Terbaru

Contributors

Saya Kerupuk Saya Indonesia


Saat ramai-ramai ada hastag #SayaIndonesia #SayaPancasila, tiba-tiba saya ingat salah satu makanan Nusantara satu ini: Kerupuk. Iya, kerupuk. Bukan yang lain. Bagi saya, salah satu bukti kecintaan kepada Indonesia bisa diwujudkan dengan mencintai kerupuk. Kerupuk itu koentji. Kerupuk itu wasilah untuk bisa mencintai Indonesia seutuhnya. Eh, tapi benar gak kerupuk itu makanan khas Nusantara?

Usut punya usut, menurut laman djamandoeloe.com, situs yang tentu saja bukan milik Herman Sinung Janutomo “Gaj Ahmada” itu, kerupuk bukan makanan asli Indonesia. Tidak ditemukan satu literatur manapun yang menyebut kerupuk sebagai makanan asli Indonesia. Konon, kerupuk baru booming pada abad ke-20. Tetapi tentu saja, fakta sejarah ini tidak mengurangi nilai kecintaan saya kepada kerupuk. Kerupuk tetap kerupuk. Mau makanan asli Indonesia atau tidak, yang jelas, kerupuk selalu ada di mana-mana di seluruh nusantara ini. Dari warung makan di pinggir jalan hingga restoran di hotel bintang 5 (bukan bintang 9 ya, kalau itu mah pesantren bukan hotel, he) kerupuk senantiasa menjadi sahabat setiap makanan yang terhidang.

Kalau mau jujur, sebenarnya kerupuk memiliki jasa yang besar untuk Indonesia. Ia selalu menjadi pelengkap berbagai macam kuliner Indonesia. Nasi padang, nasi pecel madiun, warung tegal, bakso solo, soto madura, sate madura, coto makassar, akan kurang lengkap manakala tidak disertai dengan kerupuk di sampingnya. Entah itu kerupuk blek, kerupuk poli, kerupuk ikan, rampeyek, dan seterusnya, kerupuk harus selalu ada. Tentu tidak mungkin kita makan bakso dicampur dengan Biskuit Roma, Kue Nastar, Khung Guan, Oreo, Timtam, maupun Sari Roti. Ini sama mustahilnya dengan Mega-Prabowo akan reuni lagi dalam pemilu presiden tahun 2019 mendatang. Eh.

Selain sebagai makanan pelengkap, kerupuk juga bisa menjadi hidangan tersendiri selayaknya makanan yang lain. Ia bisa menjadi hidangan yang sangat nikmat manakala hujan rintik membasahi bumi.  Ia juga bisa menemani perjalanan camping Anda ke tempat-tempat terjauh. Atau kalau lagi rame-rame, kerupuk bisa juga dibuat rujakan bersama teman-teman seperjuangan bermodal cabe dan garam. 

Namun sayangnya, kita tidak memberikan penghargaan yang sepantasnya kepada kerupuk. Sebagaimana kita tidak pernah memberikan penghargaan sepantasnya kepada petani dan buruh yang bekerja keras di negara ini. Kerupuk walau adanya dirindukan, tapi tetap dianggap kelas rendahan. Oleh dokter dan ahli gizi, kerupuk disebut tidak memiliki vitamin dan kandungan gizi apa pun. Sebaliknya, kerupuk malah didaulat sebagai makanan pemicu obesitas karena mengandung lemak jenuh yang tinggi. Alamak, pemicu obesitas bukan hanya kerupuk lho, Dok. Es krim, cola, dan segala hal yang berminyak dan kaya lemak itu pemicu obesitas. Makan kerupuk aja kok repot banget sih.

Selain itu, sadar atau tidak, kita juga kadang diskriminatif terhadap kerupuk. Walaupun keberadaannya selalu dirindukan, tapi kita ogah menyajikannya dalam kegiatan-kegiatan bertajuk diskusi ilmiah dan yang semacam. Hidangan yang jamak disajikan adalah Kacang Garuda, Beng-Beng, Sari Roti, dan permen KISS atau Kopiko, disertai dengan Air Mineral bermerk Aqua. Sebaliknya, kerupuk lagi-lagi terpinggirkan.    

Padahal lho ya, kerupuk adalah simbol kaum proletar. Ini bukan saja karena dalam sejarahnya, kerupuk sebagai lauk oleh orang kelaparan tak punya ikan, tetapi di masa kini sekalipun, kerupuk identik dengan kaum proletar. Kerupuk adalah satu-satunya makanan yang tetap murah di tengah naiknya harga kebutuhan pokok seperti minyak goreng, gula pasir, beras, tepung, listrik dan BBM. Dengan  seribu rupiah, rakyat sudah dapat menikmat 4 buah krupuk blek atau 2 bungkus krupuk poli. Sekadar perbandingan, harga sebungkus biskuit roma sama dengan 32 buah krupuk blek.

Yang tak kalah penting, pengrajin kerupuk adalah pengusaha-pengusaha kelas rumahan yang mengumpulkan penghasilan receh. Industri rumah tangga itu mempekerjakan masyarakat kecil dengan gaji setara dengan seperlima UMK Kabupaten Sumenep. Itu artinya, dengan menikmati, mencintai, dan memasyarakatkan kerupuk sama dengan membela rakyat kecil. Membela rakyat kecil sama dengan membela dan mencintai Indonesia. Karena populasi terbesar masyarakat Indonesia saat ini masih didominasi oleh mereka yang untuk dimakan saja masih harus pontang panting ke sana ke mari. Makanya, jangan ragu untuk mengatakan (dengan gaya Alim Markus Maspion Grup): Cintailah Kelupuk-Kelupuk Indonesia.

(Paisun, penggagas gerakan "Kerupuk Harga Mati")