Terbaru

Contributors

Diskopag dan Mobil Dinas Baru untuk Bupati Sumenep


Jika Anda ingin bernostalgia dengan masa lalu lewat tulisan, saya rasa Voila.ID adalah tempat yang pas. Begitu juga jika ingin mengkhayal, di "rumah" inilah tempatnya. Intinya, jika ingin berbagi dengan dunia, Voila.ID bisa jadi solusi (promosi sedikit agar tulisan ini tayang menyapa pemirsa sekalian. Ha ha ha).

Baiklah. Agar tak terlalu banyak promosi Voila.ID, saya ingin mengenang masa-masa saya waktu kuliah dulu, di sebuah kampus yang jauh dari kebisingan kendaraan, nyaris tak kenal hiruk-pikuk hedonisme, tapi sangat lekat dengan suara azan, orang mengaji dan berdiskusi. Wajar, kampus saya berada di bawah naungan pondok pesantren. Hampir setiap kegiatannya "sederhana", tapi bermakna serta berguna untuk bangsa, negara, lebih-lebih kepada agama.

Waktu saya masih kuliah, kalau tak salah ingat sejak semester tiga, saya bersama teman-teman punya rutinitas yang dilaksanakan tiap pagi--setelah mengaji kitab di pondok tentunya. Teman-teman saya ada yang seangkatan, kakak angkatan dan adik angkatan. Rutinitas itu kami namakan: diskusi kopi pagi (Diskopag).

Diskopag sebetulnya untuk mengisi waktu luang di pagi hari serta melawan nafsu ingin tidur lagi. Karena bertempat di kantin, tak enak rasa jika tidak memesan sesuatu. Pilihan kami pun jatuh pada kopi sebagai teman berdiskusi. Biasanya, satu cangkir diminum rame-rame. Kopi yang kami pesan tak lebih dari dua cangkir. Maklum, kami memang selalu menjaga kebersamaan dan kesederhanaan. Apalagi di saat sudah lama tak ada kiriman.

Topik diskusi kami serabutan. Biasanya terkait isu-isu hangat yang melanda negeri dan momen-momen tertentu ditinjau dari banyak persepektif. Misalnya, untuk saat ini, kisruh Permendikbud tentang FDS atau peringatan hari kemerdekaan kaitannya dengan masyarakat yang belum "merdeka" dari kemiskinan.

Selain isu-isu nasional, sesekali kami juga mengangkat persoalan-persoalan lokal. Saya membayangkan, seandainya Diskopag masih berjalan saat ini, tentu tema yang menarik didiskusikan ialah terkait rencana Pemkab Sumenep membeli mobil dinas baru untuk Bapak Bupati.

Tema tersebut menarik karena anggaranya cukup fantastis; Rp 2 miliar lebih, Bro! Apalagi rencana itu muncul di saat APBD Sumenep melorot dari Rp 2 triliun lebih di 2017 ke sekitar Rp 1,9 triliun di 2018.

Tak hanya itu, hingga sekarang masih banyak infrastruktur di desa-desa, lebih-lebih di kepulauan, yang butuh perhatian lebih dari pemerintah setempat. Masyarakat masih banyak hidup di bawah garis kemiskinan. Kemudian di saat bersamaan pula, gaji anggota DPRD Sumenep diusulkan naik menjadi sekitar Rp 30 juta per bulan dari sebelumnya "hanya" belasan juta.

Saya tak paham betul kenapa pemerintah bisa punya rencana itu. Sebab saat ini masih ada dua mobil dinas Pak Bupati. Satu Toyota Camry dan satunya Pajero Sport. Dua jenis mobil itu, hemat saya, sudah cukup elitis dan populis bagi orang nomor satu di lingkungan pemerintahan tingkat kabupaten.

Usut punya usut, rencana pemerintah membeli mobil dinas baru untuk mengganti mobil Pejero Sport. Mobil dinas bupati yang satu itu sudah dua kali mengalami kecelakaan, sehingga dinilai perlu untuk diganti dengan mobil baru.

Namun pertanyaannya: apakah sudah ada jaminan, setelah diganti tidak akan terjadi kecelakaan (lagi)? Siapa yang menjamin? Bagaimana bisa menjamin? Wallahu a'lam. Yang pasti rencana tersebut sudah mendapat restu dari legislatif. Tinggal menunggu hasil evaluasi Gubernur Jawa Timur.

Lalu bagaimana dengan Pajero Sport yang ada? Bukankah dalam aturan seorang kepala daerah hanya diperkenankan memiliki dua mobil dinas? Belakangan saya juga mendapat informasi, rencananya akan dipakai menyambut tamu-tamu penting. Siapa tahu, nanti ada tamu penting naik bis dari Surabaya kemudian turun di terminal Arya Wiraraja. Sehingga butuh dijemput pakai mobil oleh pemerintah. Tapi sepengetahuan saya, setiap tamu penting datang menggunakan mobil sendiri.

Kalau tamu penting yang dimaksud adalah wisatawan, sepenting itu, kah? Lalu bagaimana dengan kesejahteraan masyarakat? Saya hanya heran dan geleng-geleng kepala sambil mengingat-ngingat beberapa judul film: Alangkah Lucunya Negeri Ini dan Kiamat Sudah Dekat.

Solusinya bagaimana? Batalkan rencana membeli mobil dinas baru. Jika mobil yang ada dikhawatirkan kembali terjadi kecelakaan, mending Pemkab perbanyak membantu kaum duafa. Barangkali dengan cara begitu, Kabupaten Sumenep dijauhkan dari segala macam musibah. Karena selain memperlancar rezeki, sedekah juga dapat menolak musibah.

Tak logis, kan, solusinya? Saya memang sengaja. Karena alasan pemerintah mau membeli mobil dinas baru juga tidak logis. Sama tak logisnya dengan solusi yang saya tawarkan. Jadinya impas!!!

(Fathol Alif, alumnus Diskopag di Bukit Lancaran)
__________________
Gambar: Kompas.com