jika kamu siap menerima itu semua dan kamu anggap itu sebagai masa lalu yang tidak berpengaruh terhadap masa depan pernikahanmu, maka lanjutkan tujuanmu melamar dia. Apalagi kamu anggap istri adalah lahan dakwah untuk memperbaiki pribadinya, itu sungguh luar biasa. Saya sangat mendukung.”

Pemuda itu diam. Saya lihat wajahnya murung.

“Maaf, saya tidak berniat untuk mengubah niat kamu melamar dia. Itu pendapat pribadi saya saja.”

Pemuda itu bilang tidak apa-apa. Bahkan berterima kasih atas kesediaan saya berdiskusi dengan dirinya.

Seminggu kemudian kami berjumpa kembali. Dia berkata kepada saya bahwa dia telah mengatakan kepada wanita itu agar tidak menjawab lamaran yang dia ucapkan sebelumnya. Alasannya, lamaran itu dia ucapkan dengan pertimbangan  yang belum betul-betul matang. Saya sendiri merasa bahwa dia mencabut lamarannya gara-gara pandangan saya minggu kemarin.

“Pak, dia sudah menghapus foto mantan pacarnya dan foto-foto teman cowoknya.”

“Kok bisa?”

“Saya yang memberikan nasihat agar dia melakukan itu.”

Saya diam. Kasihan wanita itu. Dia sebenarnya telah belajar mencintai pemuda saleh ini. Hatinya sudah terbuka sehingga dengan senang hati menghapus seluruh foto kenangan indah yang ada di medsosnya demi mengikuti nasihat calon imam impiannya. Lalu bagaimana luka hatinya ketika pemuda ini justru mengatakan agar dia itu tidak usah menjawab lamarannya untuk bersedia menjadi tunangannya?

“Dia bilang tidak apa-apa, Pak,” kata pemuda ini polos.

Saya tersenyum. Dia wanita. Wanita pintar menyimpan rasa. Lihai memendam duka. Di mulut bilang tidak apa-apa, tapi bagaimana dengan hatinya? Bagaimana dengan air matanya?

Nah, itulah resiko orang yang pernah berpacaran --wanita dan pria sama saja– memerlukan pasangan yang sanggup berdamai dengan masa silam secara utuh. Tidak semua orang bisa. Sebagian orang ada yang bisa. Merekalah sosok luar biasa. Semoga stoknya masih ada.

(Habibullah, Guru di Annuqayah)

__________
Gambar: Risalah.com