Terbaru

Contributors

Visit Sumenep Years 2018, Jangan Hanya Slogan Kosong



Saya sebetulnya termasuk orang yang tak terlalu suka pergi ke tempat-tempat wisata. Bagi saya, melancong ke objek-objek wisata hanya akan membuang-buang waktu dan uang. Apalagi jaraknya jauh atau harus nyeberang laut dengan perahu ala kadarnya. Pasti akan sangat membosankan.

Kalau ada teman mengajak pergi ke tempat wisata, saya pasti akan berpikir 212 kali atau bahkan 441 kali. Daripada uang habis untuk ongkos perjalanan dan membeli jajanan di lokasi wisata yang harganya mengerikan, lebih baik dibuat beli kerupuk di warung-warung pinggir jalan sebelum ada yang memboikot.

Meski begitu, sebagai anak yang baik, tidak sombong dan suka menabung, saya merasa senang saat mendengar kabar, pemerintah di daerah saya tahun depan memiliki hajat besar: Sumenep Visit Years 2018. Mendengar kabar tersebut, rasanya seperti sedang duduk manis mendengarkan kampanye jelang pemilihan; membuat harapan membuncah hingga ke ubun-ubun, meski kecewa menanti di kemudian hari.

Harapan besar saya, tentunya jika even tersebut terealisasi, wisata Sumenep bisa terkenal di mana-mana, di seantero dunia. Kemudian banyak wisatawan luar daerah maupun luar negeri berbondong-bondong melancong ke daerah saya. Mereka membawa banyak uang untuk belanja. Syukur-syukur mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor wisata. Sehingga masyarakat menjadi sejahtera, dan Sumenep tak lagi masuk 10 daerah termiskin di Jawa Timur.

Namun, jauh sebelum harapan mendekati khayalan itu, saya memiliki harapan lain yang jauh lebih besar. Pemerintah lebih serius menggarap objek wisata agar para pengunjung tak kecewa saat tahu keadaan sebenarnya, dan mereka mau kembali lagi di lain waktu. Terutama destinasi yang dijadikan ikon Sumenep Visit Years 2018: Gili Iyang dan Gili Labak.

Melihat Gili Iyang dan Gili Labak saat ini, sepertinya pemerintah masih memiliki banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Pekerjaan itu tentunya bukan hanya membuat rencana kerja, tapi merealisasikannya. Bukan pula hanya membentuk Pokja, tapi harus bisa menyuruh mereka kerja.

Misalnya, pemerintah tidak cukup hanya berencana menyediakan transportasi pariwisata menuju Pulau Gili Iyang dan Gili Labak. Sebab wisatawan, sama dengan masyarakat kebanyakan, tak butuh terhadap wacana. Mereka butuh sarana transportasi yang memadai, nyaman, aman dan tak memakan banyak waktu.

Pemerintah juga harus bisa meyakinkan wisatawan, wisata Sumenep betul-betul memiliki keistimewaan dibanding destinasi wisata di luar sana. Misalnya Gili Iyang. Mau tak mau wisatawan harus diyakinkan, kadar oksigen di sana memang terbaik kedua di dunia setelah Yordania. Dengan cara apa? Pasti pemerintah tahu. Karena mereka digaji, salah satunya, memang untuk berpikir.

Jelang Sumenep Visit Years 2018, pemerintah tampaknya sangat perlu menyiapkan tempat penginapan bagi wisatawan. Jangan hanya menyiapkan toilet bertaraf internasional, seperti telah direncanakan di empat lokasi wisata. Tapi hotel berbintang juga harus ada. Agar wisatawan tak kapok datang ke Sumenep hanya gara-gara tak dapat penginapan sesuai selera.

Intinya, menyongsong tahun kunjungan wisata 2018, saya berharap pemerintah tak setengah-setengah mengelola objek wisata di Sumenep. Jangan biarkan Gili Labak dan Gili Iyang seperti "surga" namun tak dirindukan; Pantai Slopeng seperti sedang mati suri; dan Pantai Lombang seperti destinasi wisata tahunan. Terpenting, kata orang, jangan biarkan wisata kita hanya berkembang biak dalam asbak.

Pola pengembangan objek wisata di Sumenep harus fokus tanpa mengabaikan kesejahteraan masyarakat. Masyarakat harus terlibat di dalamnya serta ikut menikmati hasilnya. Jangan sampai masyarakat bertanya: "Pemerintah mengelola wisata untuk siapa?" atau "Apa sih, Sumenep Visit Years 2018 itu?".

Selain pemerintah, apakah masyarakat Sumenep secara umum tak bisa ikut andil menyukseskan Sumenep Visit Years 2018? Tentu sangat bisa. Paling tidak dengan ikut mempromosikan tempat-tempat wisata yang ada melalui media sosial atau membiasakan diri membuat kerajinan khas Sumenep yang sekiranya laku kepada wisatawan.

(Fathol Alif, masyarakat biasa)
________
Gambar: manusialembah.blogspot.com