Terbaru

Contributors

Tellasan Topa’ (Merajut Nilai yang Tersirat)

rimanews.com

Bagi masyarakat Madura, momentum hari raya Idul Fitri tidak selesai dalam satu sampai dua hari, tetapi hingga hari ketujuh yang dikenal dengan istilah Tellasan Topa’ (hari raya ketupat). Ada pula yang menyebutnya, tellasan petto’ (hari raya ke tujuh). Dengan kata lain, Tellasan Topa’ merupakan rententan dari hari raya Idul Fitri yang diposisikan sebagai prosesi penutupan hari raya Idul Fitri.

Dalam hal ini, masyarakat Madura memiliki tradisi membuat masakan khas Madura yang bahan pokoknya dari ketupat. Misalnya, masakan campor, rojek, topa’ koa, dan lain sebagainya. Pada momen itulah masyarakat Madura merayakan hari ketujuh Idul Fitri dengan berpesta ketupat, sehingga tidak salah bila hari ketujuh Idul Fitri dikenal dengan istilah Tellasan Topa’.

Tellasan Topa’, dipraktikkan oleh masyarakat Madura dengan beragam aktivitas dan kegiatan yang cukup menarik dan sarat dengan nilai-nilai keagamaan dan kemasyarakatan: Pertama, di setiap momen Tellasan Topa’, masyarakat Madura dengan serentak membuat ketupat dengan berbagai macam bentuk dan model: Topa’ Ko’juko’an (ikan laut), Topa’ Masjid, Topa’ Tongkol, Topa’ Bhebeng (bawang), dan seterusnya.
Model dan bentuk tersebut, merupakan bukti kreativitas masyarakat Madura yang mesti dilestarikan oleh para generasi muda Madura. Perlu disadari bahwa, selain bentuknya unik serta menarik, juga mengandung nilai-nilai keagamaan, ekonomi, dan  kebudayaan masyarakat Madura. Model dan bentuk ketupat yang menjadi kebanggaan masyarakat Madura sebagai diurai di atas, merupakan gambaran realitas potensi di Madura.

Topa’ Masjid misalnya, ini merupakan cara para leluhur mengenalkan simbol keagamaan Islam kepada para generasinya. Hidangan Topa’ Masjid di hari lebaran mengajarkan kepada kita bahwa: menjadi muslim adalah kebanggaan bukan justru merasa termarjinalkan, Islam adalah agama yang tertanam kuat dalam diri kehidupan masyarakat Madura, dan Islam sebagai modalitas kehidupan. 

Topa’ Ko’juko’an misalnya, merupakan ketupat dengan model ikan laut. Demikian tidaklah sekadar model untuk membuat ketertarikan para konsumennya, tetapi mengajarkan kepada kita bahwa Madura memiliki lautan dan kepulauan yang cukup luas dengan beragam potensinya, termasuk ikan yang melimpah yang bila dikelola dengan baik dapat menjadi sumber kekuatan ekonomi masyarakat Madura. 

Topa’ Bhebeng misalnya, memiliki makna akan pentingnya sektor pertanian. Mayoritas masyarakat Madura adalah petani. Dari generasi ke generasi mereka mampu bertahan hidup dari hasil pertaniaannya. Karenanya, menyelamatkan lahan pertanian di Madura dari penguasaan investor asing menjadi keharusan. Selain menjaga ketahanan pangan, juga bagian dari merawat tradisi nenek moyang. 

Selain model dan bentuknya yang unik dan menarik, ketupat di Madura dibuat dari bahan pucuk daun siwalan yang kemudian dirangkai sesuai bentuk dan modelnya. Ini memberikan pemahaman kepada kita sebagai generasi muda bahwa penting menjaga keramahan terhadap lingkungan dengan cara membuat bungkus makanan dari bahan dedaunan bukan plastik.

Kedua, berbagi ketupat dengan cara ter-ater antara sesama anggota keluarga, tetangga, tanpa memandang starata sosial: miskin atau kaya. Dalam momen ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa di antara satu sama lain mesti saling ngopeni dan berbagi tanpa harus memandang starata sosial. Dengan kata lain, kapitalisme serta individualisme, salah satu pemahaman yang mesti dihilangkan karena bertentangan dengan karakter kehidupan masyarakat Madura.   

Ketiga, nyekar ke bhujuk (makam pejuang terdahulu). Setelah keliling silaturrahim ke sanak famili, tetangga, dan sahabat, masyarakat Madura memiliki kebiasaan nyekar ke bhujuk sebagai pemungkas aktivitas silaturrahim lebaran. Namun, hal ini mulai bergeser, para generasi muda Madura kini lebih memilih mengunjungi tempat-tempat wisata, sehingga bhujuk-bhujuk tampak sepi dibandingkan dengan tempat-tempat wisata.

Di tengah arus perubahan zaman ini, menjadi penting merajut nilai-nilai yang tersirat pada perayaan Tellasan Topa’, yaitu dalam rangka mengokohkan karakter keagamaan, memupuk semangat silaturrahim yang tinggi, menjaga kepedulian antar sesama, memberikan kesadaran akan adanya potensi alam daratan dan lautan yang melimpah, serta mempertahankan cara-cara yang unik dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan yang berbasis pada tatanan sosial dan keagamaan.

(Syafiqurrahman, Dosen INSTIKA Guluk-Guluk Sumenep.)