Terbaru

Contributors

Inilah Alasan Mengapa Perempuan Menolak Poligami


Suatu saat, saya sempat bertanya kepada salah satu teman perihal poligami, bersedia tidak dipoligami oleh suaminya kelak. Lantas dia menjawab, “Sampai sekarang, aku masih mau apabila memang suamiku minta berpoligami.” Berarti kalau besok-besok pas dia nikah, masih bersediakah? Mungkin kalau sudah nikah, teman saya tersebut akan berpikir berulangkali saat mendapati suaminya ingin kembali menikah. Tapi, saya kira hal itu bermuara pada spekulasi semata.

Masih berhubungan dengan orang lain, dalam suatu pembelajaran di kelas yang mana saya sendiri muridnya, saya pernah mendengarkan penjelasan seorang guru. Beliau berasumsi bahwasanya indikator keimanan seorang perempuan dapat dilihat dari sikapnya mengenai poligami. Jika seorang perempuan dengan suka hati menyetujui keputusan suaminya untuk dipoligami atau bahkan sampai berani menyuruh sang suami, maka tak pelak lagi bahwa ia mempunyai kadar keimanan yang lumayan. Sebaliknya, jikalau sang istri sampai minta cerai sebab keinginan suaminya tersebut, maka keimanan mereka patut diragukan. Benarkah demikian?

Iman atau nyaman?
Dalam Islam, seorang istri dituntut untuk patuh dan tunduk pada suaminya. Andaikata suatu saat sang istri dilema antara harus patuh pada titah suami atau manut pada kehendak kedua orang tua, maka dia harus memilih keputusan suaminya. Itulah Islam, betapa sangat perduli pada kehidupan kekeluargaan, hubungan antara suami dengan istrinya.

Akan tetapi, sebagai seorang perempuan, seyogyanya selain patuh pada suami, pun juga cerdik dalam menyikapi suaminya. Termasuk dalam hal berpoligami. Seorang istri harus tahu terhadap alasan sang suami untuk berpoligami. Jika memang alasannya baik dan demi kemaslahatan bersama, sebagai sosok yang abdi pada suami, si istri tidak mempunyai kewenangan untuk melarang ataupun menghalang-halangi keinginannya. Sebab, terkadang seorang laki-laki memiliki alasan yang tidak dapat diterima oleh istrinya sendiri.

Hemat penulis, terdapat beberapa alasan yang sering digunakan seorang laki-laki tatkala berkeinginan untuk berpoligami. Pertama, lantaran mengikuti sunnah rasul. Rasulullah Saw. memang tidak melarang umatnya untuk berpoligami. Bahkan dalam al-Quran telah dijelaskan pada surat an-Nisa’ ayat ke-3 yang artinya, “Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

 Akan tetapi, dalam kitab Tafsir al-Munir disebutkan bahwa hukum asal poligami adalah boleh (mubah). Meskipun ayat al-Quran yang menjelaskan tentang poligami tersebut memakai kata perintah (fi’il ‘amar). Jadi, bukanlah serta merta menjadi suatu perintah yang menganjurkan seorang laki-laki untuk memadu istrinya. Apalagi pada ayat di atas telah gamblang diterangkan bahwasanya apabila seorang laki-laki tidak bisa atau khawatir tidak bisa berbuat adil terhadap istri-istrinya, maka cukuplah hanya satu istri saja yang terbaik.

Selain itu, Rasulullah Saw. berpoligami setelah Sayyidah Khadijah wafat. Dan di antara alasan Rasul berpoligami pada waktu itu adalah untuk menetapkan hukum Islam dan menyelamatkan anak yatim. Dalam memilih istri pun, Rasulullah sangat tidak hirau apakah sang calon istri cantik atau malah buruk rupa, bahkan tak perduli jika usianya terlampau jauh dengan beliau. Semisal istri Nabi yang bernama Saudah dari Afrika. Antara Nabi dan Saudah, selisih umur keduanya terpaut 18 tahun lebih tua dari Nabi. Apalagi Saudah berkulit hitam pekat serta memiliki anak sebanyak 12 orang.

