Terbaru

Contributors

Korupsi dan Kemaduraan Kita


Hari-hari ini, masyarakat Madura tengah riuh dengan ditangkapnya sejumlah petinggi Pemkab Pamekasan. Orang nomor satu berikut jajaran anak buahnya telah diamankan petugas setelah aksi bejatnya dipergoki KPK. Bahkan, bila penyidikan terus berlanjut, bukan tidak mungkin akan lebih banyak pejabat yang tertangkap. Apalagi selama ini, KPK memang terkenal sebagai lembaga paling ‘angker’ dalam menangani suatu kasus. Sekali tertangkap, sulit seorang tersangka bisa bebas.

Ini bukan kali pertama di Madura, sekitar dua tahun lalu mantan Bupati Bangkalan juga mengalami nasib serupa. Beliau bukan orang sembarangan, di ranah birokrasi beliau pernah menjabat bupati dua periode dan saat digelandang KPK sedang  mengomandani DPRD. Nasabnya juga mulia karena terhubung dengan seorang syekh yang mulia. Namun, segala pangkat dan kehormatan itu tak membuatnya terhindar dari amukan KPK. Sekarang beliau telah dinyatakan bersalah dan mendekam di balik jeruji penjara.

Dua kejadian tersebut membuat saya menitikkan air mata antara haru dan sedih. Sebagai warga Negara Indonesia, siapa yang tak salut melihat kinerja dari komisi antirasuah itu. Meski masih seumur jagung, prestasi KPK amat gemilang ketimbang lembaga penegak hukum lain. Keberaniannya mengusut kasus korupsi, suap, gratifikasi, dan konco-konco-nya telah menyeret sejumlah pejabat dan tokoh penting ke dalam pengapnya bui.

KPK juga tak hanya bermain di titik elit Ibu Kota. Sekalipun tak punya cabang di daerah, ‘indera penciumannya’ cukup tajam untuk mengendus kasus korupsi hingga level bawah. Sudah banyak kepala daerah maupun stafnya yang diseragam-oranyekan KPK. Bahkan menariknya yang terjadi di Pamekasan, bukan hanya bupati saja, kepala desanya pun juga ikut diciduk. Bila seperti ini terus, bukan tidak mungkin cita-cita Indonesia bebas korupsi akan segera tercapai.

Namun di sisi lain, saya juga merasa sedih. Blusukan KPK ke Bangkalan dan Pamekasan hanyalah seri pembuka dari serangkaian seri lain yang bisa terjadi suatu saat nanti. Sumenep dan Sampang bisa jadi adalah tuan rumah putaran selanjutnya. Satu per satu pejabat di Madura akan diangkut ke penjara KPK. Dan bila itu betul-betul terjadi, kemaduraan kita akan tercoreng. Kita akan menjadi suku bangsa yang paling malu di negeri ini.

Selama ini, Madura terkenal sebagai orang yang agamis. Mayoritas penduduknya beragama Islam. Lembaga pendidikan tersebar di mana-mana. Birokrasinya, baik eksekutif maupun legislatif, dikuasai orang yang pemahaman keagamaannya tak lagi diragukan. Sebagian besar bertitel Kyai, Haji, atau setidak-tidaknya pernah nyantri. Maka, alangkah lucunya bila dari latar belakang keagamaan yang mapan justru lahir manusia-manusia yang tak lagi tahu aturan.

Selain itu, kita juga dikenal memiliki jiwa pemberani dan memiliki solidaritas. Carok dan celurit telah begitu khas dengan kita melebihi khasnya makanan tradisional seperti campor dan nase’ sabbrang bahkan marongghi sekalipun. Solidaritasnya juga tak diragukan. Bahkan, ada sebuah adagium mengatakan, “Bagi orang Madura (utamanya di perantauan), jangankan benar, salah pun akan tetap dibela.”

Namun dengan datangnya KPK, dua ciri kemaduraan kita di atas patut disangsikan. Para tersangka yang dibawa komisi anti-rasuah itu ternyata tak sedikit yang berasal dari golongan cendekia. Sebagian adalah tokoh dengan latar belakang keagamaan yang kuat. Padahal, sejatinya merekalah yang mesti memberikan contoh perihal bagaimana menjadi pejabat yang baik.

Selain itu, jiwa keberanian kita juga telah mengendor. Kita tak lagi seberani Sakera dan para pejuang lain yang dengan tegas menolak segala iming-iming dan kompromi. Rasa solidaritas yang dulu dimiliki pun ikut memudar. Buktinya, setelah tertangkapnya Bupati Pamekasan, media di Madura malah mengeksposnya besar-besaran. Yang lebih memprihatinkan, ada sekelompok orang yang justru menginginkan tokoh bupati dan wakil rakyat asal Madura segera ditangkap KPK. Padahal saat warga Madura dinyatakan korupsi, ada arang yang tertoreh ke muka kita. Sebab identitas kemaduraan kita dianggap bualan belaka.


(Ach. Khalilurrahman, warga Madura)
_____________
Gambar: rri.co.id