Terbaru

Contributors

Karena Lidah Itu Tak Bertulang



“Kalian tahu, macan tetap ditakuti meski sedang diam. Namun anjing akan dilempar jika terlalu banyak menggonggong”.

Kata-kata bijak mengandung banyak hikmah di atas merupakan nasihat yang menyejukkan jiwa dari seorang ulama besar dan masyhur bernama Imam Syafi’ie. Ulama Fiqih yang tidak hanya terkenal sebagai seorang mujtahid, namun juga kesohor karena untaian kata-kata beliau yang selalu mencerahkan dan menyimpan banyak makna yang setiap saat berguna dalam perjalanan panjang kita mengarungi kehidupan beragama dan bermasyarakat.

Penyebutan dua binatang di atas merupakan tamsil atas kecenderungan kita selama ini yang tanpa sadar telah berperangai seperti keduanya. Terkadang kita menjelma serendah anjing, kadang pula kita berwibawa seperti macan. Lontaran kata-kata kita kerap kali tak berharga layaknya sampah, namun di saat yang lain tiba-tiba saja kita bijaksana dan kata-kata kita betul-betul menyentuh kesadaran orang lain untuk mengubah menjadi lebih baik dari sebelumnya dan mendorong orang lain untuk melakukan hal-hal baik dan positif, meski hanya sekadar motivasi ringan dan ucapan singkat dan sederhana.

Jika Nabi Muhammad adalah al-Quran yang berjalan karena tidak ada satu pun sabda beliau yang berasal dari hawa nafsu manusiawi melainkan wahyu, sehingga apa yang beliau ucapkan selalu bijaksana, mengandung kebenaran, dan hikmah, lalu bisakah kita selaku umatnya menyamai beliau? Menyamai, tentu adalah hal yang mustahil karena beliau adalah Nabi Allah, imam seluruh para nabi, makhluk pilihan dan ma’shum atau terjaga dari perilaku buruk dan maksiat. Sedangkan kita, adalah manusia biasa tempatnya salah dan dosa.

Namun, bukan berarti itu menjadi alasan untuk kita lengah dan selalu berperangai seperti anjing yang selalu menggonggong dan tidak digubris, malah dilempar dengan sandal. Jika Nabi adalah duta Allah yang setiap tutur sabda beliau adalah kepanjangan dari firman-Nya yang selalu sejuk untuk didengarkan, maka tidak bisakah kita untuk lebih dekat lagi dengan Allah agar setiap tutur kata kita lebih sopan, santun, sejuk, dan dirindukan banyak orang? Macan sebagaimana diibaratkan oleh Imam Syafi’ie, mengingatkan saya pada ketokohan para kiai atau ulama besar di banyak pesantren. Dawuh beliau selalu dinantikan oleh ribuan santrinya. Berduyun-duyun para alumni pesantren, wali santri dan masyarakat umum berdatangan berkunjung ke kediaman beliau hanya untuk minta petuah, nasihat, bimbingan dan arahan, meski hanya kata-kata singkat tapi padat, pendek namun berbobot dengan bahasa yang datar dan lembut tanpa berapi-api.

Semua itu, tidak lain karena keluasan ilmu sang kiai dan kedekatan beliau dengan Allah, sehingga setiap dawuh beliau mengandung hikmah dan selalu dinantikan. Jangankan bertutur kata, diam pun beliau terlihat berwibawa dan orang-orang di sekitar beliau tunduk seakan-akan sedang mendengarkan tutur kata beliau dalam diam seribu bahasa. Tingkah laku orang-orang di dekatnya seakan terjaga agar tidak sedikit pun salah, keliru dan tidak sopan dalam pandangan sang kiai. Hal ini benar-benar selaras dengan yang disampaikan dalam nasehat Imam Syafi’ie tadi, bahwa macan tetap ditakuti meski sedang diam.

Tiba-tiba saya jadi teringat lirik sebuah lagu yang dipopulerkan oleh grup band SLANK yang berjudul “Tong Kosong” yang berbunyi:

Tong kosong nyaring bunyinya
Tang-tong kosong banyak bicara
Oceh sana sini gak ada isi
Otak udang ngomongnya sembarang
Haa... Aaaa...!

Tong yang kosong jika dipukul memang bersuara nyaring. Begitu pula sebaliknya, tong yang penuh dengan isi tidak mengeluarkan suara nyaring jika dipukul. Artinya, buat apa banyak bicara jika tak bermakna apa-apa bahkan menimbulkan konflik dan ketegangan. Lebih baik sedikit bicara yang penting setiap kali melontarkan kata memberikan pencerahan, ilmu dan solusi bagi masalah yang dihadapi pendengarnya. Ocehan sana-sini yang tanpa isi menunjukkan kedangkalan ilmu seseorang. Omongan yang sembarang dihasilkan tanpa proses pemikiran yang panjang karena disebabkan keterbatasan tingkat kecerdasan yang oleh SLANK dilambangkan dengan sebutan otak udang.

“Bicaralah sesuatu yang baik-baik, atau diamlah”, begitulah kira-kira ungkapan bijak dari Arab. Ungkapan yang mengajarkan kita untuk lebih banyak diam jika tidak bisa bertutur kata dengan baik. Jika tidak bisa menyampaikan pesan moral dengan perkataan, jalan terbaik adalah disampaikan dengan perbuatan atau contoh praktik perilaku yang baik pula. Seperti halnya pepatah singkat yang juga dari Arab, “lisanul hal afshohu min lisanil maqol”, yang berarti bahwa bahasa tubuh lebih memberikan pengaruh secara baik dari pada bahasa perkataan.

Lidah memang tak bertulang, mudah sekali menggerakkannya karena tekstur lidah yang elastis sehingga mudah pula membantu kita mengutarakan kata-kata. Tapi, kita harus hati-hati karena “salamatul insan fi hifdzil lisan”, yang artinya bahwa keselamatan seseorang tergantung pada kemampuannya dalam menjaga lisan. Kesaksian palsu, kebohongan, fitnah, gosip dan provokasi adalah jenis kata-kata malapetaka yang mengantarkan pelakunya pada lembah dosa, bahkan menjeratnya ke dalam pintu penjara. Na’udzubillah...!(Jufri Marzuki, penikmat literasi, pegiat gerakan NU Kultural, tinggal di Nyalaran Blumbungan Pamekasan)
____________________
Gambar: viva.co.id