Terbaru

Contributors

Kala Rabi'ah Ingin Membakar Surga dan Memadamkan Api Neraka


Suatu ketika, seorang perempuan berpenampilan semraut dengan badan dekil, baju kumal dan wajah acak-acakan berlari kencang di siang hari yang panas, menembus keramaian di tengah kerumunan orang-orang. Di tangan kanannya dia membawa obor dengan api menyala dan setimba air ada di tangan kirinya. Dia berlari kencang sambil berteriak:

“Di mana surga berada... ada di mana neraka...?" dengan nada bertanya, dia berkali-kali meneriakkan kata-kata itu.

“Hai perempuan, apa urusanmu menanyakan letak surga dan neraka? Untuk apa juga kau membawa setimba air dan obor yang menyala?". Tanya seorang laki-laki kepada perempuan itu.

“Aku ingin membakar surga dengan obor ini dan aku akan memadamkan api neraka dengan setimba air ini, karena orang-orang sudah menyembah dan beribadah kepada Allah bukan atas dasar rasa cinta kepada-Nya. Bukan pula atas dasar ikhlas serta kesadaran tugasnya sebagai hamba, tapi semata-mata karena menginginkan surga. Banyak pula orang-orang yang menyembah Allah bukan karena ingin memperoleh ridlo-Nya, tapi karena takut akan sengatan siksa panas api neraka,” jawab perempuan itu dengan nada marah dan kesal.

Perempuan tersebut adalah Rabi’ah al-Adawiyah yang sedang dalam kadaan jadzab, seorang tokoh sufi perempuan yang terkenal dengan gerakan cintanya dalam beribadah kepada Allah. Ya, gerakan cinta yang tentunya dilandasi keikhlasan tanpa pamrih dan tidak mengharapkan balasan apa-apa karena dilakukan dengan senang hati dan suka rela.

Bukan pula ibadah yang dilakukan secara terpaksa karena membayangkan siksa pedih dan panasnya api neraka. Alangkah indah dan nikmatnya, semua dilakukan dengan perasaan suka cita tanpa merasa terbebani apa-apa. Bukan karena iming-iming surga, bukan pula karena ancaman neraka.

Di masa Nabi, ayat-ayat yang berisi ancaman neraka dan iming-iming keindaham dan kenikmatan surga banyak diturunkan pada awal-awal masa kenabiaan. Ketika itu Nabi Muhammad masih mengajarkan Islam  di Mekkah sebelum melaksanakan hijrah ke Madinah. Orang-orang kafir Quraisy yang jahiliyah sulit sekali menerima agama Allah. Maka, mental keimanan pertama-tama  yang akan ditumbuhkan oleh nabi pada diri mereka harus dimulai dari mental kekanak-kanakan.

Sehingga, iming-iming hadiah surga serta seluruh kenikmatan dan keindahan di dalamnya, serta ancaman neraka serta segala siksa dan kengerian di dalamnya pantas untuk selalu diwahyukan oleh Allah dan disampaikan oleh nabi kepada kaumnya agar menerima Islam dan tertarik untuk menyembah Allah, tuhan mereka satu-satunya

Dalam konteks ibadah, mungkin hal yang diajarkan oleh Rabi’ah al-adawiyah di atas terlalu sufistik. Sebagai hamba biasa yang belum mampu meleburkan diri ke dalam pemahaman kegamaan tingkatan para wali, tentu saja hampir mustahil kita melakukan ibadah sepertihalnya gerakan cinta Rabi’ah al-Adawiyah.

Ibarat anak-anak, iman kita ternyata belum dewasa. Keberadaan surga dan neraka tak ubahnya seperti iming-iming dan penggertak bagi kita agar selalu menyembah Allah. Sepertinya, lirik lagu Ahmad Dhani Feat Almarhum Chrisye memang ada benarnya, begini kata lagu mereka:

Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau menyebut nama-Nya
Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau sujud kepada-Nya

Jika direnung dalam-dalam, sepertinya memang begitu kenyataannya, tidak bisa kita membantahnya. Padahal sejatinya, efek atau manfaat dari ibadah yang kita lakukan adalah untuk kebaikan dalam hidup kita, bukan untuk Allah.

Keagungan, keesaan dan ketinggian Allah atas segalanya tidak akan pernah terkurangi meski kita tidak menyembah-Nya. Allah tidak butuh kepada kita, tetapi kita yang selalu butuh kepada-Nya.

Manfaat ibadah mahdlah untuk diri kita di dunia, mungkin sulit untuk kita sadari karena bersifat abstrak dan tidak secara langsung. Seperti halnya manfaat shalat, puasa, haji dan berdzikir. Tetapi, mari kita mulai membentuk kwalitas iman dan mental yang lebih dewasa lagi melalui ibadah ghairu mahdlah agar kita mampu melakukan kebaikan dengan penuh kesadaran tanpa ada paksaan. Seperti belajar disekolah dan di rumah, menghormati teman dan orang tua, menolong kepada sesama, kuliah dengan rajin, bekerja dg senang hati, dan membayar pajak tanpa harus ditagih.

Jika selama ini kita mendorong anak kita rajin dan senang berangkat ke sekolah dengan iming-iming atau motivasi adanya uang saku, janji dibelikan HP baru dan sepeda oleh kita selaku orang tua, maka sedikit lebih maju dan dewasa mindset tersebut kita ubah.

Tanamkan pemahaman kepada anak-anak kita bahwa belajar itu menyenangkan, merupakan hak setiap anak usia pendidikan dan demi kesuksesan di masa depan serta diiringi harapan semoga mendapat keridloan Allah semata.

Demikian pula bagi para pelajar, apabila mulai hari-hari kemaren kita terpaksa berangkat untuk belajar ke sekolah karena takut pada kemarahan orangtua, dikucilkan dalam pergulan remaja, diskorsing oleh sekolah dan takut dilaporkan oleh wali kelas kepada Bapak dan Ibu di rumah, maka tinggalkanlah mental ibadah yang childish tersebut. Beralihlah kepada mental ibadah yang lebih dewasa dengan memandang bahwa mencari ilmu itu adalah panggilan jiwa, kesempatan yang perlu disyukuri dan dimanfaatkan sebaik-baiknya karena aktifitas belajar tersebut sangat mulia dan untuk tujuan mencapai keridloan Allah sehingga kelak ilmu yang didapat akan mengantarkan pemiliknya pada ketinggian derajat, dunia dan akhirat. Amin!

(Moh. Jufri Marzuki, pustakawan PP. Al-Faqih Sumber Nyamplong Kowel Pamekasan, saat ini aktif menjadi penggerak lintas kepengurusan di semua tingkatan organisasi pelajar IPNU-IPPNU se-Kabupaten Pamekasan)
______________________
Gambar: Pixabay