Terbaru

Contributors

Kenakalan Remaja dan Modernisasi: Sebuah Pandangan Kritis


Modernisasi adalah proses perubahan yang tidak dapat dihindari. Modernisasi terus menjalar dari satu region ke region lain membangun jejaring global. Modernisasi yang identik dengan proses perubahan ala Eropa Barat terus mengilhami berbagai tindakan perbaikan di belahan dunia, karena masifnya pergerakan “virus” ini. Modernisasi seolah telah menjadi baku mutu bagi usaha pencapaian suatu negara. Sudah banyak ahli yang memunculkan konsep modernisasi beserta resep-resepnya (Budiman,2000). Max Weber berusaha menjelaskan tentang munculnya gairah kemajuan dengan menghubungkan semangat religiusitas yang tinggi. Alex Inkeles bahkan menyusun prasyarat bagi terbentuknya manusia modern. Harord-Domar menjelaskan tentang peran serta teknologi dan modal dalam penyusunan kemajuan. McCleland dengan pikiran modernis berusaha menjelaskan pencapaian kemajuan,karena ada semangat berprestasi (Virus N-Ach), dan masih banyak lagi. Modernisasi terus digodok dan mengalami penyesuaian dari waktu ke waktu.

Modernisasi kemudian bertemu dengan sepupunya developmentalisme yang kemudian menjadi semacam alat baca bagi perancangan pembangunan di dunia. Kedua perpaduan tersebut mendorong pembangunan nasional yang bertumpu pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pentingnya kekuatan arus modal (Sam,2014).  Modernisasi dan Developmentalisme berpadu untuk mendorong peningkatan kapitalisasi di berbagai belahan dunia,khususnya negara berkembang seperti Indonesia. Gaya pikir modernisasi mendorong pentingnya investasi asing dalam upaya perbaikan kesejahteraan Indonesia dan berdalih alih teknologi. Modernisasi di Indonesia telah memicu munculnya jaringan panjang korporatisme yang bertopang pada kapitalisasi dengan dalih perbaikan. Dengan iming-iming alih teknologi dan peningkatan produktivitas nasional, gaya pikir modernisme berusaha mendorong pada penguatan basis kapitalis. Padahal di lain sisi,negara hanya dijadikan sebagai area pemasaran dari produk-produk yang diproduksi oleh korporat yang telah berjejaring secanggih modernisme. Negara menjadi tak lebih dari tempat sirkulasi barang yang diproduksi di dalam negeri secara melimpah dan kembali dibeli oleh pasaran domestik yang potensif. Apalagi mengingat Indonesia adalah pasar yang cukup potensif di dunia. Pada akhirnya elemen masyarakat lah yang menjadi sasaran produk-produk yang diproduksi oleh korporat hasil mahakarya modernisme. Masyarakat menjadi terkesan konsumtif,karena hanya terus menerus dijadikan pasar. Negara yang telah terpapar gaya modernisme berdalih bahwa penjagaan pasar adalah dalam rangka meningkatkan daya beli masyarakat yang nantinya akan kembali menjadi sumber pemasukan negara. Namun,kita harus mengingat bahwa permodalan tersebut tak sepenuhnya dikelola negara,namun juga masuk ke korporat sebagai “balik modal” investasi asing.

Sasaran empuk yang perlu dilindungi secara serius terhadap jangkar modernisme yang salah arah itu adalah kalangan remaja. Apalagi mengingat usia remaja masih berada pada masa transisi pencarian kepribadian (Mulyasri,2010). Masa remaja yang identik dengan pencarian identitas akan cenderung mengkonsumsi produk secara serampangan apabila tanpa diikuti dengan pendampingan dan pengetahuan yang cukup. Pola konsumsi remaja tersebut perlulah sangat diperhatikan. Apalagi saat ini para remaja menjadi sasaran empuk dari berbagai produk komersial,contohnya saja rokok. Dalam iklan-iklan rokok saat ini selalu digambarkan bagaimana sikap remaja yang tangguh dan suka menjelajah itu mereka selalu merokok. Sehingga kemudian dalam realitas sosial,remaja yang “menikmati” iklan tersebut tersugesti untuk mengkonsumsi rokok sejak usia muda. Hal ini kemudian menjadi tak terkendali,karena masifnya tekanan perubahan modernitas telah membuat pranata-pranata sosial belum siap menyesuaikan diri,sehingga kini muncul ledakan perilaku menyimpang yang dilakukan remaja.

