Terbaru

Contributors

Jangan Ngaku Guru Kalau Hanya Bisa Ngajar


Dalam bahasa Jawa, Guru adalah akronim dari “digugu” dan “ditiru” (dipercaya dan ditiru). Digugu dan ditiru tidak mudah dicari dalam sosok seorang manusia, termasuk yang sering kita sebut guru di sekolah. Maka, menjadi seorang guru adalah uswah hasanah yang dapat memberikan dampak signifikan bagi anak didiknya, baik secara intelektual, emosional, maupun spiritual.

Sungguh, selain tugas ini sangat mulia, menjadi seorang guru ternyata tidak mudah. Seorang guru harus mampu memberikan materi ajar yang bermutu di dalam kelas. Tidak sebatas mentransfer ilmu pada anak didiknya, tapi guru harus mampu mentransformasikan ilmu tersebut sehingga mampu diaplikasikan dalam laku-hidup keseharian para muridnya. Bukan hanya berhenti di dalam kelas dan otak saja, selepas itu sudah selesai.

Dalam kehidupan sosialnya, guru harus mampu memberikan teladan yang baik, yang mampu dan mau ditiru oleh para muridnya. Jangan bersemangat mengarahkan anak didiknya untuk shalat Tahajud, sementara dirinya bangun kesiangan. Jangankan tahajud, subuh pun kadang dipatok ayam.
Maka yang dimaksud dengan digugu/dipercaya itu adalah bahwa apa yang mereka sampaikan kepada para muridnya, sesuai dengan apa yang dilakukannya. Kata sesuai dengan kerja. Jika sudah demikian, maka para murid tidak perlu harus tiap hari diberi nasihat dan wejangan untuk melakukan perbuatan-perbuatan positif. Cukup dengan melihat perilaku dan akhlak hidup guru tersebut, para murid sudah paham apa yang harus dan tidak untuk dilakukan. Di sinilah, makna ditiru mengemuka.

Hanya saja, dalam pengamatan saya, saat ini tidak banyak yang bisa disebut guru. Kalau pengajar, iya. Sekadar ngajar. Hanya memberikan pelajaran. Mereka datang ke sekolah hanya untuk menggugurkan kewajibannya dalam mengajar. Datang pagi, masuk kelas, waktu istirahat ngopi di kantor, masuk kelas lagi, setelah itu pulang. Sudah. Selesai satu kewajiban. Mereka tak pernah memikirkan muridnya ketika keluar dari lingkungan sekolah. Yang ada dalam pikiran mereka, hanya soal gaji: kapan ada kenaikan, kapan segera dicairkan.

Orang yang tiap harinya mengabdikan dirinya di lembaga pendidikan, saya lihat, masih banyak yang belum mampu memberikan contoh yang baik kepada para muridnya. Mana mungkin bisa disebut guru jika perilaku kesehariannya tidak sama dengan ucapan dan nasihatnya di kelas? Mana mungkin bisa dianggap guru jika ternyata muridnya “dikencani”? Apakah mereka layak untuk digugu? Kalau sudah tidak bisa digugu, masihkah mereka bisa ditiru? Kalau sebatas ditiru, sih, bisa saja. Tapi, ditiru apanya?

Guru itu mulia. Dalam peribahasa Madura, ada ungkapan, buppa’-babu’-guru-rato (orang tua/ayah-ibu-guru-pemimpin). Mereka punya posisi agung dan harus dihormati. Untuk menjadi agung, seseorang harus bisa menjadi guru, bukan sebatas ngajar. Makanya, jangan ngaku guru kalau hanya ngajar!

(Abd. Muqsith, Pengajar [belum jadi “guru”] di YPI Nurul Mannan, Sukogidri, Ledokombo, Jember)
_____________
Gambar: Pixabay