Terbaru

Contributors

Dana Desa dan Ide Menulis untuk Voila


Jika Fathol Alif mengatakan bahwa Voila merupakan tempat yang tepat untuk nostalgia dengan mantan, eh, masa lalu maksudnya,  maupun membangun khayalan dan berbagi lewat tulisan, maka saya kira hal itu tidak berlebihan. Voila memang dibangun sebagai tempat berbagi, sarana menyampaikan kritik secara elegan. Voila diharapkan sebagai wadah untuk menyampaikan gagasan dan pemikiran secara terbuka dan merdeka dengan gaya jenaka.

Tentu saja, setelah Anda menulis di Voila harapan dan aspirasi Anda tidak otomatis akan tercapai. Misalnya, Ach. Taufiqil Aziz yang curhat tentang status kejombloan dirinya tidak serta merta mendapat pasangan setelah menulis di Voila. Untuk diketahui, dia adalah jomblo abadi. Hanya keajaiabanlah yang akan membuatnya berpaling dari kejombloan menuju kehidupan bersama istri tersayang. Demikian pun dengan keinginan Fathol Alif agar rencana pembelian mobil dinas Bupati seharga 2 miliar dan kenaikan gaji dewan 30 juta per bulan digagalkan. Kita tahu, pemerintah memiliki seribu satu cara dan alasan untuk memuluskan rencana yang diinginkan. Sebaliknya, pemerintah juga memiliki seribu satu cara dan alasan untuk menolak keinginan dan aspirasi rakyat. Tentang hal ini, sudah banyak contohnya. Kasus penjualan tanah sebagaimana ditulis oleh Roychan Fajar hanya salah satu di antaranya.

Walaupun begitu, bukan berarti menulis tidak berguna. Kita harus tetap menulis untuk menyampaikan hal-hal yang menurut kita benar. Setidak-tidaknya kita berbagi informasi,  berbagi gagasan dan pengetahuan, ataupun menyalurkan kemarahan atas berbagai ketidakadilan di hadapan mata dengan argumentasi yang jelas dan tertata.

Maka dari itu, tetaplah menulis di Voila. Jangan pernah khawatir tentang ide tulisan. Ketahuilah, bahwa di era alay bombay di mana medsos adalah diary massal, bahan tulisan ada di mana-mana. Jika suatu pagi Anda tidak menemukan ide tulisan, hidupkanlah televisi Anda, dan tontonlah channel yang menayangkan berita. Bisa jadi Anda akan menemukan kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan yang berbulan-bulan berlalu tanpa ada kejelasan. Itu adalah anomali, mengingat penyerangan dilakukan di depan orang banyak dan di saat polisi kita begitu membanggakan dan sigap dalam menangkap pelaku terduga teroris misalnya. Atau masih berkaitan dengan kasus Novel Baswedan, mengapa program Talk Show “Mata Najwa” tiba-tiba berhenti tayang setelah menayangkan episode terakhir tentang wawancara khusus dengan Novel Baswedan. Atau tentang hiruk pikuk perayaan Hari Ulang Tahun ke-72 Kemerdekaan RI yang konon menghabiskan dana hingga 6 miliar lebih.

Kalaupun Anda enggan menonton televisi, ada banyak bahan tulisan lain yang bisa dikembangkan. Dana desa adalah salah satu pilihan.  Kita tahu secara nasional, dana desa tahun 2017 mencapai 60 Triliun atau dalam pecahan seratus ribuan berjumlah 600 juta lembar. Bayangkan, 600.000.000 lembar uang 100ribuan, betapa banyaknya. Uang sebanyak itu sama dengan 13 kali biaya pembuatan Jembatan Suramadu yang mencapai 4,5 triliun, itu pun masih tersisa 1,5 triliun. Kalau mau lebih fokus, cari tahulah tentang dana desa di desa Anda yang berkisar di angka 1 miliar itu. Cermatilah dengan baik apakah dana desa tersebut sudah dipergunakan sepenuhnya untuk kepentingan rakyat, atau seperti di Pamekasan, menjadi bancakan kepala desa untuk memperkaya diri sendiri?

Kalau bahan-bahan tersebut terlalu berat, tenang saja. Bahan-bahan lain yang lebih ringan masih banyak. Dalam hal ini, Anda bisa belajar kepada Rozi, yang mampu membuat hal-hal ringan menjadi berharga. Anda tahu jamban bukan? Di tangan Rozi, jamban pun bisa menjadi bahan tulisan yang memukau. Saya tidak tahu apakah ide tulisan tentang jamban itu ditemukan saat ia membuang hajat di jamban atau justru ditulis di atas jamban. Hanya Rozi yang bisa menjawabnya. Tapi yang pasti, tulisan tersebut telah memberikan pelajaran berharga tentang kontribusi jamban untuk mengisi kemerdekaan Republik Indonesia, eh, kejauhan ya?

Masih tentang ide tulisan, bisa jadi Anda menggunakan agama sebagai perspektif dalam melihat persoalan. Dalam hal ini, Anda bisa belajar kepada Syafiqurrahman, salah seorang kiai muda berkualitas. Ia bisa menggunakan kaidah ushul fikih untuk membahas persoalan Full Day School (FDS) dengan cara bernas namun tanpa meninggalkan unsur jenaka, sebagaimana telah ditulis di Voila.

Kesemua itu menunjukkan satu hal: tak perlu khawatir tentang ide tulisan. Yang Anda butuhkan hanyalah banyak bertanya dan merenung tentang berbagai persoalan dan fenomena kehidupan. Wallahu A’lam.  

(Paisun, penggiat literasi. Tinggal di Sumenep) 
 ____________
Gambar: lestaricentre.org

https/www.voila.id