Modernisme tampaknya telah menyebabkan guncangan kebudayaan yang begitu kuat di negara berkembang seperti Indonesia. Kemajuan teknologi dan informasi yang terus meningkat seiring berjalannya waktu,perlu didukung dengan daya dukung lingkungan dan kemampuan yang cukup pula. Apabila daya dukung lingkungan dan kemampuan yang dimiliki remaja pada khususnya minim, pada akhirnya hanya akan menjadi korban kapitalisasi yang diciptakan modernisme. Modernisme perlu diimbangi dengan kemampuan dalam menyaring hal yang positif maupun negatif sehingga pada akhirnya mampu membawa kemajuan diri bagi remaja. Namun,sayangnya remaja saat ini minim pengetahuan dan tindakan dalam menyaring perubahan akibat modernitas. Tentunya hal ini sangat berbahaya. Ketika remaja secara aktif mengkonsumsi produk-produk, maka di dalam dirinya akan terjadi transfer nilai baru. Transfer nilai baru tersebut jika tanpa diikuti oleh kemampuan filter diri dari norma sosial yang harusnya dipahami terlebih dahulu oleh remaja terkait, dapat memunculkan terjadinya gejolak nilai sosial. Remaja yang tidak punya kemampuan filter diri tersebut pada akhirnya hanya akan mengikuti sugesti yang ditawarkan oleh produk-produk racikan modernisme. Adanya gejolak nilai ini secara lebih lanjut dapat memicu terjadinya konflik antargenerasi. Golongan Tua kemudian akan melihat bahwa remaja yang hanya menerima modernisme secara mentah-mentah tidak sesuai lagi dengan nilai dan norma sosial. Akan tetapi,remaja yang hanya menerima modernisme secara mentah-mentah pada akhirnya juga bersikeras terhadap apa yang sudah diikutinya. Sehingga kemudian akan terjadi “perang ide”. Konflik antargenerasi tersebut justru dapat semakin memperparah gejolak remaja yang kemudian menjadi bingung identitas mana yang akan di ambilnya, karena akibat lebih lanjut dari “perang ide” tersebut adalah melemahnya norma sosial. Lalu akan timbullah kondisi anomik yang justru akan semakin memparah keadaan.

Proses modernisasi seharusnya diikuti dengan penataan dan penyesuaiaan pranata sosial. Sebagaimana dalam sebuah tatanan sosial setiap masyarakat pasti akan terus berkembang, maka oleh sebab itu seharusnya pranata sosial tidak perlu bersikap konservatif. Pranata sosial lebih baik membuat dirinya lebih fleksibel dengan terus menjalankan proses internalisasi terhadap remaja yang akan menjadi penerus tatanan masyarakat. Pranata sosial tidak perlu melihat modernitas sebagai sebuah ancaman,namun memanfaatkannya untuk memperbaiki kinerja dan kesejahteraan sosial. Jika pranata sosial mau membuka diri tentunya akan terjadi proses tukar menukar nilai dengan modernisme sehingga justru akan semakin memperkaya khasanah lokal setempat. Sehingga akan mendorong menjadi pranata sosial yang kuat dan kompetitif sehingga dapat memberikan pengarahan dan pendidikan sosial yang baik khususnya kepada remaja agar menjadi paham mengenai identitas sosialnya sejak dini. Jika sejak awal remaja telah memahami identitas sosialnya,tentu akan dapat menghindari segala dampak negatif dari dalam maupun luar tatanan masyarakat itu sendiri. Sehingga akan memunculkan remaja-remaja yang kompetitif dan tidak mudah tersugesti oleh produk-produk modernisme. Mungkin remaja-remaja lokal justru akan lebih tertarik memanfaatkan instrumen modernisme untuk mengolah kekayaan setempat. Dengan demikian, kenakalan remaja yang muncul dapat diatasi dan justru mendorong munculnya penyelesaian masalah yang konstruktif.

(Anggalih Bayu Muh Kamim, Mahasiswa Departemen Politik dan Pemerintahan UGM)
____________________
Gambar: panjimas.com