Terbaru

Contributors

Berguru Kepada Ibrahim


Kurang lebih 7 hari lagi, kita akan merayakan hari raya Idul Adha. Hari Raya Kurban atau Idul Adha senantiasa mengingatkan kita kepada Nabi Ibrahim dan Ismail. Sebab, pada dasarnya, pelaksanaan kurban dalam setiap Hari Raya Kurban merupakan upaya untuk melestarikan apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dan  anaknya, Ismail. Hal ini juga sama dengan pelaksanaan ibadah haji. Ibadah haji pada prinsipnya juga untuk melestarikan pengalaman ruhani Nabi Ibrahim dan Ismail.

Meski begitu, jarang dari kita yang mencoba melakukan refleksi mendalam terhadap berbagai peristiwa tersebut. Masing-masing dari kita menganggap bahwa pelaksanaan kurban tak lebih dari ritual tahunan bagi mereka yang berkewajiban, tak kurang dan tak lebih. Akibatnya, pelaksanaan kurban kurang memberikan efek spiritual, baik kepada masyarakat umum maupun bagi yang berkurban itu sendiri. Inilah yang sangat disayangkan, mengingat peristiwa tersebut sarat dengan nilai-nilai spiritual yang mesti direnungkan untuk kemudian dijalankan oleh umat di masa kini.

Berguru kepada Ibrahim

Jika kita mau membuka lembaran sejarah, maka kita akan melihat bahwa perintah berkurban sejatinya berangkat dari kasus Nabi Ibrahim dan Ismail, di mana pada saat itu, Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih Nabi Ismail. Padahal, Nabi Ismail merupakan putra beliau yang amat sangat dicintai. Nabi Ismail merupakan anak pertama beliau dari hasil perkawinannya dengan istri kedua, Hajar, seorang budak hadiah raja Mesir. Dinamakan Ismail karena arti Ismail dalam bahasa Ibrani berarti “Tuhan telah mendengar”, dalam arti mendengar doa Nabi Ibrahim yang memang sangat merindukan seorang putra. Karenanya, hadirnya Nabi Ismail sangat dicintai dan dirindukan oleh Nabi Ibrahim.

Meski amat dicintai, namun ketika mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih Nabi Ismail sebagai kurban, Nabi Ibrahim melaksanakan hal itu meski dengan agak berat. Pada saat itu, iman Nabi Ibrahim benar-benar diuji. Antara cinta kepada putranya dan Allah. Namun, pada akhirnya Nabi Ibrahim lebih memilih yang terakhir. Apalagi, Nabi Ismail sendiri justru memberikan dukungan yang besar kepada Nabi Ibrahim untuk melaksanakan perintah Allah tersebut.

Di sinilah kita perlu belajar banyak kepada Nabi Ibrahim, pemimpin umat Bapak tiga agama: Yahudi, Kristen dan Islam. Di mana, meski beliau amat mencintai Nabi Ismail, namun karena sudah ada perintah Allah untuk menjadikan Nabi Ismail sebagai kurban, beliau tetap melaksanakan perintah Allah tersebut. Hal ini karena Nabi Ibrahim menyadari betul bahwa anak hanyalah “titipan” Allah yang kapan-kapan bisa diminta oleh pemiliknya (Allah). Dalam Alquran sendiri (salah satunya dalam surat Al-Anfal: 28) disebutkan bahwa anak-anak dan harta tak lain merupakan cobaan dari Allah Swt. Tugas manusia adalah tidak larut terhadap cobaan tersebut dan malah menjadikan ujian tersebut sebagai wahana untuk memperoleh pahala besar di sisi Allah Swt.

Namun demikian, saat ini banyak manusia yang tidak menyadari hal ini. Menganggap bahwa harta yang dimiliki manusia adalah mutlak miliknya. Akibatnya, mereka terjebak pada perilaku “gila harta”. Perilaku demikian tentu saja sangat berbahaya bagi manusia itu sendiri. Sehingga tak jarang mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta. Bagi para pejabat, tak sedikit di antaranya yang korupsi sebagai jalan “tol” agar cepat kaya. Sementara bagi yang pedagang, banyak pula yang menipu, baik dengan mengubah takaran atau dengan cara mempermainkan harga yang menguntungkan diri mereka sendiri.  

Padahal, harta merupakan ujian dan amanat yang diberikan Allah kepada manusia agar dapat dipergunakan dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Dalam setiap harta yang kita miliki terdapat hak anak yatim, orang miskin, dan sebagainya. Dalam kerangka ini, tugas kita adalah memanfaatkan harta kita di jalan Allah sebagai bentuk ketaatan dan penghambaan kita kepada Allah Swt.

Karena itu, momen hari raya Idul Adha mestinya juga dibarengi dengan perenungan mendalam terhadap peristiwa yang terjadi pada Nabi Ibrahim. Kita harus berguru dan meneladani Nabi Ibrahim. Beliau tidak ragu untuk mengorbankan “harta”-nya yang paling berharga (Nabi Ismail) sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Inilah yang harus kita tiru di zaman ini. Jangan sampai kita merasa ragu untuk mengeluarkan harta kita di jalan yang diridhai Allah, meskipun harta itu merupakan yang paling berharga bagi kita. Wallahu A’lam bi Al-Shawab.

(Paisun, peminat kajian-kajian keislaman)
____________________
Gambar: vostokphotos.ru