Terbaru

Contributors

Ternyata, Bahagia Itu Ada di Rumah Kita

Ternyata, Bahagia Itu Ada di Rumah Kita

“Hujan batu di negeri sendiri lebih baik dari hujan emas di negeri orang”


Ternyata, kumpul bareng anak cucu lebih sangat berharga daripada kumpul dengan harta bergelimang. Pernyataan ini saya dapatkan dari seorang lansia yang tidak merelakan anak-anaknya untuk merantau ke luar kota untuk mengadu nasib di sana. Makan nasi dengan lauk seadanya dan tinggal di rumah sederhana, namun tetap berkumpul dengan keluarga, lebih mereka inginkan daripada sebaliknya. Karena kebahagiaan bersama anak cucu tidak dapat tergantikan dengan kemewahan dunia.

Namun demikian, keadaan sebaliknya dialami oleh orang-orang yang ingin merantau. Mereka berkeinginan untuk bisa mengubah arah kehidupan menjadi lebih baik dan mudah. Dan salah satu cara yang dapat dilakukan adalah bekerja di luar kota. Meskipun mereka harus berpisah dengan kedua orang tua dan keluarga besarnya. Bekerja di desa dianggapnya sebagai suatu hal yang kurang menguntungkan. Penghasilan yang tak seberapa itu akan sulit mengubah nasib mereka.

Nah, melihat realita yang demikian, agaknya akan ada yang terkalahkan. Entah para orang tua yang tidak merelakan anak-anaknya berpisah atau mereka yang bersikukuh hijrah.

Pada akhirnya para orang tualah yang terpaksa mengalah. Perasaan berat dan sedih harus mereka luruhkan demi anak-anak mereka. Tidak ada yang diharapkan, kecuali keselamatan dan kebahagiaan anak-anak mereka. Maka berangkatlah mereka ke kota yang dituju dengan membawa setitik harapan. Dan tunggulah beberapa waktu setelah keberangkatan itu.

Begitulah siklus kehidupan yang ada di desa. Mayoritas dari mereka sudah memilih hidup dan bahkan tinggal di kota. Bekerja di kota lebih menjanjikan masa depan daripada terus-terusan berada di desa. Dan pernyataan ini memang terbukti adanya. Banyak masyarakat desa yang rela pontang-panting untuk bisa kerja di luar kota dan sekarang sukses di sana. Berangkat dengan uang saku hasil ngutang di mana-mana, dan kembali dengan keadaan penuh wibawa.

Keadaan tersebut semakin memancing minat masyarakat sekitar. Melihat mereka yang merantau sudah enak kehidupannya, tiba-tiba terbesit keinginan untuk melakukan hal serupa. Maka berbondong-bondonglah masyarakat desa melakukan perantauan ke kota. Ada beragam keinginan yang ingin dicapai dalam perantauan ini, mulai dari yang ingin melunasi hutang, menyekolahkan anak, membangun rumah, dan lain sebagainya.

Di desa penulis dan daerah sekitar, mayoritas para perantau terdiri dari pasangan muda atau pemuda. Bagi pasangan muda, banyak hal yang diinginkan, mulai dari memiliki rumah bagus beserta perabotannya. Maka cara paling gampang adalah dengan merantau. Karena jika hanya mengandalkan pekerjaan di desa, akan sulit atau lama tercapai. Pemuda, biasanya mereka tidak melanjutkan belajar sampai perguruan tinggi. Bekerja lebih menguntungkan daripada sekolah. Begitulah persepsi mereka. Apalagi kemajuan teknologi yang semakin menggila memaksa mereka untuk segera memiliki benda-benda canggih. Maka merantaulah mereka untuk bisa mendapatkan apa yang dimau. Karena mereka sadar, bahwa orang tua tak akan mampu membelikannya.

Lalu, bagaimana dengan kehidupan desa yang telah banyak ditinggalkan oleh penghuninya?

Sungguh sangat miris ketika melihat orang tua yang tinggal kesepian di rumah mewah nan megah hasil kerja sang anak di tanah rantau. Jika ditanya perasaan, mungkin bisa dikata mereka sangat sedih. Untuk apa kemewahan jika tak dapat merasakan kebahagiaan? Perasaan sedih lebih membahagiakan jika dibagi bersama daripada merasa senang namun tak dapat memberikannya pada orang lain.

Desa kita adalah diri kita juga. Desa kita adalah darah-daging kita. Laiknya orang tua kita. Apakah kita rela meninggalkan mereka hanya demi mengejar dunia? Jika kita bisa tersenyum lebar tatkala bersama keluarga, lalu kenapa harus memilih berpisah dengan mereka?

Dan bahagia itu adalah diri kita, orang tua kita, dan tanah leluhur kita. Pengejaran terhadap dunia secara berlebihan akan berakhir dengan penyesalan terdalam. Kebersamaan dengan orang-orang tersayang di atas segalanya. Belum tentu kita diberi kesempatan waktu panjang untuk bersama mereka. Hidup berkecukupan lebih amat berharga dari hidup bergelimang harta. Sifat tamak pada diri manusia tidak akan padam jika terus dikobarkan. Wallahu a'lam.      
     
(Uzlifatul Laily, mahasiswa Instika, Guluk-Guluk, Sumenep)