Terbaru

Contributors

Kala Selfie Tenggelamkan Literasi




Saya akan memulai tulisan ini dengan sedikit bercerita tentang caption teman saya di instagram beberapa waktu lalu. Kalimat itu berbunyi “kurang selfie menyebabkan ketidakkonsetrasian” dan dilanjutkan dengan emoticon tertawa yang membuat pembaca geli sekali membacanya. Caption ini sesuai dengan fotonya yang hanya memperlihatkan beberapa gambar wajah hasil poret dengan gaya selfie.

Sebelum saya membaca caption ini, saya juga tersentil dengan status teman saya di facebook. Ia membahas tentang realita sosial yang terjadi dalam dunia pariwisata, poin yang saya tangkap dalam statusnya adalah kebanyakan masyarakat saat ini pergi wisata hanya fokus untuk kegiatan selfie, foto, mencari objek yang pas terus langsung diupload ke media sosial masing-masing. Masyarakat tidak sepenuhnya menikmati keindahan objek wisata, yang terpenting mereka telah mengambil foto dan upload di media sosial, urusan sudah kelar. Saya rasa, status teman saya di facebook banyak benarnya. Kedua hal yang saya ceritakan sebelumnya ini terjadi karena pemahaman masyarakat terhadap tindakan-tindakan seperti selfie, berpose di banyak objek wisata, foto narsis dan lainnya adalah sebagai bentuk eksistensi diri mereka. Wajar bila sesuatu hilang maknanya karena teralihkan kepada budaya selfie sebagai eksistensi diri.

Akibat dari budaya selfie yang merajarela di kalangan masyarakat khusuSnya pemuda masa kini, akhirnya teknologi pun dirancang agar masyarakat nyaman ketika selfie. Telepon genggam misalnya, telah menawaran kamera depan dengan kualitas kamera terbaiknya hanya untuk menciptakan hasil selfie yang terbaik. Dan ini menjadi  penawaran menarik atau sebagai icon dalam iklan-iklan. Apalagi didukung dengan media sosial yang banyak menyediakan ruang hasil selfie, mulai dari status di WhatsApp, Instagram, Path, dan lainnya yang lengkap dengan story livenya.

Pemahaman pemuda saat ini mengenai eksistensi diri yang terletak saat mereka selfie dan banyak mengunggah foto di akun media sosial, mau tidak mau telah menyebabkan budaya membaca dan menulis berkurang. Budaya literasi mulai ditinggalkan, pemuda tidak lagi mencintai argumentasi dan bergelut dengan ide dan bahasa. Apalagi hal ini banyak terjadi kepada pemuda-pemuda yang masih belum sempurna menerima budaya literasi berkembang di tengah masyarakat lalu dicekoki hal-hal berbau teknologi informasi. Sehingga, pemuda mengalami shock culture dan ini berdampak buruk terhadap cara pemuda dalam menggunakan teknologi berikut media- media di dalamnya. Literasi mulai tenggelam dari kehidupan pemuda dan teralihkan pada dunia maya yang mayoritas hanya di gunakan untuk kesenangan semata.

Jika hal ini terus terjadi, maka cepat atau lambat pemuda akan kehilangan identitasnya sebagai manusia yang penuh semangat, agen perubahan, dan lainnya. Kata-kata Soekarno yang berbunyi “berikan aku sepuluh pemuda maka akan kuguncangkan dunia” tidak akan berlaku lagi. Sebab kondisi pemuda saat ini berbeda dengan pemuda pada zaman Soekarno. Jika pada zaman Soekarno pemuda dengan gairah dan semangatnya mengawal cita-cita bangsa, maka saat ini pemuda takut dan ragu untuk melakukan itu semua. Sebab kurangnya pengetahuan dan budaya membaca, juga menyebabkan tingkat sikap kritis pemuda menurun.

Tapi semuanya masih belum terlambat. Tidak ada kata terlambat bagi para pemuda. Ketika kita mau bertekad melawan arus, maka dunia masih membuka pintu untuk kita masuki. Mulai berpikir bahwa sebenarnya eksistensi diri pemuda terletak saat kita mencintai dunia literasi, menyukai argumentasi dan mengkritiknya, mampu bergelut dengan kata-kata, bahasa, dan ide-ide para tokoh bangsa bahkan dunia. Selamat melangkah, duhai pemuda!

(Alfiatul Khairiyah, mahasiswa Sosiologi Universitas Trunojoyo Madura)
_________________
Gambar: selipan.com