Terbaru

Contributors

Gadis Desa dalam Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI)


Hari ini—setelah empat bulan pelaksanaan KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia) di Cirebon—telah resmi  launching dokumen hasil KUPI kepada masyarakat, baik langsung maupun online. Perjuangan dan proses yang panjang tersebut, kini membuahkan hasil yang cukup “memuaskan”. Kenapa demikian? Karena selama ini  belum ada suara-suara perempuan dalam ruang fatwa yang benar-benar diperhitungkan dan diakui secara layak. Walaupun tidak termarginalkan dalam arti “senegatif-negatifnya”, namun suara perempuan, terutama dalam fatwa keagamaan, sangat jauh tertinggal di belakang laki-laki. Begitupun dengan berbagai literatur keagamaan, karya ulama perempuan bahkan sulit ditemukan. Sehingga dengan adanya KUPI—tempat dimana telah terjadi perjumpaan pemikiran perempuan—menjadi oase di tengah-tengah menguatnya paham radikalisme, fundamentalisme, dan isme-isme yang lain. Pencapaian ini layak mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya.

Masih segar dalam ingatan, bagaimana keseruan para ulama perempuan yang berdatangan dari berbagai kota hingga mancanegara, membincangkan tentang beberapa isu aktual, seperti kekerasan seksual, pernikahan anak, dan kerusakan lingkungan. Ketiga isu tersebut menjadi bahan diskusi yang sungguh asyik dan menarik. Persoalan-persoalan yang terjadi di dalam isu tersebut tidak sekadar untuk mencari jawaban atas pertanyaan. Bukan pula untuk saling menjatuhkan atau memenangkan argumen dalam panggung perdebatan. Lebih dari itu, para ulama perempuan telah merumuskan dan mengkonstruk ulang tentang persoalan perempuan dan lingkungan yang tak berujung, dengan menampilkan berbagai persepsi, analisis yang mendalam berlandaskan pada adillah al-Quran, Hadits, aqwalul ulama, dan konstitusi negara. Kemudian dilanjutkan dengan beberapa rekomendasi untuk dikaji dan direfleksikan bersama, baik untuk aparat negara, orang tua, masyarakat, terutama tokoh agama, tokoh adat, dan lembaga swadaya masyarakat.

Lalu, dalam diskusi tersebut—khususnya dalam musyawarah tentang kerusakan lingkungan—seorang mahasiswi pascasarjana UNU Jakarta yang masih “unyu-unyu”, bukan ulama atau ibu nyai perwakilan dari pesantren ataupun lembaga tertentu, ditunjuk untuk menjadi tim perumus. Betapa gadis itu kaget dan tak percaya, dirinya yang bukan siapa-siapa lantas diberi amanah yang menurutnya tak pantas di antara banyak ibu nyai dan tentunya ilmu serta kharismanya lebih tinggi bahkan jauh diandingkan dirinya. Sungguh luar biasa gadis ini! Akan tetapi kekurangan dan keterbatas ilmu yang dimiliki tidak menjadikan dirinya kerdil dan putus asa. Bersama tim perumus lainnya, termasuk dosennya sendiri (Ibu Ala’I Nadjib, M.A), ia bersama-sama berikhtiyar untuk perumusan fatwa tersebut. Dan, pada saat buku tadi launching, melihat namanya berada di antara deretan para perumus—yang notabene ibu nyai dan perempuan-perempuan hebat—lainnya, ada kristal di mata gadis ini yang membuat kabur pandangannya. Sungguh, pengorbanan dan usaha keras selalu membuahkan hasil yang begitu berharga. 

Pengalaman ini tidak ada sedikitpun niat menunjukkan rasa sombong untuk aktualisasi diri. Bukan pula untuk menunjukkan superioritas perempuan di atas laki-laki. Apalagi sebagai bentuk perlawanan kepada laki-laki dengan menisbatkan kepada tokoh femenisme radikal, seperti Amina Wadud ataupun Fatimah Mernissi. Sama sekali bukan itu! Hal ini tidak lain hanyalah untuk refleksi diri bahwa perempuan yang selama ini hanya dikonotasikan negatif dengan kata dapur, sumur, dan kasur, tidak selamanya benar. Stigma dan konotasi tersebut memang benar secara parsial. Mengapa demikian? Karena dalam realitasnya mayoritas perempuan berada di antara tiga dimensi tersebut. Akan tetapi kalau dikaji ulang, tiga kata tersebut tidak sesederhana seperti yang dibayangkan. Bagaimana anak akan belajar dengan tenang dan suami bisa bekerja sungguh-sungguh jika tidak ada seorang ibu yang menyiapkan makanan setiap hari? Itu berarti bahwa peran ibu di dapur menjadi energi bagi kelangsungan hidup sebuah keluarga. Bagaimana pula anak akan tumbuh menjadi pribadi yang santun dan sang suami idaman bisa perhatian, jika ibunya tidak berlaku lembut dan bertutur yang sopan, pada saat siang dan malam di rumahnya? Hal ini menunjukkan bahwa jiwa perempuan yang disebut-sebut lembut bak kasur tersebut memang benar-benar menjadi al-madrasatu al-ula bagi anaknya dan menjadi suporter utama untuk suaminya. Begitulah perempuan, selalu menjadi tempat berbagi dan oase di tengah-tengah tandusnya kehidupan berumah tangga. Kasih sayangnya menentramkan, senyumnya menyejukkan, dan kelembutan tingkah dan tutur katanya selalu melenakan. Itulah mengapa di balik laki-laki yang hebat selalu ada perempuan yang kuat di belakangnya.     

Terakhir, seperti yang diungkapkan oleh K.H. Husein Muhammad pada saat memberikan sambutan di acara peluncuran hasil KUPI, beliau membacakan sebuah sajak yang sangat menyentuh, dan bagi saya pribadi hal ini menjadi sebuah pembelaan jika ada sebagian orang yang tiba-tiba menghujat saya sebagai aktivis gender yang anti laki-laki. Beliau mengatakan; tidak sempurna sebuah cinta sampai dua orang yang saling mencinta mengatakan “Kamu adalah aku yang lain”. Sajak ini membuktikan bahwa laki-laki dan perempuan, suami dan istri adalah dua orang yang menjadi satu dan tak terpisahkan. Keduanya saling membutuhkan dan tidak pula saling menunjukkan superioritas apalagi penindasan. Semuanya satu dalam kasih dan cinta.

(Ulfa Chan, mahasiswa pascasarjana UNU Jakarta)
___________
Gambar: Pixabay