Terbaru

Contributors

Tiga Ideologi Jomblo Sepanjang Jalan Perjuangannya


Sifat yang kuat dari kebudayaan menjomblo merupakan penyebab sifat manusia yang memilih sendiri dijadikan tema-tema renungan ilmiah banyak kalangan. Benarkah setiap yang memilih menjomblo tidak dapat menyumbangkan sesuatu terhadap individu lainnya atau kelompok? Ternyata jawabannya tidak. Kehidupan manusia merupakan satu kesatuan: yang sendiri maupun yang sudah punya rumah tangga kecil bukanlah realitas-realitas yang berbeda-beda, melainkan aspek-aspek distributif dan kolektif dari gejala yang sama. Yang jomblo maupun yang berkeluarga tetap memiliki berkah terhadap diteruskannya hidup. Baik secara biologis  maupun sosial. Karena pada suatu saat, perlu diyakini bahwa jomblo juga akan berkeluarga. Akan meneruskan hidupnya melalui jalan keturunan. Beberapa ideologi telah dianutnya sejak dalam pikiran, sebagai pendukung perjuangannya guna terlepas dari pertanyaan "Kapan nikah?" yang susah dicari jawaban kongkritnya.

Maka untuk kalian yang senang menilai nista para jomblo, perlu melihat ideologi jomblo yang setia menemani perjuangan kerasnya menuju jalan biologis. Setidaknya, saya merangkumnya dalam tiga ideologi jomblo yang penting dan tidak banyak diketahui. Berikut:

Pertama, jomblo liberal. Jomblo dengan ideologi liberalisme ini punya nilai yang tinggi, bahkan nilai yang menguasai segala-galanya. Jomblo liberal hanya dimiliki oleh yang hidupnya sangat otonom. Dalam mengembangkan kemampuan manusiawi yang dimilikinya, di mana akal pikiran menduduki tempat yang terpenting dibanding hanya persoalan hati. Menjomblo adalah pilihan yang tidak boleh dihalang-halangi. Bagi jomblo liberal, hasil terbaik sebuah  kebahagiaan semua orang dapat dicapai dengan sama sekali meniadakan hambatan bagi kebebasan menyendiri. Bahkan membiarkan kepentingan orang lain tanpa halangan apa pun.

Tidak heran, jomblo tipe ini termasuk sosok jomblo yang kuat memendam sakit hati. Mudah merelakan demi kebahagiaan orang yang dicintainya. Ia tidak mau membebani kekasihnya, dengan harus menanggung kenyataan sikap dasar yang dimilikinya, yang pasti lama-kelamaan sang kekasih akan memoles kebosanannya dengan kalimat: "Kamu, kok, berubah sekarang?" Padahal tidak ada yang berubah. Itulah sikap dasar sebenarnya yang dimiliki. Yang harusnya diterima lapang dada. Dengan alasan itu, jomblo liberal, memilih sendiri. Biarkan mantan pacar  atau orang yang sempat menyukainya (jika ada) berinteraksi bebas dengan banyak pilihan yang ia rasa lebih sempurna dari dirinya.

Kedua, jomblo radikal. Jomblo radikal memiliki sifat milenaristis yang kuat, yaitu jomblo dengan ideologi ini selalu menaruh harapan-harapan akan kebahagiaan di kerajaan Tuhan. Yang sangat mereka percayai pasti datang ke bumi yang damai serta adil ini. Alam kehidupan yang semata diatur Tuhan. Meski jumlah pengikut jomblo dengan ideologi radikalisme ini sedikit, hanya terdiri dari manusia-manusia miskin dan marginal, jomblo radikal tetap dapat dikategorikan sebagai jomblo dengan garis perjuangan yang jelas. Jomblo ini kerap memprotes terhadap tata pasangan yang dianggapnya jauh dari keadilan. Misal, ada perempuan muda cantik, memilih berpasangan dengan pria lanjut usia, hanya karena kedudukan dan harta kekayaan semata.

Sehingga protes-protes keras dari jomblo radikal  kerap dilayangkan kepada sembarang pasangan yang mendahuluinya. Justru memiliki pendamping hidup dianggap sebagai sebuah hambatan bagi lahirnya kesamaan, fitri, kedamaian dan keadilan--meski telah digariskan alam sekalipun. Jomblo radikal selalu mendukung kritik tajam terhadap tata berpasangan di mana masih terdapat begitu banyak jomblo-jomblo yang tidak laku. Yang kemudian dinilai sebagai ketidakadilan dan sebuah kesepian yang memiskinkan. Sejatinya jomblo radikal dengan ideologi radikalisme, penuh akan harapan memandang masa depan yang indah.

Ketiga, jomblo konservatif. Kalau jomblo radikal penuh dengan pandangan harapan indah di masa depan, maka jomblo penganut ideologi konservatisme lebih suka melihat dengan rasa nostalgia ke masa lalu. Jomblo konservatif sebenarnya lahir dari perjuangan kedua ideologi di atas--liberalisme dan radikalisme. Konservatisme dibangkitan oleh revolusi liberal dan radikal. Pandangan jomblo konservatif terhadap para jomblo dengan ideologi liberal dan radikal adalah sebuah klimaks perkembangan paham jomblo yang menyedihkan. Sehingga mempertahankan kejombloan, namun tetap melakukan perlawanan terhadap kesepian yang kerap melahirkan keirian akibat melihat mereka yang berpasangan, dijunjungnya tinggi-tinggi.

Mereka pun menganggap penting lahirnya perjuangan-perjuangan jomblo memasarkan kesendiriannya. Jomblo konservatif telah besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan sosial kaum jomblo itu sendiri. Kekutan mereka hormat terhadap tradisi dan kepada tata sosial yang tetap tumbuh sepanjang sejarah adalah sebuah perjuangan, bahwa bagaimanapun menjomblo tetap wajib diberi arti secara individual dalam tatanan sosial. Sebab bagian dari garis kehidupan.

Maka, jika kalian ingin menyalahkan prilaku sosial kaum jomblo, yang sampai saat ini tetap menjomblo, tunggu dulu. Mereka punya ideologi. Punya cara pandang sendiri yang harus dihargai sebagai makhluk yang belum Allah karuniai istri. Bukankah seseorang yang punya cara berpikir paling normatif sekalipun merupakan sebuah landasan bagi cara bersosial mereka? Jika L. Laeyendecker menilai persoalan perbedaan cara berpikir adalah masalah paling emosional di dalam bersosial, itu benar adanya. Jomblo adalah salah satu korban atas pertanyaan, "Kapan nikah?" yang sangat bau penghinaan itu.

Terakhir untuk kaum jomblo: "Jangan khawatir, kalian sendiri bukan berarti tidak laku, tetapi memang tidak ada yang mau." Salam.

(Wardi, penulis lepas. Tinggal di Jogjakarta)
_________
Gambar: Pixabay