Dan sekarang, setelah kita mengamati istri-istri orang yang berpoligami, mayoritas istri keduanya lebih muda dalam hal usia, berperawakan lebih bagus, dan statusnya sebelum dipinang ternyata masih perawan. Keadaan serupa juga terjadi pada istri ketiga dan keempatnya.

Kedua, untuk menolong anak yatim, sebagaimana yang Rasulullah SAW. juga pernah lakukan. Padahal jika ditilik lebih lanjut, seorang laki-laki juga bisa membantu atau memudahkan anak yatim dalam memenuhi kebutuhannya dengan tidak mengawini ibunya. Bahkan terkadang, bukan karena sayang pada anak yatimnya, tapi perhatian senantiasa diprioritaskan kepada ibunya semata.

Oleh sebab itu, saya katakan lagi bahwa seorang perempuan harus cerdik dalam menyikapi sang suami. Jadi, jika memang iman yang dijadikan alasan utama untuk berpoligami, maka dukunglah sang suami. Untuk memperoleh keturunan karena istri pertama tidak bisa hamil misalnya.

Akan tetapi, jika sang suami hendak berpoligami karena memang ada seorang perempuan yang diincar, atau dalam bahasa penulis lantaran nyaman, maka berusahalah untuk mengingatkannya mengenai kemungkinan-kemungkinan yang terjadi terhadap masa depan keluarga ketika sang suami benar-benar berpoligami. Namun perlu diingat bahwa jangan sampai terkesan menghalangi atau bahkan melarang suaminya untuk berpoligami. Sebab secara hukum, seorang perempuan tidak mempunyai daya untuk melarang suaminya dalam berpoligami.

Aspek Negatif Berpoligami
Dalam suatu hal, pasti di dalamnya memuat sisi positif dan negatif. Namun, antara keduanya pun pasti ada slah satu yang mendominasi, entah sisi positif atau negatifnya. Hal itu bergantung pada apa dan siapa yang sedang bersumsi.

Termasuk ihwal poligami yang terdapat aspek positif dan negatifnya pula. Berdasarkan pengamatan dari penulis yang mendapat arahan dari salah satu dosen INSTIKA, terdapat tiga aspek negatif apabila dalam sebuah keluarga yang suaminya berpoligami. Pertama, merenggangnya keharmonisan hubungan antara suami dengan istri pertamanya. Semisal sering terjadi cek-cok yang penyebabnya hanyalah hal-hal sepele. Kedua, akan mendatangkan rasa sakit hati dari beberapa amggota keluarga, mulai dari istri pertama, kedua mertua, dan anak. Mereka akan sering merasa sudah ada pemisahan kadar kasih sayang antara anggota keluarga istri pertama dan anggota keluarga istri yang kedua dan seterusnya.

Dan ketiga, akan berpeluang melakukan perbuatan dosa. Hal ini bisa berupa istri pertama yang kurang taat pada suami dan anak yang kemudian menjadi kurang patuh pada bapaknya.

Akan tetapi, bukanlah serta-merta kehidupan dari seluruh keluarga yang berpoligami senada dengan yang telah dipaparlkan di muka. Sebab, hal itu hanya berkaca kepada kenyataan yang sering terjadi di lapangan. Namun ada pula yang keharmonisan suatu keluarga dapat tercapai ketika sang suami berpoligami. Sebab, poligami tidaklah dilarang oleh agama Islam. Jadi, pada akhirnya seorang perempuan haruslah senantiasa berusaha untuk melayani sebaik-baiknya seorang laki-laki yang telah resmi menjadi suaminya. Jangan biarkan sang suami merasa tidak betah sehingga sampai berpikiran untuk berpoligami saja. Karena pepatah “rumput tetangga jauh lebih hijau daripada milik kita.”

(Uzlifatul Laily, mahasiswi Ilmu al-Qur'an dan Tafsir INSTIKA)
_________________
Gambar: Pixabay.com